The Jakarta Globe: Mati untuk Lahir Kembali

12

Artikel perpisahan di edisi cetak terakhir The Jakarta Globe (15 Desember 2015).

Jumat, 21 September 2012.

Saat Isya, kerjaan saya beres. Semua tulisan sudah disetor. Saya matikan laptop dan segera menyambangi meja para redaktur di barisan tengah. Seingat saya, cuma ada Mba Febriamy Hutapea di sana.

“Mba, saya mau pamit.”

Itu hari terakhir dari masa dua bulan saya kerja magang di The Jakarta Globe. Selama itu, saya kerap dibimbing oleh tiga redaktur. Selain Mba Febri, ada pula Mas Heru Andriyanto dan Mas Faisal Baskoro.

“Nanti kalau saya sudah lulus kuliah, boleh kerja di sini lagi, Mba?”

“Boleh. Tapi kalau masih ada ya.”

Mba Febri cengengesan. Wagu, saya ikut cengengesan.

Selama magang di sana, saya memang dengar banyak selentingan. Katanya, kantor bleeding karena ongkos produksi membengkak, terutama sejak hadirnya Beritasatu TV. Katanya, The Jakarta Globe kelewat jor-joran di awal, salah satunya dengan menggaji selangit para reporternya. Katanya, terjadi pengetatan sehingga banyak staf pergi.

Sebagai anak magang bau kencur yang masuk kerja hanya dengan imbalan akses wifi di ruang redaksi, saya cuma bisa manggut-manggut tiap kali ada yang cerita seperti itu.

Namun saat itu, tanda-tanda penghematan memang sudah terlihat di sana-sini. The Jakarta Globe terbit perdana pada 12 November 2008 dengan format broadsheet. Mulai 3 Mei 2012, kurang lebih tiga bulan sebelum saya magang di sana, ia berubah bentuk jadi tabloid. Alasannya, agar pembaca lebih mudah menentengnya ke mana-mana dan mempercantik sisi visualnya.

Perlahan, beberapa wartawan dan fotografer senior mulai hengkang. Alhasil, artikel dan foto dari kantor berita asing kian hari kian dominan mengisi beberapa rubrik.

Puncaknya, The Jakarta Globe edisi cetak mengumumkan perpisahannya pada Selasa, 15 Desember 2015. Dalam sebuah artikel di terbitan terakhirnya berjudul “Lippo Readies $65m for All-Digital Jakarta Globe”, disebutkan bahwa pertumbuhan pesat internet jadi pemicu utama terjadinya migrasi digital.

“Dengan lebih dari 100 juta orang Indonesia diperkirakan akan terkoneksi pada 2020, strategi digital BSMH (BeritaSatu Media Holdings) akan mampu meraih 10 juta pembaca di pasar dalam kurun enam tahun.”

Memang, pertumbuhan internet memicu banjir informasi dalam kehidupan masyarakat. Imbasnya, sebuah artikel di media daring pun dapat tersebar dari Sabang sampai Merauke dalam waktu hitungan detik saja. Itulah yang melemahkan posisi media cetak dari sisi distribusi. Namun, dari sekian puluh juta pengguna internet di Indonesia saat ini, berapa banyak yang sudah melek bahasa Inggris?

Lembaga pendidikan bahasa Inggris, English First, sempat merilis laporan soal indeks kemampuan berbahasa Inggris (EF EPI) di negara-negara dari berbagai penjuru dunia. Penduduk di negara-negara dalam daftar tersebut tidak menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa utamanya.

Pada 2015, Indonesia ada di posisi 32 dari 70 negara dengan status “menengah”. Ini lebih baik dibanding 2011. Saat itu Indonesia ada di posisi 34 dari 44 negara dengan status “sangat rendah”.

Tapi apakah “menengah” saja sudah cukup untuk mengisi ceruk pasar The Jakarta Globe?

Saya tertarik melakukan hitung-hitungan bodoh. Menurut data dari situs Alexa, tiga media daring yang paling ramai dikunjungi kini adalah Detik.com, Liputan6.com, dan Kompas.com. Masing-masing tentu menggunakan media sosial sebagai salah satu jurus promosi. Mari kita bandingkan satu per satu.

Di ranah Facebook, ada 6,6 juta orang yang menyukai dan mengikuti laman resmi Kompas.com, 5,7 juta untuk Liputan6.com dan 1 juta untuk Detik.com. Sementara itu, The Jakarta Globe hanya mampu meraih 385 ribu orang.

Di Twitter, kondisinya sedikit berbeda. Ada 11,6 juta orang yang mengikuti Detik.com, 4,89 juta untuk Kompas.com, dan 2,31 juta untuk Liputan6.com. Sementara itu, The Jakarta Globe hanya mampu meraih 407 ribu orang.

Masalahnya satu, The Jakarta Globe adalah media berbahasa Inggris. Mereka perlu pembaca yang mengerti bahasa Inggris pula.

Sementara itu, mereka pun mesti bersaing dengan The Jakarta Post yang lebih stabil dalam menggaet konsumen dari kalangan ekspatriat di Indonesia ataupun pembaca asing di luar negeri.

Menarik untuk melihat strategi digital The Jakarta Globe untuk meraih target pembacanya pada 2020 mendatang. Apakah mereka akan bertahan, atau sekadar meramaikan sesaat panggung pertempuran yang sudah kelewat sesak?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s