Babad Mourinho: Achilles dari Setúbal

Jose-Mourinho-chelsea

Jose Mourinho/chelseafconline.com

Jose Mourinho memang bukan orang biasa. Ia adalah manajer sepak bola yang bisa bicara lima bahasa. Pemahaman taktik dan kepercayaan dirinya tinggi. Ia pun telah meraih sukses di empat negara berbeda. Kariernya cemerlang. Sayang, egonya menjulang. Sejarah mencatat, awal mula kejatuhannya dimulai karena perseteruan dengan seorang perempuan.

Membicarakan Mourinho, berarti membicarakan kisah suksesnya yang melegenda. Ia rajin memancing kontroversi, tapi tak ada yang menyangkal bahwa ia bergelimang trofi. Ia lahir di Setúbal, tapi kegemilangannya justru mencuat pertama kali di Porto.

Di usia ke-40, Mourinho tiba-tiba saja jadi perbincangan hangat setelah berhasil membawa klub sepak bola Porto meraih treble dengan menjuarai tiga ajang sekaligus di akhir musim 2002/2003: Liga Portugal, Piala Portugal, dan Piala UEFA.

Orang yang tak percaya bisa menyebutnya sebagai keberuntungan pemula. Namun dengan enteng Mourinho menjawab keraguan itu setahun berselang dengan raihan lebih prestisius: trofi Liga Champions. Segera, Mourinho jadi properti panas di kancah sepak bola Eropa.

Ia bagai Achilles, kesatria gagah dalam mitologi Yunani yang mampu melibas siapa saja yang mengadang di tengah jalan. Kehebatan Achilles juga tertuang dalam film Troy yang dirilis pada 2004. Di awal film, dengan mudah Achilles membunuh Boagrius, prajurit raksasa dari Thessaly, dengan satu tusukan pedang ke bahu kirinya. Setelahnya, Achilles pun setuju terlibat dalam Perang Troya setelah mendengar rayuan Odysseus, Raja Ithaka.

“Perang ini tak akan terlupakan, juga para pahlawan yang bertempur di dalamnya,” kata Odysseus.

Alhasil, Achilles berusaha mengesampingkan rasa tak senangnya pada Agamemnon, Raja Mykenai nan culas dan ambisius. Ia ikut berangkat bersama pasukan yang dikumpulkan Agamemnon dari seluruh penjuru Yunani untuk merebut Troya. Achilles mengincar kejayaan. Ia ingin namanya terus dikenang sebagai prajurit terhebat dalam sejarah pertempuran tersebut.

Begitu juga dengan Mourinho. Setelah sukses di Porto, ia hijrah ke London untuk menangani tim kaya baru bernama Chelsea. Di sana, ia menggantikan posisi Claudio Ranieri. Selama empat musim di Chelsea, Ranieri sesungguhnya cukup berhasil membangun ulang tim dengan dana terbatas hingga jadi penantang serius untuk masuk ke zona Eropa di papan klasemen liga. Ia pula yang mendatangkan Frank Lampard dan mengorbitkan John Terry. Keduanya kemudian sukses jadi tulang punggung tim untuk belasan tahun lamanya.

Namun, kondisi berubah kala Chelsea dibeli oleh miliarder asal Rusia, Roman Abramovich, pada pertengahan 2003. Dengan pasokan dana berlimpah, Ranieri diharapkan mampu segera meraih prestasi. Setelah “hanya” mampu membawa tim menjadi runner-up Liga Inggris dan menembus semifinal Liga Champions pada musim 2003/2004, Ranieri pun didepak. Penunjukan Mourinho diharapkan mampu mendatangkan kesuksesan instan.

“Jika ingin berlindung dalam sebuah pekerjaan yang tenang, saya bisa memilih untuk tetap bertahan bersama Porto. Saya bisa jadi yang kedua, setelah Tuhan, di mata para pendukung, bahkan bila saya tak pernah lagi bisa memenangkan sesuatu,” kata Mourinho.

“Tolong jangan menyebut saya arogan, tapi saya adalah juara Eropa, dan saya rasa, saya adalah seseorang yang istimewa (special one).”

Terlihat, bagaimana Mourinho memandang tinggi dirinya sendiri. Ia percaya, sudah sepantasnya namanya tercatat dalam sejarah sebagai salah satu pelatih sepak bola terhebat di dunia. Ia mengincar kejayaan, dan Chelsea adalah kendaraan yang tepat. Mereka adalah kekuatan baru di Eropa dengan pemilik yang sangat ambisius, seperti pasukan Yunani di bawah kekuasaan Agamemnon.

Maka, dimulailah petualangan Mourinho untuk menaklukkan “Troya”. Mulanya berjalan mudah, malah terlihat seperti main-main. Chelsea dibawanya menjuarai Piala Liga dan Liga Inggris pada musim 2004/2005. Sejumlah rekor mengikuti, entah jumlah poin terbanyak (95) atau jumlah kemasukan gol paling sedikit (15) di liga. Itu bisa diraih Mourinho juga dengan bantuan “tim sukses” yang dibawanya dari Porto. Sebut saja asisten manajer Baltemar Brito, pelatih kebugaran Rui Faria, staf analisis kekuatan dan kelemahan lawan Andre Villas-Boas, serta pelatih kiper Silvino Louro.

Dua musim kemudian, Chelsea masih perkasa di bawah kendali Mourinho. Mereka sukses meraih masing-masing satu trofi Piala Liga, Piala FA dan Liga Inggris. Namun, bibit perpecahan mulai muncul di antara Mourinho dan Abramovich.

Pertama, soal kebijakan transfer dan pemilihan pemain. Salah satunya adalah pembelian gagal Andriy Shevchenko seharga lebih dari 30 juta poundsterling. Walau Shevchenko tak kunjung unjuk gigi di Chelsea, kabarnya Abramovich tetap memaksa Mourinho untuk terus memainkan striker favoritnya tersebut. Namun pada laga semifinal Liga Champions 2006/2007 melawan Liverpool di Anfield, Mourinho bahkan tak memasukkan nama Shevchenko ke dalam daftar pemain cadangan.

Kedua, Mourinho menentang penunjukan Avram Grant sebagai direktur sepak bola dalam klub. Secara umum, jabatan direktur sepak bola biasanya bertugas menjembatani manajer dengan dewan direksi. Ia juga mesti mengurus hal-hal teknis di luar lapangan agar sang manajer bisa fokus mengurus pemain di lapangan. Karena itu, wajar bila Mourinho menginginkan sosok yang lebih ia percaya secara pribadi untuk menjabat sebagai direktur sepak bola di Chelsea. Namun, Abramovich bergeming.

Satu lagi, Mourinho tak kunjung berhasil membawa trofi Liga Champions ke Stamford Bridge, hal yang begitu didambakan Abramovich. Maka, setelah Chelsea gagal mengalahkan Rosenborg di fase awal Liga Champions 2007/2008, Mourinho dipecat.

60-mourinhodest-gt

Jose Mourinho dan Roman Abramovich/Independent.co.uk

Di sisi lain, Achilles pun meninggalkan kesan pertama yang gemilang di awal Perang Troya. Sesaat sebelum seluruh pasukan Yunani tiba di pantai Troya, Achilles bersama sekitar 50 prajuritnya yang setia dari Myrmidon sengaja mendahului, mengabaikan perintah Agamemnon. Dengan pasukan kecil itu, Achilles sukses merebut pantai dan memukul balik tentara Troya.

Sontak, Agamemnon kian gusar dengan tingkah Achilles yang seenaknya. Ia menolak memberi kredit pada Achilles atas kemenangan mereka di pantai Troya.

“Raja tidak berlutut di hadapan Achilles. Raja tidak memberi penghormatan pada Achilles,” tegas Agamemnon. “Sejarah mencatat para raja, bukan prajuritnya!”

Tersinggung, Achilles mogok dari pertempuran. Dalam perang terbuka, pasukan yang dipimpin Hector, Pangeran Troya, sukses memukul mundur pasukan Agamemnon. Di sisi lain, Achilles justru menjalin romansa dengan Briseis, sepupu Hector yang jadi tawanan setelah penyerbuan pantai Troya. Ia pun semakin kehilangan semangat untuk berperang.

Pasukan Troya bermaksud menghabisi pasukan Yunani dengan melakukan serangan mendadak ke pantai. Dalam prosesnya, para prajurit Myrmidon ikut bertempur di bawah pimpinan Patroclus, sepupu Achilles. Patroclus sengaja mengenakan seragam perang Achilles dan maju ke medan perang untuk meningkatkan semangat juang pasukan Yunani.

Patroclus memang sembrono. Selama ini ia dilatih bermain pedang langsung oleh Achilles. Namun Achilles sendiri merasa sepupunya itu belum siap terjun dalam pertempuran sesungguhnya. Benar saja, saat itu Patroclus justru tewas di tangan Hector.

Dalam kisah Mourinho, muncul pula Patroclus dalam diri André Villas-Boas. Pada usia 25, Villas-Boas telah menjadi staf Mourinho di Porto yang bertugas memata-matai serta menganalisis kekuatan dan kelemahan lawan. Mourinho terkesan dengan ketelitian Villas-Boas hingga terus mengajaknya bekerja sama saat ia hijrah ke Chelsea dan Inter Milan.

Pada pertengahan 2009, Villas-Boas meninggalkan Mourinho untuk bekerja sebagai manajer Academica. Setahun berselang, ia telah ditunjuk untuk menangani Porto. Hasilnya memuaskan. Seperti Mourinho, Villas-Boas sukses meraih treble dengan menjuarai tiga ajang sekaligus di akhir musim 2010/2011: Liga Portugal, Piala Portugal, dan Liga Europa. Di usia ke-33, ia jadi manajer termuda yang pernah menjuarai kompetisi Eropa.

Kesuksesan itu memberi Villas-Boas tiket untuk melatih Chelsea pada musim 2011/2012. Sejak kepergian Mourinho, Chelsea tak kunjung stabil dan kerap gonta-ganti manajer. Tercatat, ada empat manajer dalam empat musim perjalanan Chelsea sebelum kedatangan Villas-Boas; dari Avram Grant, Luiz Felipe Scolari, Guus Hiddink, hingga Carlo Ancelotti. Walau begitu, dalam kurun waktu tersebut mereka masih mampu meraih satu gelar Liga Inggris dan dua Piala FA.

Villas-Boas didatangkan dengan harapan bisa membawa kejayaan yang sama, atau bahkan lebih dibanding era Mourinho dulu. Namun, nyatanya ia hanya “numpang lewat” di Chelsea. Ia justru kerap tumbang kala melakoni laga krusial melawan tim-tim besar di liga, entah Manchester United (1-3), Arsenal (3-5), Liverpool (1-2) dan Manchester City (1-2). Semua terjadi pada paruh pertama musim 2011/2012.

Mereka bahkan kalah 1-3 dari Napoli pada pertemuan pertama babak 16 besar Liga Champions. Saat itu, Villas-Boas mencadangkan Frank Lampard, Michael Essien, dan Ashley Cole. Sebelumnya, dikabarkan para pemain senior memprotes pemilihan taktik Villas-Boas langsung pada Abramovich. Tak lama, sang manajer pun dipecat. Pengganti sementara, Roberto Di Matteo, justru berhasil membawa Chelsea jadi juara Piala FA dan Liga Champions untuk pertama kalinya dalam sejarah klub.

Itulah titik balik yang “membunuh” karier Villas-Boas dan membuatnya kini menyepi di Rusia sebagai manajer Zenit Saint Petersburg. Ternyata, ia terlalu cepat masuk ke panggung utama setelah berguru dari Mourinho.

Jos--Mourinho-and-Andr--V-014

Jose Mourinho dan Andre Villas-Boas/Theguardian.com

Kematian Patroclus membuat Achilles gusar dan menantang Hector untuk bertarung satu lawan satu. Hector kewalahan, lalu mati di tangan Achilles. Ini membuat posisi Agamemnon berbalik jadi di atas angin. Moral pasukan Yunani terangkat dan mereka siap kembali melakukan perlawanan.

Kembalinya Mourinho ke “medan perang” juga membawa euforia bagi penggemar Chelsea. Ia dirasa mampu menyelematkan tim dari situasi amburadul setelah sesaat dipegang Rafael Benitez. Namun, prosesnya tak instan. Chelsea nihil gelar di musim pertama dari periode kedua Mourinho.

Semua berubah setahun berselang. Mourinho merekrut Cesc Fabregas dan Diego Costa, yang kemudian jadi motor permainan tim sepanjang musim 2014/2015. Di saat yang sama, Frank Lampard, Ashley Cole dan David Luiz dilepas demi proses regenerasi. Hasilnya, Chelsea berhasil menjuarai Liga Inggris dan Piala Liga.

Dengan modal tersebut, penggemar Chelsea menatap optimis datangnya musim 2015/2016. Kepergian Petr Cech ke Arsenal sempat membawa duka, tapi kehadiran kiper muda asal Belgia, Thibaut Courtois, dirasa cukup untuk menambal lubang di bawah mistar gawang.

Namun, yang terjadi benar-benar di luar perkiraan.

Di laga pembuka Liga Inggris, Chelsea ditahan imbang 2-2 oleh Swansea City di kandang sendiri. Bukan hanya Chelsea gagal mengamankan tiga poin, dua insiden lain mewarnai pertandingan tersebut. Pertama, kala Courtois mendapat kartu merah setelah menjegal Bafetimbi Gomis di kotak terlarang. Gomis pun berhasil mencetak gol dari titik putih. Kedua, saat Mourinho mengamuk pada tim medis Chelsea setelah mereka berinisiatif melakukan perawatan pada Eden Hazard di menit ketiga masa perpanjangan waktu babak kedua.

“Anda harus tahu saat Anda telah kehilangan satu pemain dan Anda masuk ke lapangan untuk menolong seorang pemain, Anda harus yakin bahwa pemain tersebut mengalami cedera serius,” ujar Mourinho geram.

“Saya yakin dia (Hazard) tak mengalami masalah serius. Dia mendapat benturan, dia sangat kelelahan. Namun tim medis saya, secara impulsif, bertindak naif dan membuat saya hanya memiliki delapan pemain lapangan dalam sebuah serangan balik setelah situasi bola mati.”

Sontak, kejadian ini berbuntut panjang. Mourinho menghukum dua stafnya yang “berbaik hati” merawat Hazard, dokter tim Eva Carneiro dan fisioterapis Jon Fearn, dengan melarang mereka kembali mendampingi tim di pinggir lapangan saat pertandingan maupun latihan. Carneiro, yang telah bekerja di Chelsea sejak 2009, memutuskan mundur dari jabatannya pada September 2015. Dari sana, ia justru mendapat banjir simpati dari publik.

Tak hanya itu, kontroversi muncul saat Mourinho diduga melontarkan pernyataan seksis sesaat setelah melihat Carneiro beraksi masuk ke lapangan. Diduga, Mourinho memaki “filha da puta”, kalimat dalam bahasa Portugis yang berarti “anak pelacur”. Tuduhan ini tak terbukti dan FA urung mengambil tindakan lebih lanjut untuk menghukum Mourinho. Namun, reputasi Mourinho kian jatuh karenanya.

pg-62-chelsea-1-rex

Eva Carneiro dan Jose Mourinho/Independent.co.uk

Bersamaan dengan itu, kinerja Chelsea sebagai sebuah tim sepak bola tiba-tiba mulai menurun drastis. Faktanya, hingga awal November 2015 mereka telah menjalani awal musim terburuk dalam 42 tahun terakhir. Mereka hanya mampu meraih 11 poin dari 12 pertandingan, hasil dari tiga kemenangan, dua seri, dan tujuh kekalahan.

Mourinho ada di ujung tanduk. Bahkan sedari awal berkarier sebagai manajer di Benfica pada 2000, ia tak pernah merasakan rentetan hasil buruk separah ini. Mourinho menimba ilmu dari para pelatih juara seperti Bobby Robson dan Louis van Gaal di tim-tim besar seperti Sporting, Porto, dan Barcelona. Ia mencuat sebagai pemenang dengan mengajarkan para pemainnya cara pohon kelapa tetap berdiri kokoh di tengah terpaan badai. Ia tak pernah tahu cara pohon bakau tumbuh di atas lumpur. Dengan kata lain, cara membangkitkan klub yang sedang terpuruk di papan bawah klasemen.

Di belahan lain Inggris, ada seorang pelatih senior yang justru paham betul akan hal tersebut: Claudio Ranieri.

Di awal musim 2015/2016, Ranieri kembali ke Inggris untuk membesut Leicester City, tim yang di musim sebelumnya hanya mampu duduk di peringkat 14 klasemen liga. Sepanjang kariernya, Ranieri dikenal sebagai penyelamat tim dari keterpurukan, tapi bukan pemenang sejati. Ia sempat sukses mengangkat performa Chelsea, Valencia, Juventus, AS Roma dan juga AS Monaco. Namun ketika sudah saatnya mereka unjuk gigi sebagai penantang serius gelar juara, Ranieri gagal.

“Ranieri punya mentalitas seseorang yang merasa tak butuh kemenangan,” komentar Mourinho soal posisi Ranieri sebagai pelatih Juventus pada 2008. “Dia terlalu tua untuk mengubah mentalitasnya. Dia sudah tua dan belum juga memenangkan apa pun.”

Namun, Ranieri membalas dengan manis di saat paling menyakitkan bagi Mourinho. Di tangannya, Leicester mendadak jadi tim tangguh pemuncak klasemen. Di tangannya, Leicester sukses menaklukkan Chelsea 2-1 pada pekan ke-16 Liga Inggris. Hasil yang membuat Chelsea kembali terperosok hingga hanya terpisah satu poin dari zona degradasi, dan memaksa Abramovich kembali memecat Mourinho.

Di sini, Ranieri bertindak sebagai Paris dalam epos Perang Troya. Paris adalah adik Hector yang digambarkan sebagai sosok pengecut dan kurang andal dalam pertarungan satu lawan satu. Paris pula yang memancing kemarahan Menelaus dengan merebut istrinya, Helen, secara diam-diam. Agamemnon, kakak Menelaus, jadi kian bersemangat untuk menyerang Troya karena Paris telah melecehkan kehormatan adiknya.

Dalam perang akbar tersebut, pasukan Yunani akhirnya berhasil masuk ke kota Troya dengan cara bersembunyi di dalam sebuah patung kuda raksasa. Di tengah malam, pasukan Yunani bergerilya membakar kota dan membunuh warga. Harusnya, itu jadi kemenangan sempurna.

Tak disangka, di sana Paris justru sukses menaklukkan Achilles. Ia menembakkan panah ke bagian terlemah dari tubuh Achilles: tumit. Saat gerakan Achilles melambat, Paris terus menghujani tubuhnya dengan panah. Achilles pun tewas tak berdaya.

Itu bisa terjadi juga karena konsentrasi Achilles terpecah saat sedang melindungi Briseis. Kemampuan Achilles untuk membinasakan lawan tak masimal kala seorang perempuan masuk dalam kehidupannya.

Akhir kata, kisah Mourinho pun berakhir tragis di Chelsea setelah Eva Carneiro masuk mengusik kehidupan pribadinya. Di tengah perjalanan buruk tim, pukulan pamungkas datang dari orang yang tak disangka. Orang yang selama ini dianggap Mourinho sebagai “figuran” dunia sepak bola: Ranieri.

2220

Claudio Ranieri tertawa di depan Jose Mourinho/Theguardian.com

Jose Mourinho memang bukan orang biasa. Ia adalah manajer sepak bola yang bisa bicara lima bahasa. Pemahaman taktik dan kepercayaan dirinya tinggi. Ia pun telah meraih sukses di empat negara berbeda. Kariernya cemerlang. Sayang, egonya menjulang. Sejarah mencatat, awal mula kejatuhannya dimulai karena perseteruan dengan seorang perempuan.

 

NB: Tulisan ini pertama dimuat di media online Pandit Football pada 25 Desember 2015.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s