Bukan untuk Dikasihani

People-With-Disability

Ilustrasi/lifehacker.com.au

Rezky Yami Putri, 27 tahun, sudah biasa dicemooh. Ia terlahir cacat; lengan kirinya buntung tanpa pergelangan dan jari. Namun, orangtuanya selalu menguatkan hati. Hingga pada satu titik, ia sadar bahwa cacat fisik bukan pembenaran bagi dirinya untuk dimanja dan dikasihani.

“Dari TK, setiap pulang sekolah saya selalu menangis karena dihina terus. Baru saat kelas 3 SD saya enggak menangis lagi,” kata perempuan asal Bengkulu yang akrab disapa Kiki ini.

“Saya sempat enggak mau sekolah, tapi papa dan mama selalu menyemangati. Mereka bilang, bila saya enggak sekolah saya akan semakin dihina orang.”

Masuk SMA, gejolak itu muncul lagi. Emosi Kiki kerap labil hingga ia terus menangis tiap kali orang-orang merendahkan atau mengucilkannya. Namun, perlahan ia berdamai dengan diri sendiri dan mencoba untuk tak peduli. Hidup harus terus berlanjut.

Lantas Kiki masuk ke Universitas Ratu Samban di Bengkulu Utara mengambil jurusan kesehatan masyarakat. Selesai kuliah, ia sempat menjajal kerja di bagian marketing Honda cabang Bengkulu sebelum memutuskan untuk merantau ke Tangerang, berjuang mencari penghidupan lebih baik untuk membantu orangtua.

“Dulu sempat juga melamar di sebuah perusahaan, tapi karena kondisi saya yang ‘kurang’ seperti ini, akhirnya enggak diterima,” kata Kiki.

“Padahal sebenarnya di dalam undang-undang kan disebutkan ada kuota untuk mempekerjakan penyandang disabilitas, tapi itu tak pernah benar-benar direalisasikan sehingga banyak teman-teman yang mesti menggelandang.”

Menurut data International Labor Organization (ILO), kini ada setidaknya 38 juta penyandang disabilitas di Indonesia yang masih kerap menemui tantangan secara sikap, fisik dan informasi dalam hal kesetaraan di dunia kerja.

Padahal, Indonesia punya UU nomor 4/1997 tentang penyandang cacat yang mengakui hak atas pendidikan, pekerjaan dan penghidupan layak bagi para penyandang disabilitas. Namun, di sana tak dibahas soal hak untuk bebas dari segala bentuk diskriminasi dan eksploitasi.

Kemajuan baru muncul selewat satu dekade kala Indonesia ikut menandatangani konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengenai hak-hak penyandang disabilitas pada 2007. Meski begitu, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) baru meratifikasinya empat tahun berselang. UU nomor 4/1997 pun baru disahkan revisinya pada Maret 2016.

Revisi itu mengatur pembentukan Komisi Nasional Disabilitas (KND) yang bakal memantau implementasi UU tersebut ke depannya. Di sisi lain, Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) wajib menyediakan kuota 2 persen bagi penyandang disabilitas dalam rekrutmen karyawannya. Sementara itu, perusahaan swasta wajib menyiapkan kuota 1 persen.

Kemudian, siapa pun yang diketahui melanggar hak para penyandang disabilitas akan dikenakan hukuman penjara antara dua hingga lima tahun, serta denda sebesar Rp 200 juta hingga Rp 500 juta.

Kini, nasib Kiki dan teman-teman seperjuangan lebih terjamin di masyarakat. Perjuangannya tak sia-sia. Sejak Februari 2015 ia bergabung dengan Balai Besar Rehabilitasi Vokasional Bina Daksa di Cibinong, Jawa Barat. Di sana, para penyandang disabilitas bisa menemui beragam pelatihan seperti penjahitan, desain grafis dan komputer, sembari dipersiapkan mentalnya sebelum masuk ke dunia kerja.

Masalah mental memang bisa jadi begitu pelik. Puspadi Bali, lembaga untuk memberdayakan para penyandang disabilitas di Bali, punya pengalaman soal ini. Pada 2009, mereka berhasil menyalurkan 38 penyandang disabilitas untuk bekerja di berbagai hotel di Bali. Namun selewat dua minggu setelah penempatan kerja, seluruh penyandang disabilitas tersebut mengundurkan diri.

“Masalahnya ada di budaya kerja. Mereka begitu kaget saat harus mengikuti peraturan perusahaan dan jam kerja yang ada,” kata Direktur Puspadi Bali I Nengah Latra. “Mereka sudah dimanjakan oleh keluarga, dimanjakan oleh situasi, dan tidak disiapkan untuk bekerja.”

Julian Sulistianto, 24 tahun, teman seperjuangan Kiki di balai pelatihan di Cibinong, sempat merasakan hal serupa. Selama ini ia hidup dengan penyakit “tulang kaca” yang membuat tulangnya rapuh dan rentan patah. Karena itu, ia mesti beraktivitas menggunakan kursi roda dalam keseharian. Selain itu, pertumbuhannya pun terhambat hingga badannya terlihat seperti anak kecil.

Dengan kondisi tersebut, Julian kadung nyaman mendapat bantuan dari orang-orang sekitar. Namun setelah masuk ke balai, ia dibiasakan untuk berdisiplin, dari bangun pagi hingga mencuci baju sendiri.

“Dulu ke mana-mana saya maunya digendong karena malas harus merangkak. Sekarang dengan banyak bergaul, saya mau merangkak juga santai saja. Memang saya seperti ini. Kalau tidak suka ya biarkan saja. Yang penting saya enggak mengganggu,” ujar Julian.

Dengan diperlakukan sama layaknya orang biasa, perlahan ia mampu berdamai dengan diri sendiri.

“Tantangan utama bagi para penyandang disabilitas adalah untuk menerima dirinya sendiri. Kekurangan kita memang enggak bisa diapa-apakan lagi. Kita harus bisa mengatasi masalah dengan kekurangan kita ini,” kata Julian.

Kiki pun berpikiran serupa. Ia tak mau dikasihani atau diperlakukan berbeda. “Saya mau buktikan, walau secara fisik saya kurang, tapi saya bisa berdiri sendiri,” ujar Kiki.

Pada September 2015, Kiki dan Julian mencoba peruntungan dengan mendaftar kerja di Bank Mandiri. Bersama delapan penyandang disabilitas lainnya, mereka kemudian diterima di bagian call center bank milik pemerintah tersebut, tepatnya di gedung Disaster Recovery Center Bank Mandiri di Rempoa, Jakarta Selatan.

Selama lebih dari setengah tahun bekerja di sana, Kiki dan Julian tak menemui hambatan berarti dan merasa dapat diterima dengan baik. Walau begitu, para orangtua masing-masing sempat tak percaya dengan keberhasilan Kiki dan Julian.

“Setelah menikmati gaji pertama, saat itu juga saya langsung kirim uangnya ke orangtua. Baru mereka percaya saya kerja di Bank Mandiri,” ujar Kiki.

“Orangtua saya senang banget sampai foto saya disebarluaskan ke teman-temannya sambil bilang saya sekarang kerja di Bank Mandiri,” kata Julian sembari terbahak.

Menurut studi ILO, pekerja penyandang disabilitas justru cenderung lebih rajin dibanding para pekerja biasa. Mereka juga dianggap dapat menaikkan moral pekerja di sekitarnya. Selain itu, keberadaan mereka bisa meningkatkan kualitas pelayanan terhadap kostumer yang juga penyandang disabilitas.

I Aminarti Widiarti, wakil presiden divisi corporate culture Bank Mandiri, setuju dengan hal ini. Bahkan, melihat kesuksesan perusahaannya mempekerjakan 10 penyandang disabilitas tersebut, ia berencana merekrut lebih banyak penyandang disabilitas ke depannya dengan cakupan lebih luas. Kini seluruh penyandang disabilitas yang bekerja di sana memang hanya dari kelompok tuna daksa. Rencananya, ia akan merekrut pula pekerja dari kelompok tuna rungu.

“Kami menargetkan akan merekrut 120 hingga 180 penyandang disabilitas pada tahun 2016,” kata Aminarti. “Kami harap, akan ada lebih banyak perusahaan yang menunjukkan kepeduliannya pada para penyandang disabilitas, terutama untuk BUMN.”

Bisa dikatakan, peduli tak berarti sama dengan mengasihani. Para penyandang disabilitas seperti Kiki dan Julian pun dapat membuktikan bahwa mereka mampu menantang dunia dengan segala keterbatasannya.

Akhirnya, semua tergantung pada diri kita sendiri.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s