Racau Balau

Belakangan saya sedang sering sentimental. Banyak hal terjadi dalam beberapa bulan terakhir yang bikin saya bertanya ulang pada diri sendiri, sebenarnya saya mau ngapain sih ke depannya?

Pertama, pada 1 November lalu, tiba-tiba kawan saya Benediktus Krisna kasih kabar kalau ia bakal dipindahtugaskan jadi wartawan harian Kompas cabang Yogyakarta per 3 November sampai batas waktu yang tak ditentukan. Wih, mendadak sekali pikir saya.

Bene adalah sohib saya sejak semester 1 kuliah di Universitas Multimedia Nusantara (UMN), Tangerang. Saat itu, dia adalah satu dari segelintir cowok yang terjebak di kelas Ilkom A angkatan 2009 yang didominasi oleh kaum hawa.

Selain saya dan Bene, ada pula Rafael Miku Beding, Lambertus Guntoro, Silvanus Alvin dan Rhesa Jonathan.

Raff saat ini sudah berkarier di kampung halamannya, Flores, sementara Alvin baru saja berangkat ke Leicester, Inggris, untuk melanjutkan studi S2. Selain itu, selama lebih dari setahun terakhir pun Rhesa telah bekerja di Riau. Otomatis, dari sedikit teman-teman cowok saya di tahun pertama kuliah, tinggal Toro yang kini bekerja di Tangerang yang masih sering saya temui.

1

Toro, Raff, saya dan Bene di tahun pertama kuliah.

Tak hanya mereka sebenarnya. Satu per satu, teman-teman yang dulu pernah begitu dekat dengan saya, teman nongkrong dan bodoh-bodohan bareng selama bertahun-tahun lamanya, semuanya berpencar mengejar impiannya masing-masing.

Sontak, saya merasa tertinggal dengan mereka yang telah mengambil langkah-langkah besar dalam hidupnya tersebut.

Belum lagi, belakangan ini banyak pula teman-teman yang melangsungkan pernikahan. Ada Fachrul Sidiq, teman kantor yang menikah pada September lalu, Stephanie Nursalim, sahabat sejak zaman kuliah, pada akhir Oktober hingga Tommy Salim, karib semasa SMP, pada awal November ini.

Beberapa lainnya juga akan menikah dalam waktu dekat, dari teman kampus Fenny Djaja dan Limia De Sinta di akhir tahun ini, hingga teman eks cub reporter The Jakarta Post Reza Susilo di awal tahun depan.

Bagaimana dengan saya?

Bila ditanya, saya selalu bilang ingin menikah di umur 30-an – kini saya berusia 25. Karena, masih ada begitu banyak hal yang ingin saya lakukan dan capai ke depannya, dari sekolah S2 di luar negeri, menulis buku lagi, mengembangkan Teater KataK, hingga memajukan bisnis kaus saya bareng kawan-kawan.

Di sisi lain, pekerjaan saya di The Jakarta Post juga begitu menyita waktu sehari-hari. Setiap hari rasanya hampir tak ada waktu untuk sekadar bersantai mencari pemenuhan diri. Seharian liputan, malamnya sampai rumah sudah terlalu lelah untuk sekadar membaca novel atau menonton film unduhan.

226

Tanda jadi sebagai wartawan The Jakarta Post.

Oktober kemarin rasanya jadi puncak kelelahan. Setelah saya diangkat sebagai wartawan The Jakarta Post, sepanjang bulan itu saya sempat dinas ke Bali dan Jepang, lalu pentas teater di Lampung dan pergi kondangan Nursalim di Solo.

Akhirnya, saya merasa jadi robot, hidup terjebak pilihan sendiri tanpa ada peluang negosiasi. Kalau sudah begini, saya cuma bisa ketawa miris. Hahahaha.

Belum lagi, mendadak pada 31 Oktober lalu, papa saya masuk ke rumah sakit lagi karena gula darahnya kelewat tinggi. Gejalanya persis sama seperti saat ia dirawat karena penyakit jantung pada 2012 silam. Saya pun tersentak betul saat ini terjadi untuk kedua kalinya.

Saya jadi merasa semakin diburu waktu hingga mesti menyempitkan prioritas dan fokus ke depan. Di antara karier dan asmara, saya pilih karier.

Saya tahu, pilihan ini membawa banyak risiko, utamanya pada hubungan dengan orang-orang terdekat saya selama ini. Tapi, semakin saya ditarik untuk bertahan, semakin keras pula usaha saya untuk melawan.

Karena itu, saya meminta maaf sesungguh hati, sejujur-jujurnya, pada tiap orang yang terkena konsekuensi pilihan-pilihan yang saya buat selama ini.

Saya berjanji, ada waktunya kita akan membangun hubungan dari awal lagi di jalan yang berbeda, di masa yang berbeda.

Sementara ini, kita tempuh dulu apa yang ada di depan mata.

img_0085

You know, Vincent Van Gogh once said, “The fishermen know that the sea is dangerous and the storm terrible, but they have never found these dangers sufficient reason for remaining ashore.”

And I guess, I haven’t found any sufficient reason for remaining ashore in the near future.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s