Karena SBY Cuma Ingin Didengarkan

Susilo Bambang Yudhoyono/BBC

Tahukah Anda cara terbaik menenangkan teman yang dirundung lara? Jadilah pendengar yang baik. Tak usah terlampau banyak menimpali saat dia curhat. Cukup pasang telinga dan nikmati ceritanya.

Maka saat guru besar curhat Indonesia Prof. Dr. Susilo Bambang Yudhoyono alias SBY mulai berkoar-koar di Twitter belakangan ini, saya paham bahwa sesungguhnya ia hanya butuh didengarkan.

Bagaimanapun usaha kita untuk menasihati, menegur, atau menyindirnya rasanya akan sia-sia karena niscaya omongan kita cuma akan masuk kuping kanan, keluar kuping kiri. Justru, semakin kita tekan dia akan semakin menjadi; racauannya bakal kian liar karena ia merasa tak satu pun orang sudi memahami dan berempati.

Lihat saja kompilasi kegundahan SBY hari-hari ini, dari soal Lebaran Kuda, hoax, penyadapan, hingga pertanyaannya soal hak untuk tinggal di negeri ini usai mendapati ratusan orang berunjuk rasa di kediamannya di Kuningan, Jakarta Selatan. Semakin gencar netizen meledek SBY dengan meme, semakin kencang pula curhatannya.

Di sini, sesekali kita mesti belajar untuk melihat dunia dari sisi SBY.

Selama 10 tahun SBY menjabat sebagai Presiden RI, dia telah menelurkan lebih dari 40 lagu yang terangkum dalam lima album musiknya. Nah, polanya sudah jelas bukan? SBY memang se-sensitif itu. Setumpuk masalah bangsa yang tak kunjung bisa dipecahkan akhirnya mendorongnya jadi begitu melankolis. Alih-alih mencari solusi, ia justru memilih untuk jadi musisi.

Di sisi lain, 10 tahun masa SBY berkuasa sebagai presiden mungkin tanpa disadari juga jadi masalah untuknya. Anda pernah dengar soal sindrom Hubris? Sindrom ini biasa menimpa seorang pemimpin yang telah terlampau lama berkuasa dan lahir dari campuran rasa harga diri dan percaya diri yang kelewat tinggi serta ketidakpercayaan – atau bahkan rasa hina – seseorang saat memandang orang-orang lain di sekitarnya.

Beberapa gejala dari sindrom Hubris adalah kecenderungan untuk menggunakan kekuatan yang dimiliki untuk mengglorifikasi diri sendiri, secara obsesif berusaha keras untuk menjaga citra diri, sulit untuk membedakan antara realita dan fiksi, serta kerap mengambil keputusan dengan gegabah dan impulsif.

Singkat kata, sindrom ini berpengaruh besar terhadap penilaian dan pengambilan keputusan seorang pemimpin.

Tak percaya? Lihat saja bagaimana pemerintahan SBY mengeluarkan Permen ESDM No. 1/2014 yang memperpanjang izin ekspor konsentrat untuk Freeport Indonesia hingga 11 Januari 2017 – walau UU No. 4/2009 tentang mineral dan batubara jelas-jelas telah melarang ekspor komoditas terkait. Permen itu keluar pada 11 Januari 2014, sehari jelang larangan ekspor berlaku.

Masih tak percaya? Lihat saja bagaimana di tahun yang sama keluar PP No. 51/2014 yang jadi dasar legalisasi reklamasi Teluk Benoa yang begitu keras ditentang oleh masyarakat Bali.

SBY mengeluarkan beragam jurus mabuk di saat-saat akhirnya berkuasa sebagai presiden.

Dan kini, di tengah masa pensiunnya, SBY kembali berulah, mengeluarkan cuitan demi cuitan di Twitter yang jelas sekali usahanya untuk menarik perhatian publik.

Untuk memahami hal ini, rasanya kita mesti melihat hasil studi Hong Kong Playground Association yang mewawancarai 2.142 pensiunan di Hong Kong sepanjang kurun waktu hampir delapan bulan di 2016.

Hasil studi itu menyebutkan bahwa mayoritas pensiunan yang ada mulanya menikmati waktu-waktu pensiun mereka, entah dengan beristirahat atau duduk-duduk santai, dengan alokasi waktu senggang selama sekiranya delapan jam per hari. Namun selewat satu atau dua tahun, kesehatan jiwa mereka perlahan terganggu.

Wajar saja, mendadak merasa merasa sepi di hari tuanya setelah aktif bekerja selama puluhan tahun sebelum mencapai masa pensiun. Alhasil, banyak kekhawatiran yang timbul di benak pensiunan tersebut, dari soal kematian sanak saudara atau kawan sepermainan hingga pemikiran bahwa mereka tak lagi diakui karena tak lagi punya nilai di tengah masyarakat.

Untuk lebih meyakinkan Anda, saya akan mengutip sebuah studi lain berjudul “The Retirement Syndrome: The Psychology of Letting Go” keluaran sekolah bisnis Insead.

“Waktu pensiun yang kian dekat membuat para pemimpin berusia tua berhadapan dengan sejumlah realita menyakitkan yang datang bersamaan dengan kesadaran untuk merelakan, seperti hilangnya pekerjaan, kemungkinan hilangnya kesehatan dan vitalitas diri, hilangnya sorotan dan kontak publik serta hilangnya pengaruh, kekuasaan, perhatian dan kekaguman. Ditambah lagi, mereka berhadapan dengan prospek menghabiskan waktu di rumah dengan pasangan yang telah menjelma jadi orang asing yang sesungguhnya,” tulis studi itu.

Jadi, wajar bila hari-hari ini ada kecenderungan SBY untuk mencari ulang kekuasaan dengan caranya sendiri. Bila anaknya, Agus Harimurti Yudhoyono, telah disodorkan sebagai calon gubernur DKI Jakarta, bukan tak mungkin nanti sang istri, Ani Yudhoyono – yang tak kalah bapernya itu – didorong jadi calon presiden di 2019.

Maka saat muncul berita SBY hadir dalam kampanye Agus di Stadion Soemantri Brodjonegoro, Kuningan, Jakarta, pada 11 Februari 2017, dan bertanya pada penonton, “Masih kenal saya?” tak usahlah netizen terlampau semangat membuat meme baru untuk menyindirnya.

Apalagi di saat yang sama, SBY juga mengajak penonton bernyanyi, “Tuhan berikanlah aku gubernur yang baik hati, yang mencintai rakyatnya apa adanya.”

Sudah sepantasnya kita tertawa saja. Karena itu hanya tingkah orang tua yang mencoba untuk tetap relevan di dunia yang telah jauh meninggalkannya.

Jakarta, 13 Februari 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s