Dengan TTS, Surat Kabar The New York Times Tetap Bernapas

TTS “Super Mega” The New York Times/NYTimes.com

Di tengah senjakala bisnis media cetak di Amerika Serikat (AS), The New York Times masih mampu menjaga loyalitas pembacanya melalui rubrik teka-teki silang (TTS) yang telah bertahan di koran itu selama lebih dari 75 tahun lamanya.

Pada Minggu, 18 Desember 2016, The New York Times mengejutkan publik dengan menerbitkan TTS raksasa yang menghabiskan dua halaman penuh koran itu dengan nama “Super Mega”. Secara total, ada 728 petunjuk yang diberikan untuk mengisi 2.500 kotak (50 x 50) yang ada di TTS tersebut.

Permainan tebakan raksasa ini sengaja dibuat untuk menandai usia ke-75 rubrik TTS di The New York Times, yang setiap minggunya rutin mendapat 75 hingga 100 kiriman kontribusi dari para pembuat TTS lepas.

Sekiranya, ada 7.000 orang yang berhasil menyelesaikan TTS raksasa itu dan mengirimkan hasilnya ke The New York Times dalam waktu 10 hari. Mereka sukses menemukan kalimat tersembunyi “Necessity is the mother of invention” atau “Kebutuhan adalah sumber penemuan” di tengah ribuan kotak yang ada di sana.

“Pengirim tercepat adalah Trip Payne, pemenang tiga kali kompetisi TTS nasional AS, yang sukses menyelesaikan TTS raksasa itu dalam waktu 1 jam, 3 menit dan 47 detik. Setelahnya ia menulis pada kami, ‘Tangan saya rasanya seperti terbakar sekarang,’” ujar Will Shortz, editor TTS The New York Times, dalam surat pengumuman pemenang pada 4 Januari 2017.

Rasanya menakjubkan melihat antusiasme para penikmat TTS di AS dan bagaimana Shortz berusaha memanfaatkannya untuk menjaga kelangsungan bisnis koran fisik The New York Times.

Selain rutin berinteraksi dengan para pembuat TTS lepas yang kerap mengirimkan karyanya ke The New York Times, Shortz juga memilih secara acak lima pemenang TTS raksasa untuk mendapat hadiah berupa langganan gratis koran tersebut selama satu tahun lamanya.

Perlu dicatat pula bahwa TTS raksasa “Super Mega”, dan beberapa program TTS khusus lainnya yang diluncurkan di 2017, sengaja hanya diterbitkan di edisi cetak The New York Times.

“Orang-orang yang telah berlangganan edisi cetak koran kami akan mempersiapkan dirinya. Sementara orang-orang yang hanya berlangganan edisi digital akan merasa kesal sehingga terdorong untuk membeli edisi cetaknya di toko,” kata Shortz dalam wawancaranya dengan The Verge pada akhir tahun lalu.

“Setelah Anda merasakannya langsung dengan tangan Anda, itu akan terasa menyenangkan dan istimewa, berbeda dengan produk-produk lain yang memang sengaja diproduksi lintas-medium.”

Will Shortz, editor TTS The New York Times sejak 1993/NYTimes.com

Shortz tentu sudah paham betul soal ini, mengingat ia telah bekerja sebagai editor TTS The New York Times sejak 1993. Ia bahkan lulus dari Universitas Indiana di AS pada 1974 dengan menyelesaikan studi soal enigmatologi, atau studi khusus tentang teka-teki.

Menurutnya, ada dorongan kuat bagi seseorang untuk mengisi kotak-kotak hitam dan putih yang ada di TTS, begitu pula perasaan bangga yang mengiringi kala berhasil menemukan jawaban yang tepat. Karena itulah TTS sukses jadi pelarian bagi begitu banyak warga AS di tengah suntuknya kehidupan mereka sehari-hari.

Kemudian, akhirnya wajar saat TTS berhasil membuat banyak para pembaca setia terus berlangganan edisi cetak The New York Times di tengah periode transisi mereka ke dunia digital.

Pada akhir 2016, jumlah pelanggan edisi cetak The New York Times mencapai lebih dari 1,1 juta orang, kurang lebih sama dengan kondisi pada akhir tahun sebelumnya. Padahal, menurut data Pew Research Center, sepanjang tahun itu sirkulasi koran di AS pada hari biasa dan akhir pekan mengalami penurunan masing-masing sebesar 8,1 persen dan 7,7 persen menjadi 34,6 juta eksemplar dan 37,8 juta eksemplar.

Di sisi lain, jumlah pelanggan edisi digital The New York Times melonjak hingga mencapai 1,8 juta orang pada akhir 2016 dari sebelumnya yang hanya 1,1 juta orang di akhir tahun sebelumnya.

Alhasil, secara tidak langsung TTS telah membantu menjaga keberlangsungan The New York Times yang telah terbit di AS sejak 1851 dan memuluskan migrasi mereka ke dunia daring, hal yang sangat sulit dilakukan oleh begitu banyak media massa sejenis di belahan dunia lainnya, termasuk Indonesia.

 

NB: Tulisan ini pertama terbit di buku TTS Pilihan Kompas edisi 11.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s