Setahun Jadi Wartawan Ekonomi

Liputan rapat dengar pendapat Komisi VII DPR dengan Pertamina pada Juni 2017.

Hari ini, 1 Oktober 2017, tepat setahun sudah saya bekerja sebagai wartawan ekonomi, sesuatu yang dahulu selalu saya anggap sebagai mimpi buruk dan hindari secara pasti.

Bahkan dalam mimpi terliar sekalipun, sebelumnya saya tak pernah membayangkan bakal berkutat dengan segala hal yang berbau ekonomi dan bisnis. Tapi jalannya justru seakan sengaja berbelok ke sana, betapapun saya telah merajuk dan memohon-mohon minta pengampunan.

Seperti telah saya ceritakan sebelumnya, saya resmi bekerja sebagai calon wartawan The Jakarta Post sejak 2016. Pada masa dua bulan pertama, saya dan delapan orang kawan seangkatan mesti mengikuti beragam kelas persiapan di kantor, entah soal dasar-dasar jurnalistik maupun penulisan bahasa Inggris.

Setelahnya, saya dan kawan-kawan mulai turun ke lapangan pada Maret untuk mengikuti on-the-job training di berbagai desk, entah nasional, metropolitan ataupun bisnis. Tiap tiga bulan sekali, kami akan di-rolling ke desk yang berbeda sampai genap setahun menyandang status sebagai calon wartawan. Setelahnya, kami akan dievaluasi oleh para mentor dan editor. Bila dirasa memuaskan, barulah kami diangkat sebagai wartawan tetap dan naik gaji.

Pada putaran pertama, saya ditugaskan membantu tim redaksi online The Jakarta Post. Selama tiga bulan di sana, saya banyak berkutat menulis soal politik, hukum dan hak asasi manusia (HAM). Saya hampir tak pernah menulis soal ekonomi dan bisnis. Ibaratnya, dari 100 berita yang saya hasilkan, mungkin hanya lima yang terkait dengan sektor yang saya hindari betul tersebut.

Lah seperti kena tulah, saya justru kemudian ditempatkan di desk bisnis pada putaran kedua. Sontak, saya langsung stres.

Selama tiga bulan meliput bisnis dari Juli hingga September, saya tak pernah punya beat pasti. Satu hari menulis soal Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, besoknya datang ke konferensi pers Bank Indonesia, di hari lain meliput paparan kinerja perusahaan terbuka yang tercatat di Bursa Efek Indonesia.

Sungguh, pada masa-masa itu, tiap kali datang ke tempat liputan saya berubah jadi orang yang sangat kalem. Saat para wartawan lain berlomba melontarkan pertanyaan kepada narasumber saat melakukan door-stop interview, saya hanya bisa mengangkat tangan tinggi-tinggi dan mengacungkan alat perekam.

Setelahnya, barulah saya dengar ulang rekamannya, coba untuk memahami persoalan serta mencari arti berbagai istilah asing yang diucapkan si narasumber. Kalau masih tidak paham, baru saya tanya wartawan lain yang lebih senior, memohon bantuan penjelasan dengan raut wajah putus asa.

Prinsip saya, kalau mesti mati di sini, lebih baik mati terhormat. Jadi usaha dulu saja, coba kasih yang terbaik walau setiap hari rasanya begitu memusingkan.

Tak disangka, kinerja saya dianggap memuaskan. Pada akhir September, saya dipanggil  ke ruangan Pak Endy Bayuni, Pemimpin Redaksi The Jakarta Post. Di sana, ia memberi tahu bahwa saya tidak perlu mengikuti putaran ketiga dalam on-the-job training karena mulai awal Oktober 2016 saya akan diangkat sebagai wartawan tetap… di desk bisnis.

Anehnya, saya justru merasa sedikit lega.

Memang, menulis ekonomi dan bisnis itu susah. Tapi, semua yang saya tulis terasa konkret karena ada data penunjangnya, entah soal kinerja produksi minyak dan gas bumi, pendapatan dan keuntungan sebuah perusahaan, atau kemajuan pembangunan sebuah proyek infrastruktur.

Beda halnya dengan menulis politik yang dinamis. Seorang pejabat atau politisi bisa begitu mudahnya – dan begitu memuakkannya – berganti sikap dan melontarkan pendapat berbeda dari waktu ke waktu.

Kalau kata senior dan mentor saya, Cak Rusdi Mathari, wartawan politik itu kebanyakan cuma menerapkan “jurnalisme ludah”. Si A ngomong apa, lalu diadu sama omongan si B, kemudian ditambahi komentar pengamat C. Makanya, kalau tidak hati-hati, wartawan bisa bablas dibodoh-bodohi politisi.

Cak Rusdi pula yang bilang pada saya, “Siapa pun bisa menulis politik, tapi tidak semua orang bisa menulis ekonomi. Setelah kamu lihai menulis ekonomi, kamu bakal bisa menulis apa saja.”

Kata-kata itu yang terus saya pegang, dan akhirnya membuat saya perlahan jadi suka menulis ekonomi dan bisnis.

Selain itu, saya merasa masuk ke desk bisnis The Jakarta Post di saat yang tepat, kala para editor muda nan pintar telah mengambil alih dan “membumikan” desk tersebut. Ada Kak Esther Samboh yang ramah dan brilian, serta sukses jadi kepala desk bahkan sebelum berusia 30. Ada Kak Tassia Sipahutar yang galak tapi sangat fair dan selalu bersedia untuk menerangkan hal sesepele apa pun. Ada Mas Hasyim Widhiarto yang selalu berusaha melucu dengan kompilasi pantun dan singkatan mautnya, serta kerap mengajarkan gaya menulis yang lebih humanis.

Bersama mereka, menulis ekonomi dan bisnis terasa jadi menyenangkan, hingga ketakutan saya dahulu akan desk ini jadi terasa tidak masuk akal. Sayang, ketiganya kini telah pergi dari The Jakarta Post dengan alasan yang berbeda-beda.

Singkat cerita, setelah diangkat, saya mulai mendapat beat tetap setelah ditugaskan untuk menjadi wartawan bursa. Tugas utama saya adalah memantau aksi korporasi perusahaan-perusahaan yang masuk dalam daftar LQ 45, atau 45 emiten dengan pergerakan saham paling likuid.

Setelah sekiranya sebulan di bursa, saya sudah diminta pindah lagi jadi wartawan energi di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Alasannya, Kak Ifa yang selama ini bertugas di sana mulai mendapat tugas tambahan sebagai wartawan istana. Alhasil, di kala ia kewalahan karena sibuk mengikuti Presiden Jokowi, saya yang mesti menambal.

Sampai saat ini, saya awet di beat energi. Kerjaan saya sehari-hari adalah menulis soal minyak dan gas, mineral dan batubara serta kelistrikan. Ini bukan hal mudah, salah satunya karena sektor ini penuh dengan istilah teknis nan njelimet.

Awalnya saya cuma bisa bengong-bengong saja mendengar penjelasan soal kemajuan pembangunan kilang, rencana dibukanya tender untuk pembangkit batubara mulut tambang, pengalihan subsidi listrik dan sebagainya. Tapi akhirnya toh bisa karena biasa.

Malah, saya jadi begitu khatam saat diminta menulis isu-isu tertentu, salah satunya soal kasus PT Freeport Indonesia. Begitu seringnya saya menulis soal perusahaan tambang itu hingga data dan latar belakang terkait yang kerap dibutuhkan dalam artikel jadi terasa sudah ada di luar kepala.

Mulai tahun depan, porsi saya menulis energi mungkin akan berkurang karena ada tugas tambahan lain – yang bakal bikin saya punya akses untuk meliput kekuasaan dari dekat. Namun, bulan-bulan yang saya lewati di beat ini telah begitu banyak memberi pengalaman dan pelajaran. Dan yang terpenting, di sini saya selalu merasa bodoh setiap hari.

Advertisements

Dengan TTS, Surat Kabar The New York Times Tetap Bernapas

TTS “Super Mega” The New York Times/NYTimes.com

Di tengah senjakala bisnis media cetak di Amerika Serikat (AS), The New York Times masih mampu menjaga loyalitas pembacanya melalui rubrik teka-teki silang (TTS) yang telah bertahan di koran itu selama lebih dari 75 tahun lamanya.

Pada Minggu, 18 Desember 2016, The New York Times mengejutkan publik dengan menerbitkan TTS raksasa yang menghabiskan dua halaman penuh koran itu dengan nama “Super Mega”. Secara total, ada 728 petunjuk yang diberikan untuk mengisi 2.500 kotak (50 x 50) yang ada di TTS tersebut.

Permainan tebakan raksasa ini sengaja dibuat untuk menandai usia ke-75 rubrik TTS di The New York Times, yang setiap minggunya rutin mendapat 75 hingga 100 kiriman kontribusi dari para pembuat TTS lepas.

Sekiranya, ada 7.000 orang yang berhasil menyelesaikan TTS raksasa itu dan mengirimkan hasilnya ke The New York Times dalam waktu 10 hari. Mereka sukses menemukan kalimat tersembunyi “Necessity is the mother of invention” atau “Kebutuhan adalah sumber penemuan” di tengah ribuan kotak yang ada di sana.

“Pengirim tercepat adalah Trip Payne, pemenang tiga kali kompetisi TTS nasional AS, yang sukses menyelesaikan TTS raksasa itu dalam waktu 1 jam, 3 menit dan 47 detik. Setelahnya ia menulis pada kami, ‘Tangan saya rasanya seperti terbakar sekarang,’” ujar Will Shortz, editor TTS The New York Times, dalam surat pengumuman pemenang pada 4 Januari 2017.

Rasanya menakjubkan melihat antusiasme para penikmat TTS di AS dan bagaimana Shortz berusaha memanfaatkannya untuk menjaga kelangsungan bisnis koran fisik The New York Times.

Selain rutin berinteraksi dengan para pembuat TTS lepas yang kerap mengirimkan karyanya ke The New York Times, Shortz juga memilih secara acak lima pemenang TTS raksasa untuk mendapat hadiah berupa langganan gratis koran tersebut selama satu tahun lamanya.

Perlu dicatat pula bahwa TTS raksasa “Super Mega”, dan beberapa program TTS khusus lainnya yang diluncurkan di 2017, sengaja hanya diterbitkan di edisi cetak The New York Times.

“Orang-orang yang telah berlangganan edisi cetak koran kami akan mempersiapkan dirinya. Sementara orang-orang yang hanya berlangganan edisi digital akan merasa kesal sehingga terdorong untuk membeli edisi cetaknya di toko,” kata Shortz dalam wawancaranya dengan The Verge pada akhir tahun lalu.

“Setelah Anda merasakannya langsung dengan tangan Anda, itu akan terasa menyenangkan dan istimewa, berbeda dengan produk-produk lain yang memang sengaja diproduksi lintas-medium.”

Will Shortz, editor TTS The New York Times sejak 1993/NYTimes.com

Shortz tentu sudah paham betul soal ini, mengingat ia telah bekerja sebagai editor TTS The New York Times sejak 1993. Ia bahkan lulus dari Universitas Indiana di AS pada 1974 dengan menyelesaikan studi soal enigmatologi, atau studi khusus tentang teka-teki.

Menurutnya, ada dorongan kuat bagi seseorang untuk mengisi kotak-kotak hitam dan putih yang ada di TTS, begitu pula perasaan bangga yang mengiringi kala berhasil menemukan jawaban yang tepat. Karena itulah TTS sukses jadi pelarian bagi begitu banyak warga AS di tengah suntuknya kehidupan mereka sehari-hari.

Kemudian, akhirnya wajar saat TTS berhasil membuat banyak para pembaca setia terus berlangganan edisi cetak The New York Times di tengah periode transisi mereka ke dunia digital.

Pada akhir 2016, jumlah pelanggan edisi cetak The New York Times mencapai lebih dari 1,1 juta orang, kurang lebih sama dengan kondisi pada akhir tahun sebelumnya. Padahal, menurut data Pew Research Center, sepanjang tahun itu sirkulasi koran di AS pada hari biasa dan akhir pekan mengalami penurunan masing-masing sebesar 8,1 persen dan 7,7 persen menjadi 34,6 juta eksemplar dan 37,8 juta eksemplar.

Di sisi lain, jumlah pelanggan edisi digital The New York Times melonjak hingga mencapai 1,8 juta orang pada akhir 2016 dari sebelumnya yang hanya 1,1 juta orang di akhir tahun sebelumnya.

Alhasil, secara tidak langsung TTS telah membantu menjaga keberlangsungan The New York Times yang telah terbit di AS sejak 1851 dan memuluskan migrasi mereka ke dunia daring, hal yang sangat sulit dilakukan oleh begitu banyak media massa sejenis di belahan dunia lainnya, termasuk Indonesia.

 

NB: Tulisan ini pertama terbit di buku TTS Pilihan Kompas edisi 11.

Teater Dalam Pusaran Krisis Sinetron Nasional

Ilustrasi/Remotivi

Pada awal perkembangan industri televisi, pekerja teater punya andil besar dalam membidani kelahiran sinetron bermutu. Terhentinya regenerasi pekerja teater di layar kaca berimbas pada anjloknya kualitas sinetron kita.

Ada satu masa saat sebuah generasi pekerja teater di Indonesia mampu menyokong pertumbuhan pesat industri sinetron nasional, yang, sayangnya, kemudian ikut jeblok saat perkembangan seni teater tersendat di awal abad ke-21.

Masalah utama sinetron hari-hari ini mungkin dapat tergambarkan cukup jelas dari kehidupan si culas Ratna.

Setelah beberapa tahun bekerja sebagai asisten rumah tangga di rumah Astrid, tak terhitung sudah berapa kali Ratna mengutil barang dan membohongi majikannya tersebut. Ia membawa pulang setrika “rusak” yang sebetulnya masih berkondisi prima, mengambil sisa uang belanja seenaknya, hingga hanya memberi makan Putri – anak tunggal Astrid – mi instan sehari-hari.

Karena sibuk bekerja, Astrid tak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Ia kadung percaya dan menyerahkan segalanya pada Ratna. Hingga kemudian tipu daya Ratna terbongkar oleh kecurigaan Sarah, ibu dari Astrid yang kerap berkunjung ke rumah.

“Bu Sarah ngapain muncul tiba-tiba tadi ya? Gagal (jadinya) ngambil jam tangan Bu Astrid. Wah, (kalau) Bu Sarah pulang, sudah, (saya) ke kamar Bu Astrid lagi, ambil jam tangannya,” ujar Ratna pada diri sendiri.

Kisah di atas muncul di salah satu episode dalam antologi Film Televisi (FTV) Sinema Pintu Taubat yang tayang di Indosiar pada periode 2012-2016. Episode yang dimaksud berjudul “Pembantu yang Tidak Bersyukur”.

Cerita soal Ratna ini, dalam penayangannya, menunjukkan begitu banyak klise dan cacat logika yang ironisnya telah jadi bagian tak terpisahkan dalam produksi FTV dan sinetron di Indonesia. Salah satu contohnya adalah stereotip pada kelompok marjinal tertentu, atau pada asisten rumah tangga di kasus Ratna.

Selain itu, alur cerita yang ada juga kerap mengada-ada, seakan-akan logika tidak penting asalkan bisa menuju konklusi sesuai rencana. Ini diperparah pula dengan kemampuan teknis para aktor atau aktris yang sering kali hanya pura-pura paham caranya berakting di depan kamera.

Lantas, wajar saja bila kualitas FTV dan sinetron kerap dipertanyakan karena dengan konstan ia terus mencoba menghina akal sehat kita.

Data KPI memang menunjukkan penurunan jumlah aduan publik yang cukup signifikan, dari 19.146 aduan (2014), 8.539 aduan (2015), hingga 5.387 aduan (2016). Sanksi KPI pun mengalami tren yang sama, dari 266 sanksi pada 2015 menjadi 175 sanksi pada 2016. Namun demikian, tren ini tidak serta merta berarti kualitas program siaran telah mengalami perbaikan signifikan. Apalagi mengingat penilaian terhadap sinetron dan infotainment yang bahkan untuk bisa dibilang “kurang berkualitas” saja sulit.

Sejak dua tahun silam, Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) bersama Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia (ISKI) dan sejumlah universitas telah melakukan survei berkala untuk mengetahui indeks kualitas program acara televisi. Hasilnya, sepanjang 2015 indeks kualitas program siaran televisi berada di angka rata-rata 3,38, dari skor tertinggi 5,00. Sinetron/FTV dan infotainment rutin berada di posisi dua terbawah dibandingkan program-program lainnya dengan nilai rata-rata adalah 2,72. Pada 2016, hasilnya tak jauh beda. Sepanjang tahun lalu, sinetron mendapat angka rata-rata 2,88. Sinetron dan FTV bahkan tidak bisa dikategorikan sebagai “kurang berkualitas” yang memerlukan skor 3,00.

Memang, kita bisa memperdebatkan indikator-indikator yang digunakan dalam penelitian tersebut. Untuk sinetron, KPI menetapkan indikator yang terdiri dari “relevansi cerita”; “membentuk watak, identitas, dan jati diri bangsa Indonesia yang bertakwa dan beriman”; “menghormati keberagaman”; “menghormati nilai dan normal sosial di masyarakat”; “tidak bermuatan kekerasan”; “tidak bermuatan seksual”; “tidak bermuatan mistik, horor dan supranatural”; serta “menghormati orang dan kelompok tertentu”.

Sekilas, terlihat bahwa pelbagai indikator tersebut lebih terkait pada sisi penceritaan atau penggarapan naskah sinetron. Namun, persoalannya tak sesederhana itu.

Pada akhir abad ke-20, sesungguhnya publik sempat dimanjakan dengan ragam sinetron berkualitas yang dipelopori para pekerja teater di awal kelahiran industri televisi. Para jagoan panggung itu bermigrasi untuk mencari peruntungan ekonomi, hingga tanpa disadari, industri mengeksploitasi bakat mereka tanpa henti tanpa memberi timbal balik nan setimpal.

Saat regenerasi bakat jalan di tempat, kelangsungan kelompok-kelompok teater yang ditinggalkan pun jadi pertanyaan dan industri televisi terpaksa ikut kena imbasnya.

Bisa dikatakan, para pekerja teater itu pergi dan tak pernah benar-benar kembali.

Migrasi pekerja teater
Perkembangan teater kontemporer Indonesia tak lepas dari berdirinya Pusat Kesenian Taman Ismail Marzuki di Jakarta pada 10 November 1968 yang kemudian menjadi sarana unjuk gigi para kelompok teater terbaik Tanah Air di zaman itu seperti Bengkel Teater pimpinan W.S. Rendra, Teater Populer pimpinan Teguh Karya dan Teater Kecil pimpinan Arifin C. Noer.

Di saat yang sama, banyak pentolan teater mulai mencoba peruntungan di dunia film yang menawarkan pemasukan berlipat untuk menjaga kelangsungan kelompok teater mereka. Banyak yang sukses, dan bahkan, beberapa di antaranya kemudian lebih dikenal sebagai sineas sepanjang hidupnya.

Misalnya saja Teguh, yang sejak pertama terjun ke dunia film pada 1960an hingga meninggal pada 2001, sukses mengumpulkan 54 Piala Citra, termasuk kala ia menyutradarai film Doea Tanda Mata (1984) dan Ibunda (1986). Karier Arifin di dunia film pada 1970an hingga 1990an awal juga penuh kesuksesan. Pada periode tersebut, ia kerap berperan sebagai penulis naskah ataupun sutradara film. Beberapa karyanya adalah Suci Sang Primadona (1977), Serangan Fajar (1981) dan, tentu saja, film kontroversial Pengkhianatan G30S/PKI (1982).

Di sisi lain, industri televisi juga mulai tumbuh dengan lahirnya TVRI pada 1962. Stasiun televisi ini diperkirakan menikmati masa keemasannya pada periode 1970-1980, kala ia berhasil memenuhi sepertiga tayangannya dengan film impor.

Namun, larangan siaran iklan di TVRI pada 1981 oleh Presiden Soeharto membuat ia mesti menghadapi kesulitan finansial yang mendorong jatuhnya kualitas siaran dan, akhirnya, membuka jalan bagi berdirinya berbagai stasiun televisi swasta sejak akhir 1980an. Kroni-kroni Soeharto mulanya mendominasi pendirian stasiun-stasiun baru tersebut.

Semua diawali lahirnya RCTI pada 1987, disusul TPI dan SCTV pada 1990, ANTV pada 1993, Indosiar pada 1995, hingga Trans TV pada 1998.

Di saat yang sama, belanja iklan televisi terus meningkat pesat, dari Rp 51,12 miliar pada 1990 hingga menyentuh Rp 613 miliar pada 1993 dan Rp 1,6 triliun pada 1995. Pada 1997, ketika badai krisis ekonomi mulai menyerang, angkanya bahkan telah mencapai Rp 2,6 triliun.

Iswadi Pratama, pendiri Teater Satu Lampung, mengakui bahwa para pekerja teater pun akhirnya tergiur mencicipi kue industri televisi.

“Itu juga karena mereka butuh banyak tenaga kan. Karena mulai berkembang, mereka butuh pekerja seni, aktor dan lain sebagainya dalam jumlah besar. Nah, ini terjadi migrasi memang. Orang-orang teater kemudian terjun ke televisi dengan bayaran yang cukup menggiurkan,” kata Iswadi saat diwawancara pada pertengahan Juni 2017.

Pada 1988, Teater Populer sempat menggarap sinetron untuk TVRI berjudul Pulang. Di sini, Dedi Setiadi berperan jadi sutradara, sementara beberapa pemain terkenal juga turut serta dalam produksi, entah Didi Petet maupun Niniek L. Karim.

Putu dari Teater Mandiri bahkan berhasil membuat sinetron berjudul Dukun Palsu yang meraih predikat serial komedi terbaik di Festival Sinetron Indonesia (FSI) 1995. Setahun berselang, ia kembali masuk nominasi FSI 1996 sebagai pengarang cerita, penulis skenario dan sutradara terbaik melalui sinetron Perlu Ada Sandiwara.

Seperti kata Iswadi, industri televisi menawarkan apa yang sulit didapatkan seorang aktor atau aktris di dunia teater: kemapanan ekonomi. Di sisi lain, tak bisa dimungkiri bahwa tuntutan industri juga membawa setumpuk konsekuensi.

Degradasi kualitas sinetron
Sigit Hardadi mencoba berpikir realistis. Setelah lulus dari Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta (D3)—kini bernama Institut Kesenian Jakarta (S1)—pada 1984, ia lebih memilih untuk fokus mengembangkan karier di dunia film dan televisi alih-alih menjadi dosen di almamaternya tersebut. Dari sudut pandang ekonomi, pilihan itu lebih menjanjikan baginya untuk mencukupi kebutuhan keluarga.

Pada awal abad ke-21, Sigit sempat muncul di sinetron Tali Kasih (2000) dan Pernikahan Dini (2001-2002) yang tayang di RCTI. Kini, ia lebih banyak dikenal orang sebagai Datuk Abu, tokoh yang diperankannya dalam sinetron 7 Manusia Harimau yang juga disiarkan di RCTI.

Menurutnya, dalam sekali pengambilan gambar di sinetron itu saja ada empat tim yang bergerak bersamaan. Masing-masing tim memegang tiga kamera, karena itu para aktor dibatasi ruang geraknya. Mereka harus menjalankan blocking sesederhana mungkin hingga para kru tak perlu mengubah pengaturan lampu dan sebagainya. Sekali take, selesai, lanjut yang berikutnya.

Stripping ini kan gila-gilaan. Dulu saya pernah main dalam FTV pada 1990an, satu episode berdurasi satu jam bisa dibikin selama tiga minggu. Lama-lama makin cepat, jadi hanya dua minggu. Lama-lama jadi satu minggu, itu pun sutradaranya sudah kebakaran jenggot. Sekarang, satu hari bisa bikin dua episode, bahkan hampir tiga episode,” kata Sigit saat wawancara pada Juli 2015.

Di sisi lain, Sigit berujar bahwa minimnya jumlah sekolah akting dan sanggar teater di Indonesia sejalan dengan terbatasnya jumlah aktor berkualitas untuk bisa memenuhi tuntutan industri film ataupun televisi. Karena itu, banyak yang terjun ke dunia seni peran secara autodidak. Sayangnya, menurut Sigit, banyak dari mereka yang kerap tidak menghargai proses, atau menurut bahasanya, tidak sabar untuk cepat terkenal.

“Sekarang, banyak pemain muda yang secara kedisiplinan agak memprihatinkan. Misalnya saat shooting sinetron, dipanggil datang jam 9, tapi dia datang jam 10. Begitu sampai lokasi pun dia tidur. Saat dibangunin malah ngamuk. Jadi, kesannya shooting itu enggak dibayar,” kata Sigit.

Aktor kawakan Roy Marten juga mengungkapkan hal senada. Ia berkata, ada perbedaan besar antara aktor dan aktris sinetron yang autodidak dan yang pernah berkecimpung di dunia teater, entah soal etos kerja maupun kemampuan teknis saat pengambilan gambar.

“Memang berbeda. Pertama, mereka menguasai dialog-dialog panjang. Kemudian, blocking mereka luar biasa. Kalau main, temponya juga pasti bagus,” kata Roy saat wawancara pada Agustus 2015. “Yang sekolah dan enggak sekolah kan kelihatan.”

Sementara itu, Iswadi merasa wajar bila pemain teater punya etos kerja lebih baik karena mereka terbiasa mengerjakan segala sesuatunya sendiri dengan segala keterbatasan yang ada, terutama dari sisi finansial.

Selain itu, menurutnya pemain teater sedari awal telah mendapat pembekalan yang cukup soal keaktoran sehingga punya dasar yang kuat saat mesti bermain di film ataupun sinetron. Idealnya, Iswadi merasa seorang aktor harus paham metode akting ajaran mahaguru teater dunia, Konstantin Stanislavski, sebelum terjun ke dua industri tersebut.

“Kita lihat, tidak semua aktor atau aktris di film Indonesia itu memang benar aktor atau aktris. Kebetulan mereka dianugerahi tampang atau fisik yang memang punya daya jual cukup baik, tapi sesungguhnya mereka tanpa skill,” kata Iswadi.

“Industri-lah yang menyulap mereka menjadi aktor. Artinya, kehadiran mereka di sana, lebih besar pertimbangan bisnisnya daripada kualitasnya.”

Karena itu, Iswadi merasa perlu tercipta hubungan mutualisme antara industri film/sinetron dan dunia teater. Misal, sebuah kelompok teater dapat mengirimkan beberapa anggotanya untuk bermain dalam sebuah film dengan timbal balik mendapatkan dukungan finansial untuk beberapa produksi pementasan teaternya ke depan. Anggota teater tersebut tentu tetap mendapat bayaran setimpal atas perannya di film itu.

Ini penting karena industri pun membutuhkan kelompok-kelompok teater tersebut untuk membina bakat-bakat baru demi menjaga kelangsungan ke depan.

“Untuk kelompoknya, paling tidak ada dukungan supaya mereka tidak mati. Paling tidak untuk satu tahun, misalnya, mereka punya modal untuk tetap berproduksi,” kata Iswadi.

Sayang, selama ini yang terjadi justru sebaliknya. Banyak jagoan teater yang ditarik ke dunia film dan sinetron hingga tercemplung lama di sana, utamanya karena tawaran finansial yang menggiurkan pada pribadi si aktor dan aktris, tanpa ada apresiasi setimpal untuk kelompok teater yang telah membesarkan namanya sejak awal. Karena itu, kelompok-kelompok teater yang ada akhirnya terbengkalai dan terhambat eksistensinya.

Terlebih lagi, kelompok-kelompok teater di Indonesia kerap bergantung pada kehadiran satu tokoh, entah Rendra, Teguh, Arifin, Putu maupun Nano. Alhasil, saat para tokoh tersebut wafat atau kadung kehilangan stamina untuk berproduksi di usia senja, nasib yang sama niscaya akan menimpa grup asuhannya masing-masing.

Kini, dari sekian nama besar tersebut, hanya Nano dengan Teater Koma-nya yang masih rutin berproduksi setiap tahun. Sementara itu, karena Putu sudah sepuh dan kerap sakit-sakitan, Teater Mandiri asuhannya pun mulai jarang muncul di permukaan.

Bila tren ini terus berlanjut, rasanya dunia teater akan kian terjepit saja, dan mau tak mau tayangan sinetron bakal terus menghina akal sehat kita.

***

Referensi
Anwar, Achmad Syaeful. 2012. Perkembangan Teater Kontemporer Indonesia 1968-2008. Depok: Universitas Indonesia.

Armando, Ade. 2011. Televisi Jakarta di Atas Indonesia: Kisah Kegagalan Sistem Televisi Berjaringan di Indonesia. Yogyakarta: Bentang Pustaka.

Hutari, Fandy. 2015. Sandiwara dan Perang: Propaganda di Panggung Sandiwara Modern Zaman Jepang. Yogyakarta: Indie Book Corner.

 

NB: Tulisan ini pertama terbit di media daring Remotivi pada 20 Juli 2017.

Bagaimana “Kebenaran” Diproduksi Hari-hari Ini?

Ilustrasi wartawan kala liputan/Merdeka.com

Saat masih kuliah jurnalistik dahulu, seorang dosen pernah berujar pada saya, “Di era Orde Baru, wartawan hanya bisa memberitakan delapan dari 10 fakta, tapi semuanya tepat. Kini, wartawan bisa memberitakan 12 dari 10 fakta, dan kita tak tahu mana yang benar.”

Bagi sebagian orang, mungkin kata-kata dosen saya itu terlampaui menggeneralisasi persoalan atau bahkan bisa dianggap sebagai anti-perkembangan zaman. Namun, tak bisa dimungkiri, apa saja bisa jadi berita di era banjir informasi dewasa ini. Dan, makin sulit bagi kita untuk tidak skeptis melihat begitu mudahnya sebuah media daring menerbitkan berita-berita dengan judul bombastis yang sama sekali tidak nyambung dengan isi, kemudian menghapusnya selang beberapa jam setelah mendapat badai protes dari warganet.

Untuk itu, mungkin kita perlu tahu bagaimana para wartawan, terutama yang bekerja di media-media arus utama, memproduksi berita dalam kesehariannya.

Saat menghadiri sebuah acara yang menghadirkan banyak narasumber penting sekaligus, banyak wartawan memutuskan untuk bekerja sama dengan membuat “lapak”. Caranya mudah, seorang wartawan tinggal mengirimkan surel ke seluruh rekan yang menghadiri acara tersebut. Kemudian, wartawan itu atau rekan-rekan lainnya tinggal memilih opsi “reply all” dan mengirimkan hasil “tikpet” atau “ketik cepet” omongan narasumber, transkrip wawancara, keterangan pers atau soft copy materi presentasi narasumber ke sana.

Masalahnya, tak jarang wartawan salah menuliskan angka atau kutipan narasumber dalam hasil tikpet atau transkripnya, entah karena buru-buru atau kurang memahami isu. Karena itu, seorang pen-tikpet atau pentranskrip ulung dengan tingkat akurasi tinggi niscaya akan disayang oleh rekan-rekannya di lapangan.

Keberadaan lapak jadi begitu krusial karena wartawan kerap dikejar-kejar para redaktur medianya masing-masing untuk mengirimkan berita secepat mungkin. Haram hukumnya untuk “bobol”, terutama dari media saingan utama.

Masalah bobol-membobol bukan hanya soal kecepatan, tapi juga eksklusivitas berita. Karena itu, tak jarang seorang wartawan berupaya keras mengorek informasi penting dari narasumber, apalagi bila wartawan dari media saingannya sedang tak ada di lokasi liputan. Bila narasumber enggan bicara spesifik, kira-kira saja juga boleh. Yang penting, ucapannya mengindikasikan sesuatu yang punya nilai berita tinggi.

Alhasil, narasumber yang terlampau “baik hati” kerap terpancing untuk bicara sesuatu lebih banyak dari seharusnya.

“Saya enggak ingat angkanya.”

“Kira-kira saja, Pak. Sampai Rp 1 miliar enggak?”

“Ya kurang lebih-lah.”

Angka Rp 1 miliar pun segera jadi headline di berbagai media. Media-media yang bobol kebakaran jenggot menyuruh para wartawannya untuk mem-follow up hal tersebut. Narasumber terkait sontak panik, lalu buru-buru mengklarifikasi pernyataan sebelumnya atau bahkan menuntut media-media yang telah memberitakannya.

Sering, ini sering sekali terjadi.

Belum lagi bila wartawan yang bertugas tidak akrab dengan isu yang diliputnya. Misal, minggu-minggu pertama berada di desk ekonomi sering jadi pengalaman menyebalkan bagi seorang wartawan yang sebelumnya lebih banyak bersentuhan dengan isu politik.

Bisa jadi karena mendadak ia harus berkutat dengan setumpuk angka dan istilah-istilah njelimet nan teknis di sektor-sektor tertentu, entah ekonomi makro, perbankan ataupun energi. Padahal, sebelumnya ia telah terbiasa menulis soal manuver-manuver para politisi Tanah Air. Alhasil, jenis judul berita yang dihasilkannya pun berubah dari “Prabowo Bertemu SBY di Cikeas” menjadi “Rupiah Kembali Terdepresiasi”.

Seorang kawan yang bekerja di kantor berita ternama pernah bercerita soal pengalamannya pertama kali meliput ekonomi. Tak paham dengan isu yang dihadapi, ia nekat tetap mengirim berita ke kantor. Berita terbit, dan segera dicomot oleh media-media yang telah berlangganan jasa kantornya. Tak lama, ia baru sadar telah salah menulis angka. Tak ada yang bisa dilakukan untuk memperbaikinya.

“Sejak itu, kalau memang gue enggak ngerti atau ragu dengan sesuatu, mending enggak gue bikin aja beritanya sekalian,” katanya.

Tak hanya itu, bila wartawan telah menulis dan mengirim berita dengan setepat-tepatnya pun, selalu ada risiko saat redaktur di kantor “memoles” berita tersebut menjadi lebih “seksi”, entah di judul ataupun isi. Tujuannya jelas, agar warganet tertarik meng-klik dan menyebarkannya di berbagai media sosial dalam tempo sesingkat-singkatnya.

Setelahnya, mereka yang disebut “pengamat” akan menganalisis berita-berita yang telah terbit tersebut, termasuk berita salah yang menyesatkan pembaca, dan memberikan komentarnya pada wartawan, entah via telepon, pesan singkat atau bahkan acara diskusi yang mereka adakan sendiri. Wartawan pun beramai-ramai mengutip mereka hingga kesalahan yang ada kian berlipat ganda.

Memang, praktik seperti ini tak selalu terjadi setiap saat. Namun, satu yang pasti, di tengah berbagai kepentingan dan agenda setting media dengan ragam afiliasi politik dan bisnis yang berbeda, ingatlah, jangan langsung percaya dengan apa pun yang Anda baca.

Sebisa mungkin, perhatikan tren pemberitaan sebuah media, cek ulang sebuah fakta di dua atau tiga sumber pemberitaan lain, dan tarik napas dalam-dalam sebelum memutuskan untuk membagikan sebuah tautan.

Menengok Kebun Sawit di Bangka

Pada 25-28 April 2017, saya dinas luar kota ke Bangka untuk memenuhi undangan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) Sawit. Salah satu agendanya adalah mengunjungi kebun plasma kelapa sawit dan pabrik pengolahan crude palm oil (CPO) milik Kencana Agri – perusahaan yang tercatat di Bursa Efek Singapura – di Tempilang, Bangka Barat.

Sepanjang 2016, Kencana Agri memproduksi 130 ribu ton CPO. Pada 2017, mereka optimis bisa meningkatkan jumlah produksi sekitar 15-20 persen setelah dampak dari fenomena iklim El Niño mulai hilang di akhir tahun lalu.









Kamera: iPhone 5s

Menjadi Cina di Indonesia

Ilustrasi: warga keturunan Cina bersembahyang di klenteng/loop.co.id

Situasi membara pada Mei 1998. Saat itu saya baru kelas 1 SD dan, sungguh, saya tak paham apa-apa. Saya hanya ingat bahwa pada satu malam, mama dengan terburu menarik saya ke luar rumah, di mana orang-orang telah berkerumun dan berlalu lalang dengan muka tegang. Kompleks tempat saya tinggal di Jakarta Barat memang mayoritas dihuni warga keturunan Cina, termasuk juga saya dan keluarga.

Situasinya tak keruan. Kerusuhan tengah merebak, dan banyak warga keturunan Cina jadi sasaran amuk massa–entah dirampok, dibunuh ataupun diperkosa–sebagai “tumbal reformasi”. Sial, papa saya kala itu terjebak di bandara, tak bisa ke mana-mana karena situasi sedang panas-panasnya. Alhasil, hanya ada mama di rumah bersama tiga anaknya.

Kami bersiaga di luar agar bisa segera kabur bila terjadi apa-apa. Masalahnya, tak ada satu pun orang rumah yang bisa menyetir mobil kecuali papa. Saya ingat, mama segera menemui saudara jauh yang kebetulan tinggal bertetangga dengan kami. Di sana, ada satu sepupu perempuan saya yang baru saja belajar mengemudi.

“Kamu bisa nyetir, kan?” tanya mama.

“Ya kalau kondisinya begini, sih, ya mau enggak mau bisa,” jawab sepupu saya sembari tersenyum gugup.

Untungnya tak ada apa-apa pada malam itu. Semua masuk kembali ke rumah, dan sejauh yang saya tahu, kerusuhan tak sampai menjalar masuk ke kompleks perumahan kami.

Sekali lagi, kala itu saya betul-betul tak paham dan hanya bisa bertanya kenapa?

Tumbuh besar sebagai minoritas membuat saya menyadari bahwa saya adalah liyan di tengah masyarakat. Sejak lahir hingga kuliah, total saya sekeluarga telah pindah rumah tujuh kali, dari Ciledug, Tangerang, ke Margahayu, Bekasi, hingga ke Kebayoran Lama, Jakarta. Namun, di mana pun saya tinggal, kondisinya tak jauh beda.

Sering sekali, terutama saat masa SD hingga SMA, saya mendapati berbagai celetukan bernada tak enak soal latar belakang ras saya, entah kala berjalan santai sepulang sekolah, atau sekadar bermain futsal di sekitar kompleks perumahan.

“Dasar Cina.”

“Woi, Ncek.”

“Lo kira lo keren, hah?”

Begitu kira-kira kata mereka. Dan biasanya, saya bakal otomatis naik pitam, walau sesungguhnya tak bisa berbuat banyak menanggapinya.

Suatu hari, saya pernah mengadukan hal ini pada papa saya. Tapi dia hanya tertawa kecil dan berkata, “Bilang aja sama mereka, ‘ncek’ itu artinya ‘paman’ tahu. Memangnya gue paman lo?”

Saya sangat tak puas dengan jawaban papa saat itu.

Mau tak mau, karena merasa segan dan tak diterima oleh orang-orang non-keturunan Cina, pergaulan saya kian hari kian sempit saja. Hingga SMA, 95 persen teman main saya adalah sesama warga keturunan Cina, dan kebencian akan mereka yang bukan “bagian dari kami” rasanya terus membesar saja.

Biasanya, saya dan kawanan saya punya panggilan terhadap mereka yang mengaku sebagai pribumi atau warga asli itu. Misalnya saja “huanna” yang berarti “orang asing”. Sering pula kami menyebut mereka sebagai “tiko” atau “fan gui” yang sesungguhnya saya sendiri kurang paham artinya. Namun, banyak yang bilang bahwa masing-masing kata itu bermakna “babi” dan “setan”.

Walau tak paham betul maknanya, kata itu begitu sering terucap. Bila dipikir-pikir, rasanya aneh juga. Bila ingin balik mencerca, kenapa harus menggunakan bahasa asing yang sulit dimengerti oleh mereka? Saya merasa ini jadi salah satu bentuk inferioritas saya dan kawan-kawan kala itu, yang berusaha ingin mencela tanpa mereka sadari sehingga secara tak langsung berusaha menghindari konfrontasi.

Tak hanya di lingkup pertemanan, secara tak langsung keluarga besar pun ikut melanggengkan sekat-sekat sosial yang ada. Keluarga bisa geger bila ada salah satu sanak saudara yang menjalin hubungan dengan pribumi. Jangankan berpacaran, sekadar berteman saja bisa mendapat peringatan untuk berhati-hati.

Anehnya, saat masuk SMA saya mulai menemui teman-teman Cina yang takut untuk menjadi “terlalu Cina”. Bila ada seorang kawan yang rambutnya bergaya poni lempar dengan sedikit jabrik di atasnya, mengenakan kalung rantai atau celana panjang cutbray, pastilah ia akan dicela karena katanya terlihat seperti “Cina Kota” alias “Cinko”. Daerah Kota merujuk pada kawasan pecinan di sekitaran Glodok, Jakarta.

Mau tak mau, hal ini membuat saya tumbuh sebagai warga keturunan dengan lingkup pergaulan eksklusif, plus menyimpan perasaan inferior dan khawatir untuk menjadi terlalu Cina. Saya krisis identitas.

Semua baru berubah ketika saya masuk kuliah. Mengambil jurusan jurnalistik di sebuah kampus swasta, saya dihadapkan pada lingkup pergaulan yang jauh lebih beragam. Warga keturunan Cina di jurusan ini tidak dominan. Alhasil, saya perlahan mesti menyesuaikan diri.

Saya jadi berkawan akrab dengan teman dari berbagai latar belakang, entah yang berasal dari suku Jawa, Batak, Flores, Papua, dan sebagainya. Bertahun-tahun bersama mereka, mata saya jadi terbuka, bahwa dunia yang saya jalani sebelumnya begitu sempit dan penuh prasangka.

Pada April 2014, saya sempat mewawancarai Nosa Normanda dalam kapasitasnya saat itu sebagai dosen antropologi dan sosiologi Binus International. Ia menjelaskan, wajar bila seseorang memutuskan untuk berkumpul bersama kawanannya saja, apalagi di tengah kehidupan multikultur kota besar seperti Jakarta, untuk mencari rasa aman.

Namun, ketakutan untuk memperluas pergaulan, artinya semakin sedikit referensi kita akan kelompok lainnya, berpotensi memunculkan prasangka buruk yang berujung pada lahirnya beragam stereotip di tengah masyarakat.

“Semakin tidak ingin tahu semakin besar pula stereotipnya. Karena, ketakutan itu seperti ruang kosong di kepala kita yang kita isi terus dengan asumsi dan imaji. Seakan kita tahu banyak, padahal kita tak tahu apa-apa,” ujar Nosa.

Di sisi lain, mengutip kata-kata sosiolog Herbert Blumer, kelompok mayoritas pun kerap mengembangkan perasaan-perasaan penuh prasangka terhadap minoritas. Prasangka ini bisa mencakup perasaan bahwa diri mereka superior, perasaan bahwa minoritas adalah orang asing, perasaan wajar bila mereka mendapat berbagai fasilitas dan keistimewaan sosial, serta bahkan kekhawatiran bila minoritas bakal merebut berbagai keistimewaan yang mereka miliki sebagai kelompok dominan.

Ini mungkin dapat menjelaskan perlakuan diskriminatif kelompok dominan terhadap saya yang minoritas sedari kecil hingga remaja.

Lebih jauh, ada beberapa pilihan yang bisa diambil kelompok minoritas dalam hubungannya dengan mayoritas. Pertama, mengasimilasi diri mereka dengan mengenakan ciri-ciri yang menjadi atribut khas kelompok dominan. Saya rasa ini yang terjadi pada saya dan teman-teman semasa SMA kala kami khawatir untuk menjadi “terlalu Cina”.

Kedua, memisahkan diri dari masyarakat luas yang dominan dan mendiskriminasi minoritas. Ini pula yang terjadi pada saya sampai sebelum masuk kuliah.

Ketiga, melakukan pemberontakan frontal atau konfrontasi langsung. Yang satu ini tak pernah saya alami.

Mengetahui berbagai hal ini, saya mulai bisa melihat posisi saya di tengah masyarakat dengan lebih jelas. Terlebih lagi, salah satu perbincangan dengan dosen jurnalistik di masa kuliah, Raudy Gathmyr, cukup membuka mata saya.

Sebagai warga keturunan Arab, nyatanya Raudy juga kerap merasakan pengalaman pahit terkait rasisme sedari ia kecil. Hal ini jadi ironis karena garis keturunan keluarga Gathmyr sesungguhnya memiliki sejarah politik kental dan bahkan ikut serta dalam proses menuju kemerdekaan Indonesia.

Sebut saja Ali Gathmyr yang merupakan mantan pejuang dan perintis kemerdekaan asal Palembang, serta pernah menjabat sebagai Ketua DPRD pertama Sumatera Bagian Selatan (meliputi Lampung, Bengkulu, Jambi, dan Sumatera Selatan) 1945-1955. Belum lagi adiknya, Abdullah Gathmyr, yang merupakan anggota parlemen Indonesia dari Partai Masyumi di masa awal kemerdekaan.

“Setelah lama berkontemplasi, akhirnya saya dan banyak anggota keluarga kami berkesimpulan bahwa rasisme pada dasarnya tidak akan pernah mati selama ada perbedaan. Itu akan terjadi kapan pun dan di mana pun, selama masih ada relasi mayoritas-minoritas di tengah masyarakat plural. Jadi, it’s taken for granted. Itu kelaziman dalam setiap kemajemukan–meski itu tidak lantas dianggap sebagai sesuatu yang baik,” ujar Raudy.

Jauh menengok ke belakang, diskriminasi terhadap warga keturunan Cina pun sesungguhnya telah terjadi sejak era kolonial Belanda. Diperkirakan, kebijakan “apartheid” Belanda-lah yang secara artifisial menciptakan “minoritas Cina” saat itu, walau warga keturunan ini telah tinggal di Indonesia secara turun-temurun dan sebagian bahkan bisa ditarik garis genealogisnya hingga 1600-an.

Setelahnya, kerap muncul ketegangan dengan warga pribumi hingga keturunan Cina pun sering dijadikan kambing hitam, khususnya bila tengah terjadi krisis nasional, sebut saja kekerasan pada 1947 jelang peristiwa Madiun 1948 hingga pembantaian massal pasa tragedi 1965 yang membuka jalan bagi berdirinya pemerintahan Orde Baru di bawah kekuasaan Soeharto.

Di era Orde Baru tersebut, Soeharto sempat menerapkan kebijakan asimilasi bagi warga keturunan Cina. Dalam buku Orang Indonesia Tionghoa: Mencari Identitas karangan Aimee Dawis (2010), dijelaskan bahwa saat itu segala bentuk kebudayaan yang berbau Cina dilarang untuk ditampilkan di depan umum.

Pemerintah menutup semua sekolah berbahasa Mandarin. Penggunaan bahasa itu di muka umum juga dicekal. Warga Cina pun diimbau untuk mengubah namanya dengan nama pribumi untuk menunjukkan komitmen pada negara. Akibatnya, kebanyakan orang Cina yang lahir setelah 1966 hanya berbicara, menulis, dan membaca dalam aksara latin dan bahasa Indonesia. Memang ada kelompok Cina totok yang masih mewariskan bahasa Mandarin pada anak-cucunya, tapi itu terbatas pada bahasa percakapan sehari-hari dan biasanya tak dilakukan di depan umum.

Walau menekan warga keturunan Cina dengan kebijakan asimilasi, di sisi lain Soeharto juga memberi ruang besar bagi mereka untuk bergerak di bidang ekonomi. Dawis bahkan mencatat, warga keturunan Cina setidaknya mengendalikan 70 persen sektor perekonomian, walau secara jumlah mereka hanya setara 3 persen dari total 240 juta penduduk Indonesia saat itu.

Korupsi, kolusi, dan nepotisme yang terang-terangan, dan hak istimewa yang diberikan pada para cukong akhirnya kerap memantik amarah pribumi. Ini menimbulkan kecemburuan sosial dan perlakuan diskriminatif dari pribumi, khususnya kelas menengah ke bawah, pada warga keturunan Cina. Ini pun menjelaskan “ledakan sosial” yang terjadi saat kerusuhan Mei 1998, kala orang-orang Cina tersebut jadi “target kolektif” massa.

Mempertimbangkan semua hal di atas, jadi wajar bila melihat gejolak sosial yang terjadi belakangan di sekitar pemilihan gubernur DKI Jakarta. Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok belakangan begitu banyak mendapat tekanan akibat dugaan penistaan agama.

Mendadak, semua jadi serba hitam-putih. Bila Anda mendukung Ahok, seakan sudah pasti Anda mengkhianati ajaran-ajaran Islam. Bila Anda adalah Muslim sejati, sudah sepatutnya Anda menuntut Ahok untuk dipenjara.

Namun sesungguhnya, posisi Ahok serba salah karena ia adalah keturunan Cina, sesederhana itu. Sejarah bangsa ini telah berbicara dengan sendirinya bahwa ia adalah “target kolektif” di tengah pusaran politik nasional.

Belum lagi melihat berbagai cara yang dilakukan masing-masing kubu untuk “membakar” suasana. Dahulu, Vladimir Lenin telah menjelaskan pada kita soal propaganda dan agitasi.

Menurut Lenin, propaganda merupakan penggunaan argumen-argumen filosofis, sejarah, dan ilmu pengetahuan dengan cara persuasif untuk memengaruhi kaum terdidik dan yang berpikiran sehat. Sementara itu, agitasi adalah penggunaan slogan-slogan emosional, parabel-parabel, dan kebenaran yang diungkap sebagian untuk memengaruhi kaum yang tidak terdidik, kaum yang agak terdidik dan yang tidak berpikiran sehat.

Teori Lenin tersebut jadi relevan dengan keseharian kita saat ini, kala debat filosofis jadi keseharian rutin dalam membela pasangan calon favorit jelang pemilihan gubernur. Di sisi lain, kebenaran hanya diungkap sebagian untuk memproduksi hoax dan agama telah jadi bahan bakar utama dalam beragitasi.

Sementara saya, minoritas keturunan Cina ini, hanya bisa bertanya tanpa henti, “Apa ruginya bila saya mati hari ini?”

NB: Artikel ini pertama terbit di Geo Times pada 14 Maret 2017.

Wartawan dan Konsultan

Ilustrasi/Okezone

Bagi wartawan, berurusan dengan konsultan PR itu kerap serba salah. Wartawan butuh jasa mereka untuk menjembatani komunikasi dengan narasumber, tapi kadang juga muak bila mereka sudah mulai terlalu berusaha.

Sering sekali ada perwakilan dari konsultan PR yang menghubungi saya, entah via WhatsApp ataupun email, untuk menawarkan sesi wawancara eksklusif dengan petinggi perusahaan yang jadi klien mereka, entah perusahaan e-commerce, otomotif atau bahkan kosmetik. Tujuannya jelas, untuk menggencarkan promosi dan meningkatkan publikasi perusahaan terkait.

Biasanya saya akan meneruskan tawaran tersebut pada para editor di kantor, sebelum kemudian editor memutuskan untuk menerima atau mengabaikannya. Cukup sering editor menolak tawaran wawancara atau liputan yang dirasa tak ada nilai beritanya dan hanya akan membuat media jadi alat promosi gratis perusahaan. Kalau cuma mau ngiklan, ya hubungi saja bagian sales dan marketing kantor, bukan bagian redaksi.

Namun tetap saja, para konsultan PR itu akan menghubungi dengan gigihnya.

“Halo, Mas. Bagaimana nih, apa ada kabar dari editor soal interview yang kami tawarkan?”

“Untuk wawancara eksklusifnya apakah jadi, Mas?”

Dan sebagainya.

Sekali dua kali, biasanya masih akan saya ladeni. Saya akan jelaskan bahwa reporter tak berhak memutuskan apa-apa dan belum ada arahan dari editor. Tapi kalau terus-terusan dan jadi menyebalkan, saya akan diamkan. Begitu lebih efektif.

Yang lebih menyebalkan lagi adalah bila ada konsultan PR yang tak mengerti apa yang harus dilakukan, serta tak paham apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh wartawan.

Seorang perwakilan dari konsultan PR ternama pernah menghubungi saya via WhatsApp dan bertanya, “Release-nya belum di-published ya, Mas? Saya gak nemu nih soalnya, atau saya yang kelewat yaa. Hehe.”

Sontak, saya langsung emosi.

Namun, saya coba tetap berikan penjelasan baik-baik padanya. “Wah, kita enggak bisa main publish release gitu aja, Mas. Biasanya data dari release kita olah dulu jadi cerita yang menarik, baru bisa di-published.”

Tak lama, dia kembali bertanya, “Eh, Mas, emang biasanya butuh data apa aja sih, or buat interview juga kah?”

“Biasanya memang enggak semuanya kita publish, Mas. Tiap-tiap media kan punya kebijakan sendiri. Kalau data dari release itu dianggap menarik bagi sebuah media, ya kemungkinan untuk di-published-nya lebih besar. Hahaha,” jawab saya.

Sebulan berselang, orang yang sama kembali menghubungi saya.

“Mau nanya pendapat Mas sebagai jurnalis dong. Misal nih, Mas Viriya atau rekan-rekan jurnalis aku invite ke Bali di suatu acara tanggal 10 September, tapi tanggal 12-nya Lebaran dan tanggal 6-9 itu ada acara Galungan di sana, kira-kira rekan jurnalis bakal datang gak yaa, Mas?”

Saya cuma baca pesan darinya, lalu saya diamkan.

Belum lama ini, saya juga baru mengalami kejadian tidak enak saat diundang oleh perusahaan konsultan PR global, Edelman, untuk menghadiri acara peluncuran produk baru PT Shell Indonesia bernama Shell Fleet Card pada Kamis, 9 Maret 2017 di Hotel Dharmawangsa, Jakarta.

Sesaat setelah acara diskusi dan tanya-jawab singkat usai, para petinggi Shell keluar dari pintu di belakang panggung utama. Melihat hal itu, saya yang datang mewakili The Jakarta Post, Andy Dwijayanto dari Kontan, Anastasia Arvirianty dari Media Indonesia dan Thomas Sembiring dari Petromindo, segera beranjak dari kursi untuk mengejar para narasumber itu.

Masih banyak yang ingin kami tanyakan karena diskusi berlangsung sangat singkat dan hampir tak ada data menarik soal Shell yang bisa kami gali lebih jauh dari acara peluncuran produk baru itu. Kalau kami cuma beritakan soal produk itu, jadinya ya cuma promosi gratis untuk Shell. Kalau mau promosi, mending ngiklan saja sekalian di media terkait.

Kami berempat bermaksud keluar dari pintu samping. Namun, sudah ada beberapa perempuan berpakaian hitam yang menunggu di sana dan kemudian menahan laju kami. Kami duga mereka adalah perwakilan dari Edelman.

Kami dilarang untuk keluar. Mereka bilang, “Nanti dulu, belom boleh.” Kami bersikeras, hingga akhirnya beralasan ingin buang air kecil di luar. Akhirnya pintu dibukakan. Mereka memperbolehkan kami keluar dengan enggan sembari berujar, “Sebentar saja ya.”

Lalu, kami segera berlari mengejar orang-orang Shell yang tengah melewati sebuah lorong di hotel tersebut. Para perwakilan Shell yang dimaksud adalah Wahyu Indrawanto (Direktur Retail), Ornuthai Na Chiangmai (GM of Commercial Fleet in Asia) dan Haviez Gautama (GM of External Relations).

Sesampainya kami di sebuah pintu untuk masuk ke lorong yang dimaksud, seorang pria berbadan besar menutup dan menahan pintu tersebut dengan tangannya. Kami coba mendorong pintu itu sembari berulang kali berteriak kesal. “Hey, tidak boleh ini menghalangi kerja jurnalistik!” Setelah beberapa saat, pria berbadan besar itu pergi mengejar para petinggi Shell yang telah mendahului. Namun, perannya menjaga pintu segera digantikan oleh pria lain, kali ini kurus dan berpakaian hitam.

Saat saya coba dorong pintunya kembali, pria kurus itu tiba-tiba berujar lantang, “Tangan saya patah nih! Tangan saya patah nih!” Malas dan muak, saya lepas tangan saya dari pintu. Namun, selama beberapa saat dia tetap saja mengucapkan hal yang sama, sebelum akhirnya melepas pegangannya dari pintu.

Tak pakai lama, kami kembali melanjutkan pengejaran. Di pintu lain, pria berbadan besar kembali menghadang. Katanya, orang-orang Shell harus segera pergi ke acara lain, walau nyatanya mereka justru makan-makan di dalam sebuah ruangan. Lalu, saya beralasan saja kalau saya hanya ingin memberi kartu nama kepada para narasumber itu. “Ya sudah. Sebentar, sebentar,” kata pria berbadan besar, sebelum berpaling dan memanggil Haviez.

Haviez, yang telah masuk ke ruang makan bersama rekan-rekannya yang lain, mendadak berbalik arah menghampiri saya, mengambil kartu nama yang saya sodorkan, kemudian masuk kembali ke dalam ruangan.

Kami kesal bukan kepalang dan segera menghardik si pria berbadan besar. Andy berujar, “Sudah berapa lama sih jadi PR ngurusin media?” Thomas berkata, “Ini pelecehan profesi wartawan tahu, enggak?!” Vivi bilang, “Enggak gitu dong caranya!” Saya berucap, “Cara kaya begini enggak etis!”

Namun, tetap saja kami tidak diizinkan masuk.

Di sini, yang benar-benar kami permasalahkan adalah perlakuan pihak penyelenggara acara yang sangat tidak ramah terhadap wartawan.

UU Pers No. 40/1999, terutama pada pasal IV ayat 1 dan 3, telah menegaskan bahwa kemerdekaan pers dijamin sebagai hak asasi warga negara. Untuk menjamin kemerdekaan pers, wartawan berhak mencari, memperoleh dan menyebarluaskan gagasan dan informasi.

Selain itu, pasal 18 ayat 1 bahkan membahas soal ketentuan pidana akibat menghalang-halangi kegiatan pers. Disebutkan, setiap orang yang secara melawan hukum dengan sengaja melakukan tindakan yang berakibat menghambat atau menghalangi pelaksanaan ketentuan pasal 4 ayat 2 dan 3 dipidana penjara paling lama dua tahun atau denda paling banyak Rp 500 juta.

Alhasil, kami menumpahkan kekesalan pada Sri Endah yang tak sengaja kami temui di lobi hotel. Sri pernah menjabat sebagai manajer relasi eksternal perusahaan. Ia meminta maaf dan berjanji akan menyampaikan unek-unek kami pada para petinggi Shell.

Lalu, Andy juga sempat menghubungi pihak Edelman untuk menanyakan perihal kejadian itu. Konsultan PR itu mengatakan belum tahu siapa pihak yang menahan agar pintu tidak dibuka. Namun, dikatakan bahwa Edelman bukan satu-satunya penyelenggara karena ada Event Organizer lain dari internal Shell.

Sehari setelah kejadian, pihak Edelman nyatanya mengirimkan email permintaan maaf pada para wartawan terkait, termasuk saya dan Andy.

“Melalui email ini, perkenankan saya mewakili perusahaan untuk menyampaikan permohonan maaf dan menyertakan pernyataan resmi perusahaan terkait kegiatan konferensi media yang berlangsung kemarin,” ujar Amalia Belmika, manajer Edelman Indonesia.

“Kami memastikan bahwa insiden serupa tidak akan terjadi lagi di masa mendatang.”

Tak lama setelah kejadian, Haviez pun menelepon kami berempat satu per satu untuk menyampaikan permintaan maafnya.

Lalu ia sempat berujar pada saya, “Apakah ada sesuatu yang bisa kami lakukan untuk menebus hal ini, Mas?”

“Tidak perlu. Coba lebih manusiawi saja lain kali kalau bikin acara,” balas saya.

Akhirnya, wartawan memang bukan Tuhan, tapi tolong pastikan juga bahwa kalian, para konsultan ternama itu, bukanlah setan.

Al-Asan

Ilustrasi/Merdeka.com (Arie Basuki)

Ada orang yang berhenti berusaha karena ia kehilangan alasan. Ada aksi yang urung terlaksana karena raibnya motivasi. Alhasil, reaksi yang sempat didamba hanya bisa terpekur di pojok utopia.

Tapi, alasan yang mana?

Manusia butuh makan, karena ia punya hidup sebagai alasan. Kita menolong mereka, karena mereka begitu mendamba belas kasihan. Anda memeluk dia, mungkin karena Anda ingin memilikinya.

Lalu bagaimana bila alasan yang ada tidak lagi relevan? Syahdan, Anda bakal enggan memeluk dia, kita tak lagi sudi menolong mereka, dan manusia tak peduli bila hidupnya harus selesai di sini.

Mungkin kita bisa belajar banyak dari Ratna, seorang ibu beranak dua yang tinggal di Jemur Wonosari, Surabaya. Ratna, layaknya warga miskin lainnya di Indonesia, hanyalah “figuran” yang kehadirannya kerap tak diperhitungkan dalam gejolak sosial ekonomi masyarakat.

Pemasukan hasil menjajakan dagangan warung dan gaji sang suami sebagai sekuriti tak pernah bisa benar-benar mencukupi. Utang sebesar 4 juta rupiah merupakan angka yang kelewat besar, dan melelahkan bagi Ratna dan keluarga yang sebelumnya baru menjual sepeda motor untuk melunasi pinjaman lainnya.

Ratna pun secara resmi telah memasuki lingkaran setan keluarga miskin di Indonesia. Pendidikan kurang, gaji rendah, hanya ada doa yang terucap berlebihan, bahkan kadang terasa memuakkan. Alasannya untuk hidup sesungguhnya tak sebesar alasannya untuk mati, setidaknya itu yang dipikirkan Ratna lebih dari setahun silam.

Jumat, 23 Maret 2012, Ratna yang saat itu berusia 35 tahun mengajak dua anaknya, Yusuf (8) dan Ardi (6) untuk bersama-sama menjemput ajal. Ketakutan lebih mudah dihadapi bila kita bersama melewati, mungkin begitu pikir Ratna.

Di saat warga tengah larut dalam suasana salat Jumat siang itu, Ratna justru sibuk melarutkan racun tikus dengan air putih di dalam sebuah gelas bening di kamar kosannya. Usai memaksa dua anaknya untuk menenggak racun oplosan tersebut, Ratna pun tak lupa menghabiskan bagiannya sendiri. Ratna tak sabar untuk mati, ia sudah terlampau siap dengan segudang alasan di belakang sebagai pembenaran.

Namun, tiba-tiba Ratna tertegun menyaksikan kedua anaknya muntah-muntah akibat efek racun. Ada yang berkecamuk dalam pikirannya. Ia sendiri sudah pucat pasi, dan maut bisa menjemput kapan saja dalam hitungan menit ke depan. Namun, mendadak akal sehatnya datang melabrak.

Dengan sempoyongan Ratna berlari ke kamar tetangga sebelah sembari membawa kartu jaminan kesehatan masyarakat. Ratna minta tolong anaknya diselamatkan. Panik, warga segera membawa Ratna dan anak-anaknya ke RSI Jemursari sebelum kemudian dirujuk ke RSU Dr. Soetomo. Di saat-saat akhir, Ratna meninggalkan ajal yang sebelumnya dipanggil dengan tangan terbuka.

Seorang ibu boleh punya seribu alasan untuk mati, tapi ia tak perlu alasan untuk mencintai dan melindungi anaknya sendiri. Ratna, hanya sempat terlupa karena cintanya tertumpuk alasan yang membawa pembenaran kematian.

Alasan adalah pembuka jalan, tapi bukan acuan kita dalam berproses ke depan. Karena saat semuanya terasa terlampau berat, mungkin kita hanya terlupa pada apa yang pernah kita cintai begitu rupa tanpa alasan membelakangi.

Seorang penulis ternama, Clive Staples Lewis, pernah berujar, “An explanation of cause is not a justification by reason.”

Mungkin ia bisa menuturkan hal tersebut karena ada hal-hal yang tak butuh alasan sebagai penjelasan kebenaran. Ada alasan yang berubah sebagai afirmasi, dan ada asan (asa atau harap) yang terbendung karenanya.

Jakarta, 23 Oktober 2013

Menyoal Cara Baca Kita Hari-hari Ini

Ilustrasi/PoCer.co

Ada masanya saat saya mampu menghabiskan novel Harry Potter and the Chamber of Secrets setebal 424 halaman dalam waktu sehari.

Saat itu saya masih di bangku Sekolah Dasar (SD). Bila tak salah, saya melahap sebagian besar isi novel tersebut di dalam mobil, di tengah perjalanan liburan keluarga ke luar kota – saya lupa ke mana dan persisnya kapan. Yang pasti, saya benar-benar keranjingan. Bahkan sesampainya di hotel transit, saya tetap lanjut membaca hingga lewat tengah malam karena begitu penasaran dengan akhir ceritanya.

Esoknya, mendadak saya menyesal karena merasa keasyikan yang ada berlalu terlalu cepat, dan saya pun mesti menunggu lama hingga kisah lanjutannya terbit dan terjemahannya keluar di Indonesia.

Sampai saat ini, seluruh kisah yang ada dalam buku itu masih begitu membekas, entah saat berbagai serangan misterius mulai terjadi di Hogwarts hingga membuat banyak korban “membatu”, kala Harry dan Ron terpaksa masuk ke hutan terlarang untuk mencari petunjuk pada laba-laba raksasa Aragog, atau ketika Harry sukses menghabisi Basilisk di kamar terlarang dengan bantuan Fawkes, burung phoenix milik Albus Dumbledore.

Kala itu, membaca terasa begitu menyenangkan dan membawa candu.

Kini pun saya masih rajin membaca, tapi lebih karena tuntutan sebagai wartawan. Bahan bacaan saya kebanyakan berita, entah untuk mengulik latar belakang dan konteks besar sebuah isu agar lebih siap sebelum berangkat liputan, atau agar sekadar tak ketinggalan mengikuti sebuah topik hangat yang sedang ramai diperbincangkan.

Bacaan saya pun datang dari berbagai sumber yang dengan mudahnya bisa didapat lewat mesin pencari Google. Misal, saat mengerjakan sebuah tulisan saya bisa membuka belasan tab di browser, kemudian melompat dari satu laman ke laman lainnya, memindai dengan kilat tiap bacaan dan mencomot berbagai data dan fakta untuk memperkaya tulisan.

Perlahan, tanpa disadari, aktivitas membaca saya di luar tuntutan kerjaan jadi jauh berkurang. Sepanjang 2017 saja, saya belum sempat menghabiskan satu pun novel atau kumpulan cerita pendek, walau bertumpuk karya sastrawan ternama telah saya beli dan menunggu untuk dilahap di rumah.

Bukan berarti saya tak mencoba. Namun, seakan daya konsentrasi dan stamina baca saya telah terkikis begitu dalam.

Contoh, saya butuh waktu kurang lebih dua bulan untuk menghabiskan kumpulan cerita pendek berjudul Mati Baik-Baik, Kawan karya Martin Aleida setebal 211 halaman beberapa waktu silam. Rasanya sulit betul mencari waktu luang untuk melahapnya hingga tuntas. Sekalinya mulai membaca, perhatian saya pun mudah terpecah oleh banyak hal, dari sekadar mengecek pesan masuk di ponsel hingga godaan untuk menelusuri lini massa berbagai media sosial, entah Facebook ataupun Instagram.

Namun, hal ini tak berlaku untuk buku-buku dengan topik bahasan tertentu yang memang sedari awal menarik perhatian saya, misalnya soal sepak bola dan teater. Hanya butuh dua hari bagi saya untuk membaca otobiografi Sir Alex Ferguson, mantan pelatih klub sepak bola Manchester United, setebal kurang lebih 400 halaman. Saya juga cuma perlu beberapa hari untuk melahap habis buku Bertolak dari yang Ada, sebuah kumpulan esai untuk sastrawan dan sutradara teater legendaris Putu Wijaya, dengan tebal 688 halaman. Untuk kedua buku ini, saya justru meluang-luangkan waktu agar bisa segera menghabiskannya.

Singkat kata, lebih mudah bagi saya saat ini untuk mencerna bacaan yang relevan dengan minat saya, yang telah terpatri begitu dalam di memori jangka panjang alias tempat penyimpanan pengetahuan secara permanen di otak selama ini. Sementara itu, butuh waktu lebih lama bagi saya untuk menghabiskan bacaan dengan topik baru, terutama yang berada di luar minat utama saya.

Hal ini rasanya terkait erat dengan perubahan kebiasaan saya belakangan ini yang jadi lebih senang membaca sepintas di dunia maya dibanding melahap sebuah buku fisik selama berjam-jam lamanya.

Dalam studi berjudul “Is Google Making Us Stupid? The Impact of the Internet on Reading Behaviour” karya para peneliti dari Universitas Victoria di Selandia Baru, disebutkan bahwa pembaca buku fisik cenderung lebih baik dalam hal daya konsentrasi, pemahaman, penyerapan dan daya ingat dibanding para pembaca online.

Di sana dijelaskan bahwa sebuah informasi dapat dicerna manusia melalui tiga tahapan: memori sensoris, memori jangka pendek dan memori jangka panjang.

Bila sebuah informasi dapat dipahami, ia akan dengan mudah masuk ke memori jangka pendek atau memori kerja kita. Setelah setidaknya 10 menit, informasi itu baru dapat masuk ke memori jangka panjang hanya bila ia terorganisasi dengan baik dan melalui proses pengulangan konstan.

Masalahnya, saat membaca berbagai tulisan di media online, banyak orang cenderung membaca sepintas tulisan yang ada serta melewatkan atau tak mengacuhkan banyak kata dalam prosesnya.

Itu bisa terjadi karena beragam faktor, entah karena kita terlampau terburu akibat sempitnya waktu luang, atau stamina baca kita memang telah jadi begitu terbatas hingga akhirnya jadi mudah jenuh atau teralihkan perhatiannya dengan puluhan notifikasi dari ponsel pintar di depan mata. Alhasil, jelas saja informasi yang terserap masuk ke memori jangka pendek jadi tidak lengkap hingga ia urung menembus memori jangka panjang yang punya kapasitas penyimpanan informasi tak terbatas.

Ini pun menjelaskan kenapa saya belakangan jadi lebih mudah melupakan detail isi tulisan yang telah saya buat sendiri, terutama untuk topik-topik tertentu yang jarang bersentuhan dengan lingkup kerja utama saya.

Kini, saya adalah wartawan ekonomi yang sehari-hari ditugaskan menulis soal energi, entah terkait dengan isu pertambangan mineral, kelistrikan, serta minyak dan gas. Maka wajar bila saya kadung khatam soal revisi terakhir Peraturan Pemerintah (PP) No. 23/2010 yang membuka jalan untuk relaksasi larangan ekspor mineral untuk konsentrat tembaga, nikel berkadar rendah dan bauksit yang telah melalui proses pencucian. Saya sudah terlalu sering menulis soal itu hingga informasi yang ada telah terorganisasi dan terulang dengan konstan di otak saya.

Di sisi lain, beberapa kali saya juga mesti meliput isu-isu non-energi secara insidental. Suatu hari saya pernah menulis soal bisnis umrah di Indonesia dan berbagai ancaman penipuan di sekelilingnya. Saya yakin saat itu saya telah menuliskannya dengan cukup komprehensif. Namun tetap saja, bila sekarang ada yang bertanya soal angka kelonjakan peserta umrah dalam lima tahun terakhir, atau bahkan tentang perbedaan antara umrah dan ibadah haji, akan sulit bagi saya untuk menjawabnya dengan baik.

Satu-satunya cara untuk mengembalikan stamina baca adalah dengan membangun ulang kebiasaan membaca linear, saat kita melahap sebuah tulisan dari awal hingga akhir, bukan melompat-lompat dari satu bagian ke bagian lainnya tanpa benar-benar menyelesaikannya hingga tuntas.

Mantan dosen saya di kampus dahulu pernah bercerita bahwa ia rutin menyisihkan setidaknya satu jam sebelum tidur tiap malamnya untuk membaca. Lain lagi halnya dengan rekan kantor saya yang menghadiahi dirinya sendiri waktu beberapa jam dalam sehari saat akhir pekan khusus untuk membaca. Ia bahkan sengaja pergi ke tempat sepi yang kondusif baginya untuk menunaikan aktivitas tersebut.

Rasanya sederhana, tapi praktiknya tentu tak akan semudah itu. Apalagi mengingat badai notifikasi dari media sosial ataupun aplikasi pesan singkat yang kerap menyapa lewat ponsel pintar kita. Belum lagi tumpukan pekerjaan yang seakan terus mengintimidasi waktu luang kita sehari-hari.

Namun, mungkin itu harga yang setimpal untuk menemukan kembali candu dalam sebuah buku. Karena saya ingin kembali lagi jadi anak kecil naif itu yang pernah melahap habis kisah Harry Potter hanya dalam waktu semalam. Karena buku memang sudah sepatutnya bermakna seperti itu; menyihir kita untuk tersesat dan enggan kembali lagi.

NB: Artikel ini pertama terbit di PoCer.co pada 19 Februari 2017.

Anak Badung itu Bernama Freeport

Tambang Grasberg PT Freeport Indonesia di Tembagapura, Mimika, Timika, Papua/Antara (M. Agung Rajasa)

Anda pernah satu sekolah dengan kawan super badung yang setiap hari kerjaannya cuma menceletuk di kelas, hampir tak pernah mengerjakan tugas, serta begitu gemar bolos tiap ada kesempatan, tapi tetap saja bisa naik kelas di akhir tahun ajaran karena orangtuanya kelewat kaya seakan punya tambang emas di mana-mana?

Kalau pernah, saya yakin Anda pasti sering dibuat kesal bukan main. Walau jarang berinteraksi langsung dengan yang dimaksud, tapi melihat tingkahnya dari jauh saja seharusnya bisa bikin kita habis kata-kata hingga cuma bisa geleng-geleng kepala.

Namun, di sisi lain, ada saat-saat tak terduga kala kita juga tanpa sengaja menikmati beragam banyolannya di kelas, ikut tertawa saat yang dimaksud mulai meledek guru atau bahkan mengerjai siswa tak bersalah yang kebetulan duduk tak jauh darinya.

Bahkan, kita juga tak bisa menolak bahagia saat bermain basket di lapangan yang baru saja dicat ulang dan makan enak di kantin yang baru saja dipugar karena hasil sumbangan tak seberapa dari orangtua yang dimaksud.

Serba salah? Iya.

Tapi, ya mau bagaimana lagi? Yang kaya yang punya kuasa, hingga seakan aturan dibuat menyesuaikan dengan kebutuhan mereka.

Ini berbahaya karena ia tumbuh dari pemakluman dan akan berkembang jauh lebih ganas bila banyak orang telah sepakat bahwa itu hanyalah sebentuk kewajaran, sementara yang lainnya ikut mengangguk karena tak paham atau tak peduli.

Sekarang bayangkan bila sekolah diubah statusnya menjadi negara, yang mengatur tata kelola hidup kita sehari-hari melalui konstitusi, Undang-Undang (UU) serta berbagai peraturan turunannya.

Dalam konteks ini, apa bisa UU ditekuk berkali-kali demi kepentingan anak-anak badung? Ya jelas bisa.

Kasus teraktual terjadi di sektor mineral dan batubara, yang lagi-lagi melibatkan pemain lama yang sudah begitu termasyhur karena kelihaiannya meloloskan diri dari jeratan perundangan: PT Freeport Indonesia.

Sejak 1967, Freeport Indonesia telah mengoperasikan tambang Grasberg di Papua yang berstatus tambang emas terbesar dan tambang tembaga ketiga terbesar di Nusantara. Walau begitu, tiap tahunnya anak usaha perusahaan tambang raksasa asal Amerika Serikat (AS), Freeport McMoRan, tersebut hanya menyetor pada pemerintah 1 persen royalti untuk penambangan emas dan 3,5 persen untuk tembaga.

Merujuk pada Kontrak Karya (KK) terakhirnya, yang berlaku sejak 30 Desember 1991, Freeport Indonesia hanya boleh beroperasi hingga akhir 2021, dengan negosiasi perpanjangan kontrak baru bisa dimulai paling cepat dua tahun sebelum kontrak habis.

Namun, berbagai “kebadungan” Freeport Indonesia telah dimulai jauh sebelum itu.

Untuk memperpanjang kontraknya, perusahaan tersebut diwajibkan untuk memenuhi beberapa prasyarat, termasuk di antaranya adalah kewajiban divestasi atau pelepasan saham serta komitmen untuk pembangunan smelter (fasilitas pengolahan hasil tambang) baru.

Merujuk pada KK, sejatinya Freeport Indonesia wajib melepas 51 persen kepemilikan sahamnya dalam waktu 20 tahun, yang jatuh tempo pada 2011. Namun, setahun jelang tenggat, mendadak keluar Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 23 Tahun 2010, yang diikuti dengan tiga revisi lanjutan hingga membuat perusahaan tersebut hanya mesti mendivestasi 30 persen saham mereka, alih-alih 51 persen.

Sementara itu, pembangunan smelter baru yang dimandatkan dalam UU Nomor 4 Tahun 2009 tentang pertambangan mineral dan batubara nyatanya juga tersendat di tengah jalan hingga kini.

Freeport Indonesia mengklaim bahwa mereka telah mengalokasikan belanja modal sebesar 2,2 miliar dollar AS untuk membangun smelter baru. Namun, baru 212,9 juta dollar AS yang telah benar-benar dibelanjakan, termasuk 115 juta dollar AS sebagai deposito jaminan pada pemerintah dan 50 juta dollar AS untuk pengurusan dokumen-dokumen terkait pembangunan smelter seperti analisis dampak lingkungan (Amdal).

Tak usah jauh-jauh, sejak UU terkait terbit pada 2009, hingga saat ini Freeport Indonesia bahkan belum juga menentukan lokasi pasti pembangunan smelter barunya.

“Pada intinya PT Freeport Indonesia berkomitmen untuk membangun smelter. Namun, membangun smelter membutuhkan kepastian lokasi. Karena itu, tentu ada beberapa pertimbangan yang mesti diselesaikan terlebih dahulu, antara lain kepastian perpanjangan kontrak yang berhubungan erat dengan ketersediaan dana untuk pembangunan smelter itu sendiri,” ujar Chappy Hakim, Direktur Utama PT Freeport Indonesia, saat rapat dengar pendapat dengan Komisi VII Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) pada 7 Desember 2016.

Jadi, saat pemerintah mensyaratkan perusahaan untuk membangun smelter demi perpanjangan kontraknya, perusahaan justru berbalik mensyaratkan perpanjangan kontrak demi pembangunan smelter.

Hal ini juga jadi mengherankan karena pembangunan smelter baru Freeport Indonesia mestinya dijadikan pertimbangan pemerintah untuk memperpanjang izin ekspor konsentrat tembaga perusahaan itu.

UU No. 4/2009 sesungguhnya memandatkan larangan ekspor sepenuhnya untuk mineral mentah, termasuk salah satunya konsentrat tembaga, pada 2014. Lalu, dengan adanya peraturan yang mendorong para perusahaan tambang untuk membuat smelter baru di dalam negeri, diharapkan industri hilir mineral domestik dapat terbangun dengan baik.

Namun, sejak 2014 hingga 2016, pemerintah begitu berbaik hati menerbitkan lima kali izin ekspor tembaga untuk Freeport Indonesia sebagai pengecualian bagi perusahaan tersebut dari kewajiban yang dimandatkan UU terkait.

Hingga puncaknya pada 11 Januari 2017, terbitlah revisi keempat dari PP 23/2010, diikuti peraturan turunan dalam bentuk Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Nomor 5 Tahun 2017 dan Nomor 6 Tahun 2017, yang kembali memperpanjang izin ekspor konsentrat tembaga selama lima tahun lamanya.

Tak hanya tembaga, nikel berkadar rendah, dan bauksit yang telah dilakukan pencucian yang masih dalam kategori mentah juga mendapat relaksasi ini, dengan syarat bahwa seluruh perusahaan tambang wajib memenuhi 30 persen kapasitas input smelter domestik dan mesti berkomitmen (lagi) untuk membangun smelter baru di dalam negeri.

Selain itu, perusahaan tambang seperti Freeport Indonesia juga mesti mengubah KK-nya menjadi Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK), yang mana mewajibkan perusahaan itu (lagi) untuk mendivestasi 51 persen sahamnya.

Keluarnya aturan relaksasi ini jadi ironis karena beberapa hal. Pertama, pemerintah berkali-kali melanggar sendiri UU yang telah diterbitkannya dengan produk hukum yang kelasnya lebih rendah: PP. Kedua, aturan ini jadi terkesan pilih kasih karena banyak pengusaha yang sesungguhnya telah mengikuti aturan di UU No. 4/2009 untuk mengembangkan industri smelter dalam negeri.

Menurut data Asosiasi Perusahaan Industri Pengolahan dan Pemurnian Indonesia (AP3I), dalam kurun lebih dari empat tahun terakhir, ada setidaknya 32 smelter baru telah terbangun di dalam negeri dengan total nilai investasi sebesar 20 miliar dollar AS.

Lalu, kenapa pemerintah malah menganakemaskan segelintir perusahaan saja, termasuk Freeport Indonesia, dengan kembali memberikan relaksasi?

Bagi beberapa orang, jawabannya mudah saja.

Menurut AP3I, Freeport Indonesia telah menyumbang royalti sebesar 2,4 miliar dollar AS dan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sebesar 1,5 miliar dollar AS dalam periode 2010 hingga 2015.

Selain itu, Freeport Indonesia pun telah menyumbang bea keluar ekspor konsentrat sekiranya 92 juta dollar AS sepanjang 2016 saja, menurut data Kementerian Keuangan.

Di tengah kondisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang senantiasa defisit dari tahun ke tahun, pemasukan dari Freeport Indonesia terasa bagai angin segar bagi pemerintah.

Serba salah? Iya.

Tapi, ya mau bagaimana lagi? Yang kaya yang punya kuasa, hingga seakan aturan dibuat menyesuaikan dengan kebutuhan mereka.

Ujung-ujungnya kita hanya bisa kehabisan kata-kata dan geleng-geleng kepala, sembari sesekali tertawa kecil menyaksikan pemerintah ketar-ketir menerima segala ledekan dari yang dimaksud.

NB: Artikel ini pertama terbit di Geo Times pada 31 Januari 2017.