Menengok Kebun Sawit di Bangka

Pada 25-28 April 2017, saya dinas luar kota ke Bangka untuk memenuhi undangan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) Sawit. Salah satu agendanya adalah mengunjungi kebun plasma kelapa sawit dan pabrik pengolahan crude palm oil (CPO) milik Kencana Agri – perusahaan yang tercatat di Bursa Efek Singapura – di Tempilang, Bangka Barat.

Sepanjang 2016, Kencana Agri memproduksi 130 ribu ton CPO. Pada 2017, mereka optimis bisa meningkatkan jumlah produksi sekitar 15-20 persen setelah dampak dari fenomena iklim El Niño mulai hilang di akhir tahun lalu.









Kamera: iPhone 5s

Forum Paranoia Indonesia

Pada 3 Juni 2016, saya kebagian meliput apel siaga untuk mencegah kebangkitan Partai Komunisme Indonesia (PKI) di Tanah Air di depan Istana Negara, Jakarta. Berbagai organisasi massa berkumpul di sana, dari Front Pembela Islam (FPI), Forum Umat Islam (FUI), Laskar Pembela Islam (LPI), hingga Forum Komunikasi Putra-Putri Purnawirawan dan Putra-Putri TNI-Polri (FKPPI).

Saya tak mengerti, apa yang sebenarnya mereka takutkan? Benarkah PKI telah bangkit, atau mereka hanya termakan desas-desus yang tak jelas juntrungannya?

Bagi saya, mereka cuma kurang piknik.

JPVPS160603001

JPVPS160603002

JPVPS160603003

JPVPS160603004

JPVPS160603005

JPVPS160603006

JPVPS160603007

JPVPS160603008

 

Kamera: Canon 600D | Lensa: 18-55 mm

Seaworld di Akhir Tahun

Pada 21 Desember 2015, saya menyambangi Seaworld Indonesia bersama Kalya. Ia memang sudah lama ngidam ingin ke sana. Namun saya baru sempat menemani saat akhir tahun.

Seaworld Indonesia resmi beroperasi sejak 3 Juni 1994. Luasnya kira-kira 3 hektare. Ada empat area di situ: akuarium utama, area air tawar, lorong antasena (bawah air), dan akuarium dugong. Kalya jelas paling girang menyambangi area terakhir. Sudah lama ia terobsesi untuk jadi mermaid.

IMG_0085

IMG_0086

IMG_0088

IMG_0096

IMG_0106

IMG_0107

IMG_0108

IMG_0124

IMG_0135

IMG_0138

 

Kamera: Canon 600D | Lensa: 18-55 mm

Wisata Air Terjun Kaki Gunung Rinjani

Pada 2-5 Oktober 2015, saya berkesempatan pelesir ke Lombok untuk pertama kalinya, mengikuti serangkaian acara Jelajah Negeri Tembakau III. Djarum jadi sponsor acara ini. Mereka mengajak 15 blogger dari berbagai kota, termasuk Jakarta, Bandung, Yogyakarta dan Surabaya untuk menengok kebun tembakau jenis Virginia FC di Desa Wajageseng, Lombok Tengah. Kami pun diajak ke gudang mereka di daerah Montong Gamang untuk melihat proses grading, sortasi, pengeringan, hingga pengemasan sebelum tembakau dikirim ke pabrik mereka di Kudus, Jawa Tengah.

Selain itu, para peserta juga sempat mampir semalam ke Desa Adat Bayan, Karang Bajo, Lombok Utara. Di sana, masyarakat masih menjaga teguh warisan adat nenek moyang. Kami pun berdiskusi panjang soal usaha pengembangan pariwisata di daerah ini, yang kerap kurang promosi dan kalah pamor dibanding berbagai destinasi wisata daerah tetangga: Bali.

Padahal, Lombok punya segala modal untuk jadi magnet turis mancanegara. Di sana ada kebun tembakau luas, desa-desa adat masyarakat suku Sasak yang penuh warisan budaya, berbagai pantai sepi nan eksotis, dan masih banyak lainnya. Lombok tak melulu soal Gunung Rinjani, Pantai Senggigi, dan Gili Trawangan.

Sebut saja duet air terjun Sendang Gile dan Tiu Kelep di kaki Gunung Rinjani yang masih awam di telinga masyarakat perkotaan di Pulau Jawa seperti saya. Beruntung, kami mampir ke sana pada hari ketiga di Lombok. Sendang Gile hanya berjarak 15 menit jalan kaki santai dari pintu masuk. Sementara itu untuk mencapai Tiu Kelep, kita mesti lanjut berjalan lagi selama kurang lebih setengah jam. Alamnya asri. Sayang, sampah mulai bertebaran di sepanjang jalan.

IMG_5780

IMG_5785

IMG_5791

IMG_5805

IMG_5808

IMG_5810

IMG_5813

IMG_5829

IMG_5834

IMG_5836

IMG_5858

IMG_5879

 

Kamera: Canon 600D | Lensa: 18-55 mm

Jelajah Solo

Pada 6-8 Maret 2015, saya pelesir ke Solo bersama beberapa kawan dari Teater KataK. Tujuan utamanya adalah menyaksikan rekan-rekan teater mengikuti Lomba Monolog Artefac UNS 2015 di Taman Budaya Jawa Tengah. Selain itu, kami juga menyempatkan diri jalan-jalan, entah jajal kuliner malam di sekitar Stasiun Solo Balapan, singgah ke Monumen Pers Nasional, serta berkeliling Pasar Ngarsopuro. Berikut adalah foto-foto jalanan yang sempat saya ambil selama berada di sana.

IMG_1475

IMG_1487

IMG_1922

IMG_1925

IMG_1936

IMG_1978

IMG_1991

IMG_2009

IMG_2012

IMG_2014

IMG_2021

IMG_2040

 

 

Kamera: Canon 600D | Lensa: 18-55 mm

Magisnya Bukit Moko

Sabtu, 24 Januari 2015, saya pergi bersama beberapa kawan ke Bandung. Salah satu tempat yang kami singgahi adalah Bukit Moko, yang terletak di Kampung Buntis, Desa Cimenyan. Lokasinya masih beberapa kilometer di atas Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda. Disarankan tidak menggunakan mobil sedan atau yang berjenis ceper bila berniat melancong ke sana karena jalanan yang rusak dan penuh batu.

Di Bukit Moko, kita bisa menyaksikan pemandangan Bandung 180 derajat dari atas. Sejauh mata memandang, hanya ada sawah, ladang, dan pegunungan. Rasanya begitu menyejukkan. Tak hanya itu, kita juga bisa menjajal Puncak Bintang yang berketinggian sekitar 1.500 meter di atas permukaan laut. Dalam perjalanan menuju ke sana, kita akan melalui hutan pinus yang menjulang di sekitar hingga suasananya terkesan sureal.

Buat saya, Bukit Moko adalah salah satu tempat yang tak rugi untuk dikunjungi lebih dari satu kali.

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

11

12

13

14

15

 

 

Kamera: Canon 600D | Lensa: 18-55 mm & 55-250 mm

Pada Sebuah Fajar

Saya cukup sering main ke daerah Puncak dalam beberapa bulan terakhir. Salah satu tempat favorit saya adalah sebuah warung pinggir jalan sebelum Puncak Pass Resort dari arah Ciawi. Dari sana, kita bisa menyaksikan matahari terbit dengan begitu megahnya. Karena itu saya selalu datang ke sana sebelum pukul 5 pagi, dan baru pulang sekitar dua jam kemudian. Salah satu puisi Robert Loveman berikut rasanya pas untuk menggambarkan indahnya pemandangan di sana kala fajar.

 

The Dawn is a wild, fair woman,

with sunrise in her hair;

look where she stands, with pleading hands,

to lure me there.

 

1

2

3

4

5

6

7

8

9

 

 

Kamera: Canon 600D | Lensa: 18-55 mm & 55-250 mm

Cerita Carita

Pada 18-20 Januari 2015, saya dan rekan-rekan kantor majalah The Geo Times pelesiran bareng ke Pantai Carita, Banten. Niatnya penyegaran, sekalian rapat kerja. Selama dua malam, kami menginap di Mutiara Carita Cottages. Karena sedang musim hujan, kami justru tak begitu selera bermain di pantai. Kami justru banyak bermalas-malasan di vila atau jalan-jalan kecil menikmati pemandangan sekitar. Cukuplah untuk sesaat mengusir penat, sebelum kembali ke rutinitas yang padat.

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

11

 

 

Kamera: Canon 600D | Lensa: 18-55 mm & 55-250 mm

Konser Perdana untuk Presiden ke-7

Pada 20 Oktober 2014, Joko Widodo resmi dilantik sebagai presiden ke-7 Republik Indonesia. Para relawan turun ke jalan merayakan sejak pagi. Malamnya, mereka juga mengadakan konser rakyat di kompleks Monumen Nasional, Jakarta. Museum Rekor Indonesia mencatat, Jokowi satu-satunya presiden Indonesia yang dibuatkan acara syukuran massal.

Ribuan orang datang memadati tempat acara. Suasananya sekilas seperti pasar malam. Para musisi ternama bergantian mengisi acara. Ada Saykoji, Kikan Namara, Vicky Shu, Robi Navicula, Badai Kerispatih, Yovie Widianto, Kahitna, Slank, dan band rock asal Inggris, Arkarna. Slankers terlihat mendominasi bagian depan panggung sejak awal. Tanpa lelah, mereka terus mengibarkan bendera Slank. Padahal, pembawa acara berulang kali menegur mereka karena bendera itu menutupi kamera para awak media.

Banyak hal menarik terjadi. Panitia urung menerbangkan 7 ribu lampion dengan alasan Monas merupakan jalur penerbangan pesawat. Butet Kartaradjesa membawakan tujuh pantun untuk Jokowi. Arkarna menyanyikan lagu “Kebyar-kebyar” dengan terbata-bata.

Ironisnya, para pengisi acara lantang menyerukan konsep revolusi mental ala Jokowi, tapi aksi para pengunjung tak mencerminkan hal itu. Entah kisah soal tukang bakso yang dijarah pengunjung tak beradab, Slankers yang tak bisa diatur, atau sampah berserakan yang membuat Monas terlihat mengenaskan.

Ini menandakan, perjuangan belum usai. Jokowi punya tugas berat untuk membuktikan bahwa revolusi mental bukan sekadar utopia.

IMG_0030

IMG_0031

IMG_0040,1

IMG_0040

IMG_0041

IMG_0141

IMG_0163

IMG_0179

IMG_0180

IMG_0203

IMG_0224

IMG_0236

IMG_0249,1

IMG_0258

IMG_0260

 

 

Kamera: Canon 1000D | Lensa: 18-55 mm