Seaworld di Akhir Tahun

Pada 21 Desember 2015, saya menyambangi Seaworld Indonesia bersama Kalya. Ia memang sudah lama ngidam ingin ke sana. Namun saya baru sempat menemani saat akhir tahun.

Seaworld Indonesia resmi beroperasi sejak 3 Juni 1994. Luasnya kira-kira 3 hektare. Ada empat area di situ: akuarium utama, area air tawar, lorong antasena (bawah air), dan akuarium dugong. Kalya jelas paling girang menyambangi area terakhir. Sudah lama ia terobsesi untuk jadi mermaid.

IMG_0085

IMG_0086

IMG_0088

IMG_0096

IMG_0106

IMG_0107

IMG_0108

IMG_0124

IMG_0135

IMG_0138

 

Kamera: Canon 600D | Lensa: 18-55 mm

Wisata Air Terjun Kaki Gunung Rinjani

Pada 2-5 Oktober 2015, saya berkesempatan pelesir ke Lombok untuk pertama kalinya, mengikuti serangkaian acara Jelajah Negeri Tembakau III. Djarum jadi sponsor acara ini. Mereka mengajak 15 blogger dari berbagai kota, termasuk Jakarta, Bandung, Yogyakarta dan Surabaya untuk menengok kebun tembakau jenis Virginia FC di Desa Wajageseng, Lombok Tengah. Kami pun diajak ke gudang mereka di daerah Montong Gamang untuk melihat proses grading, sortasi, pengeringan, hingga pengemasan sebelum tembakau dikirim ke pabrik mereka di Kudus, Jawa Tengah.

Selain itu, para peserta juga sempat mampir semalam ke Desa Adat Bayan, Karang Bajo, Lombok Utara. Di sana, masyarakat masih menjaga teguh warisan adat nenek moyang. Kami pun berdiskusi panjang soal usaha pengembangan pariwisata di daerah ini, yang kerap kurang promosi dan kalah pamor dibanding berbagai destinasi wisata daerah tetangga: Bali.

Padahal, Lombok punya segala modal untuk jadi magnet turis mancanegara. Di sana ada kebun tembakau luas, desa-desa adat masyarakat suku Sasak yang penuh warisan budaya, berbagai pantai sepi nan eksotis, dan masih banyak lainnya. Lombok tak melulu soal Gunung Rinjani, Pantai Senggigi, dan Gili Trawangan.

Sebut saja duet air terjun Sendang Gile dan Tiu Kelep di kaki Gunung Rinjani yang masih awam di telinga masyarakat perkotaan di Pulau Jawa seperti saya. Beruntung, kami mampir ke sana pada hari ketiga di Lombok. Sendang Gile hanya berjarak 15 menit jalan kaki santai dari pintu masuk. Sementara itu untuk mencapai Tiu Kelep, kita mesti lanjut berjalan lagi selama kurang lebih setengah jam. Alamnya asri. Sayang, sampah mulai bertebaran di sepanjang jalan.

IMG_5780

IMG_5785

IMG_5791

IMG_5805

IMG_5808

IMG_5810

IMG_5813

IMG_5829

IMG_5834

IMG_5836

IMG_5858

IMG_5879

 

Kamera: Canon 600D | Lensa: 18-55 mm

Jelajah Solo

Pada 6-8 Maret 2015, saya pelesir ke Solo bersama beberapa kawan dari Teater KataK. Tujuan utamanya adalah menyaksikan rekan-rekan teater mengikuti Lomba Monolog Artefac UNS 2015 di Taman Budaya Jawa Tengah. Selain itu, kami juga menyempatkan diri jalan-jalan, entah jajal kuliner malam di sekitar Stasiun Solo Balapan, singgah ke Monumen Pers Nasional, serta berkeliling Pasar Ngarsopuro. Berikut adalah foto-foto jalanan yang sempat saya ambil selama berada di sana.

IMG_1475

IMG_1487

IMG_1922

IMG_1925

IMG_1936

IMG_1978

IMG_1991

IMG_2009

IMG_2012

IMG_2014

IMG_2021

IMG_2040

 

 

Kamera: Canon 600D | Lensa: 18-55 mm

Ada Bukit Instagram di Bandung

IMG_0916

Bukit Instagram/Viriya Paramita

“Begitu mudahnya orang-orang mendapatkan berbagai berita dari media sosial rasanya sungguh menakutkan,” kata Rush Limbaugh, penulis dan pembawa acara asal Amerika Serikat.

Banjir informasi adalah salah satu konsekuensi perkembangan media sosial dewasa ini. Berita mengenai apa saja dan dari mana saja kini bisa kita temukan segera secara online. Tak terkecuali soal tempat wisata.

Tengok saja Tebing Karaton di Kampung Ciharegem Puncak, Desa Ciburial, Kecamatan Cimenyan, Bandung, Jawa Barat. Mulanya tebing ini bagian dari Taman Hutan Raya Djuanda seluas 590 hektare yang membentang dari Dago Pakar hingga Maribaya. Kawasan ini merupakan daerah konservasi, sehingga tak sembarang orang bisa memasukinya.

Semua berubah sejak pertengahan 2014. Menurut cerita yang beredar, kala itu seorang mahasiswa asal Yogyakarta iseng menyelundup masuk kawasan itu. Pada ketinggian sekitar 1.200 meter di atas permukaan laut, ia menemukan sebuah tebing dengan bebatuan menjorok ke jurang. Warga biasa menyebut tebing itu Cadas Jontor.

“Orang Dinas Kehutanan menyebut tempat itu Patahan Lembang,” kata Agus Wiyana, 26 tahun, petugas Penjaga Aset Taman Hutan Raya Djuanda. “Disebut seperti itu karena ia membentang antara Kabupaten Bandung dan Kabupaten Bandung Barat, terbelah oleh Sungai Cikapundung.”

Sejauh mata memandang, kita bisa menyaksikan pegunungan dan deretan pohon-pohon pinus dari arah tebing. Pada pagi hari kabut menyelimuti pepohonan hingga menciptakan suasana elok nan magis. Angin gunung menjadikan udara terasa segar dan sejuk.

IMG_0944

Suasana pagi di Tebing Karaton/Viriya Paramita

IMG_0955

Pohon-pohon pinus di Tebing Karaton/Viriya Paramita

Terkesima oleh pemandangan yang terhampar, sang mahasiswa segera mengabadikan momen menakjubkan itu dan mengunggahnya ke berbagai media sosial. Segera foto-foto itu menyebar di dunia maya. Kemudian banyak orang berbondong-bondong mencari tahu dan mendatangi tebing itu. Alhasil, muncullah sebutan Bukit Instagram karena begitu banyak orang mengunggah foto di sana ke media sosial Instagram.

IMG_0922

Fajar di Tebing Karaton/Viriya Paramita

Di sisi lain, Asep Sobana, 43 tahun, dipercaya sebagai pemberi nama Tebing Karaton. Pencari rumput ini mengaku mendapat wangsit untuk sebutan itu pada tengah malam menjelang 1 Mei 2014. Ia pun berinisiatif memasang pelang penunjuk dan memperbaiki jalanan sekitar tebing. “Karaton kan sebuah kemegahan dan kemewahan alam. Di sini alamnya indah dan megah,” katanya.

Tak hanya itu, Asep juga membuka warung bandrek serta tempat parkir dan toilet umum. Selanjutnya kian ramai wisatawan yang berkunjung. Melihat besarnya animo pengunjung, pada 8 Agustus 2014 pemerintah menjadikan Tebing Karaton sebagai tempat wisata.

IMG_0940

Papan nama Tebing Karaton/Viriya Paramita

Biasanya sekitar 200 hingga 300 pengunjung datang pada hari biasa serta 400 hingga 700 pengunjung di akhir pekan. “Saat Tebing Karaton baru ngetop, bisa datang 700 sampai 800 orang per hari. Bahkan, saat akhir pekan, pernah datang 3.000 orang sekaligus ke sini,” kata Agus.

Untuk mencapai Tebing Karaton, kita mesti melalui Dago Pakar ke arah Taman Hutan Raya Djuanda, melewati jalanan yang relatif sempit, curam, dan berbatu. Karena itu, pengunjung tidak disarankan menggunakan mobil sedan.

Setelah melewati pintu gerbang taman tersebut, mesti berbelok ke kanan dan memasuki wilayah perkampungan. Selewat sekitar 3 kilometer, kita akan menemukan warung bandrek dengan baliho besar milik Asep. Kemudian jalan kembali menanjak hingga mencapai lokasi parkir umum Tebing Karaton. Tarif parkir mobil Rp 10.000 dan sepeda motor Rp 5.000. Dari tempat ini kita bisa berjalan kaki beberapa kilometer sebelum tiba di pintu masuk.

Pilihan lain adalah menggunakan jasa ojek dengan tarif sekitar Rp 15.000 sekali jalan. Wisatawan lokal dikenai tarif masuk Rp 11.000 dan turis asing Rp 76.000. Tebing Karaton dibuka untuk umum dari pukul 5 pagi hingga 6 sore.

Saat suntuk menyergap, Tebing Karaton bisa menjadi pilihan wisata ideal. Namun, jangan terlalu bersemangat berdiri di atas tebing tepi jurang dan asyik berfoto hingga lupa keselamatan.

 

NB: Tulisan ini pertama dimuat di majalah The Geo Times edisi 16 Februari 2015.

Magisnya Bukit Moko

Sabtu, 24 Januari 2015, saya pergi bersama beberapa kawan ke Bandung. Salah satu tempat yang kami singgahi adalah Bukit Moko, yang terletak di Kampung Buntis, Desa Cimenyan. Lokasinya masih beberapa kilometer di atas Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda. Disarankan tidak menggunakan mobil sedan atau yang berjenis ceper bila berniat melancong ke sana karena jalanan yang rusak dan penuh batu.

Di Bukit Moko, kita bisa menyaksikan pemandangan Bandung 180 derajat dari atas. Sejauh mata memandang, hanya ada sawah, ladang, dan pegunungan. Rasanya begitu menyejukkan. Tak hanya itu, kita juga bisa menjajal Puncak Bintang yang berketinggian sekitar 1.500 meter di atas permukaan laut. Dalam perjalanan menuju ke sana, kita akan melalui hutan pinus yang menjulang di sekitar hingga suasananya terkesan sureal.

Buat saya, Bukit Moko adalah salah satu tempat yang tak rugi untuk dikunjungi lebih dari satu kali.

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

11

12

13

14

15

 

 

Kamera: Canon 600D | Lensa: 18-55 mm & 55-250 mm

Bertualang di Green Canyon Indonesia

IMG_0261

Sungai hijau di Green Canyon/Felix Jody Kinarwan

Mengarungi sungai di dasar lembah hijau, menyusuri tebing sembari melawan arus deras, lalu memanjat batu besar dan melompat dari ketinggian enam meter. Berbagai adegan itu sekilas begitu menantang dan hanya bisa ditemukan di film-film petualangan ala Hollywood. Namun, kita bisa menjajalnya sendiri dengan aman dan menyenangkan jika menyambangi Green Canyon.

Bukan, ini bukan kesalahan penulisan. Green Canyon adalah sebuah objek wisata lembah hijau di Desa Kertayasa, Kecamatan Cijulang, Ciamis, Jawa Barat. Green Canyon tentu berbeda dari Grand Canyon di Amerika Serikat, walau sama-sama terbentuk secara alamiah oleh kikisan aliran sungai selama jutaan tahun. Grand Canyon “diukir” oleh Sungai Colorado, sedangkan Green Canyon “dipahat” oleh Sungai Cijulang.

Sebelumnya Green Canyon disebut Cukang Taneuh, yang secara harfiah berarti jembatan tanah. Namun, sejak kedatangan Bill John, turis Amerika Serikat, pada 1989 serta wisatawan Prancis, Frank dan Astrid, setahun berselang, nama Green Canyon mulai mencuat. Entah siapa di antara mereka yang memopulerkannya terlebih dahulu. Yang pasti, kata “green” merujuk pada hamparan air sungai bening berwarna hijau toska.

Kita bisa mencapai Green Canyon melalui Kota Tasikmalaya, Jawa Barat. Dari sana, ada dua pilihan rute perjalanan. Pertama, jalur timur melewati Ciamis, Banjar, Pangandaran, Parigi, lalu Cijulang yang berjarak sekitar 170 kilometer. Kedua, jalur selatan melewati Cipatujah, Cikalong, Cimanuk, lalu Cijulang, dengan jarak sekitar 60 kilometer. Meskipun rute kedua berjarak lebih pendek, kondisi jalan relatif lebih buruk karena kerap dilalui truk pengangkut pasir besi.

Persiapkan uang secukupnya, karena tak ada anjungan tunai mandiri di sekitar Green Canyon. Sesampai di Dermaga Ciseureuh, kita bisa menyewa perahu kayuh bertarif Rp 150 ribu dengan kapasitas maksimal enam orang. Lalu kita akan diantar mengarungi sungai sepanjang 3 kilometer di tengah kepungan tebing-tebing menjulang yang berhias pepohonan rindang. Terdapat pula stalaktit dan stalagmit yang terbentuk alami di dinding gua-gua kecil.

IMG_0173

Mengarungi sungai di Green Canyon/Viriya Paramita

Kompleks wisata Green Canyon memang bagai kumpulan wahana alam. Bahkan, terdapat tetesan air tebing yang disebut Hujan Abadi. Air itu berasal dari akar pohon dan tak pernah kering walau di musim kemarau sekalipun. Warga sekitar menyebutnya Pemandian Putri. Menurut mitos yang beredar, orang yang mandi di sana akan mendapatkan khasiat awet muda.

Di satu titik, perahu mesti berhenti karena terhalang bebatuan setinggi 1,5 meter. Dari sana kita harus menyusuri pinggir sungai yang dipenuhi anak kepiting sembari melawan arus dengan mengenakan jaket pelampung. Tak jarang pengunjung tergelincir karena pegangan licin dan arus kelewat deras hingga terseret kembali ke titik perhentian perahu.

Jika berhasil melaluinya, kita akan tiba persis di bawah batu payung. Batu berbentuk mirip jamur setinggi 6 meter ini salah satu tempat favorit wisatawan di Green Canyon. Kita bisa naik ke batu itu dengan memanjat tebing di sebelahnya. Lalu, para pengunjung akan mengadu nyali dengan melompat dan menceburkan diri ke sungai.

IMG_0177

Batu payung di Green Canyon/Viriya Paramita

IMG_0184

Wisatawan menikmati tetesan air tebing Green Canyon sembari menunggu giliran melompat dari atas batu payung/As Safa Prasodjo

Bila ingin mencicipi tantangan lebih, kita bisa mencoba body rafting atau mengarungi sungai dengan hanya bermodal tubuh sendiri. Untuk itu, kita mesti membayar Rp 200 ribu per orang dan akan mendapat alat-alat pengaman seperti helm, jaket pelampung, dan deker. Setelah itu, kita diantar dengan mobil bak terbuka ke mulut sungai tempat memulai petualangan. Butuh waktu dua hingga tiga jam untuk menyusuri sungai hingga menemukan batu payung sebagai tempat perhentian terakhir.

IMG_0257

Wisatawan bersantai di atas bebatuan Green Canyon/Viriya Paramita

Selesai rekreasi alam, kita bisa melepas lelah dan mengisi perut di warung-warung di pinggir sungai arah keluar Green Canyon. Tersedia pula berbagai penginapan di sekitar kompleks ini, dari yang bertarif Rp 300 ribu hingga di atas Rp 1 juta per malam.

Green Canyon rasanya bisa jadi pilihan tepat untuk sejenak rehat dari penat dan pengap kehidupan perkotaan. Di tempat ini kita tak hanya berlibur, tapi juga bertualang di alam terbuka.

NB: Tulisan ini pertama dimuat di majalah The Geo Times edisi 26 Januari 2015.

Pada Sebuah Fajar

Saya cukup sering main ke daerah Puncak dalam beberapa bulan terakhir. Salah satu tempat favorit saya adalah sebuah warung pinggir jalan sebelum Puncak Pass Resort dari arah Ciawi. Dari sana, kita bisa menyaksikan matahari terbit dengan begitu megahnya. Karena itu saya selalu datang ke sana sebelum pukul 5 pagi, dan baru pulang sekitar dua jam kemudian. Salah satu puisi Robert Loveman berikut rasanya pas untuk menggambarkan indahnya pemandangan di sana kala fajar.

 

The Dawn is a wild, fair woman,

with sunrise in her hair;

look where she stands, with pleading hands,

to lure me there.

 

1

2

3

4

5

6

7

8

9

 

 

Kamera: Canon 600D | Lensa: 18-55 mm & 55-250 mm

Cerita Carita

Pada 18-20 Januari 2015, saya dan rekan-rekan kantor majalah The Geo Times pelesiran bareng ke Pantai Carita, Banten. Niatnya penyegaran, sekalian rapat kerja. Selama dua malam, kami menginap di Mutiara Carita Cottages. Karena sedang musim hujan, kami justru tak begitu selera bermain di pantai. Kami justru banyak bermalas-malasan di vila atau jalan-jalan kecil menikmati pemandangan sekitar. Cukuplah untuk sesaat mengusir penat, sebelum kembali ke rutinitas yang padat.

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

11

 

 

Kamera: Canon 600D | Lensa: 18-55 mm & 55-250 mm

Sawarna yang Penuh Warna

IMG_0504

Sawarna saat senja/Viriya Paramita

Mentari belum beranjak tinggi. Jarum pendek arloji saya menunjuk angka delapan. Masih pagi. Belasan pengendara sepeda motor mengantre sesak di depan pintu masuk Desa Sawarna. Aksesnya cukup sempit. Pengunjung mesti menyeberangi sungai melalui jembatan kayu sepanjang sekitar 50 meter dengan lebar yang hanya cukup dilewati satu orang. Para pengunjung pun mesti bergantian untuk masuk-keluar.

Di dalam, barisan pengendara sepeda motor panjang menunggu giliran keluar. Mereka datang dari berbagai daerah dengan sepeda motor kebanyakan berpelat B, F, atau D. Mereka siap pulang, sementara yang di sebelah luar baru akan menuntaskan penasaran. Desa Sawarna di akhir pekan memang padat.

Ada tiga jembatan goyang sebagai akses masuk Sawarna. Ketiga jembatan untuk menuju Pantai Pasir Putih, Tanjung Layar, dan Legon Pari. Pengunjung bermobil biasanya memarkir mobil di tanah lapang seberang pintu masuk desa. Bisa menitipkan mobil hingga berhari-hari dengan tarif sekitar Rp 25 ribu per malam.

Desa Sawarna masuk wilayah Kecamatan Bayah, Kabupaten Lebak, Banten. Ada dua pilihan rute perjalanan. Pertama, kita bisa mencapainya lewat Ciawi menuju Cibadak dan Pelabuhan Ratu. Jalur lain adalah melalui Serang Timur menuju Pandeglang, Malimping, dan Bayah. Jalur ini jalanan relatif rusak dan tak rata, namun lebih banyak angkutan umum yang bisa ditemui.

Orang-orang mengunjungi Sawarna karena tergiur keindahan alamnya. Pantai-pantai yang mengitari desa ini punya keunikan masing-masing. Pantai Pasir Putih menjadi favorit keluarga untuk menghabiskan waktu bersama. Di pantai ini pengunjung bisa sekadar bersantai atau berenang di air berombak sedang. Tak ada karang di bibir pantai. Sejauh mata memandang, hanya ada hamparan pasir putih dan debur ombak yang konstan.

IMG_0186

Pantai Pasir Putih/Viriya Paramita

Setelah itu, kita bisa berjalan kaki menuju Karang Taraje. Di sana terdapat gugusan karang yang menjulang sepanjang pantai. Kala air pasang, ombak menerjang barisan karang itu hingga tercipta “air terjun” mini di pinggir laut.

Sayang hal itu tak terjadi setiap waktu. Menurut warga sekitar, kemungkinan terbesar pengunjung bisa melihat “air terjun” itu hanya terjadi pada tanggal 18 tiap bulan. Saat itu ombak lebih besar karena terpengaruh gravitasi Bulan yang posisinya sedang mendekat ke Bumi.

Meski demikian, pemandangan di sana memiliki candu sendiri. Karang-karang yang banyak membentuk kolam kecil sebagai rumah binatang laut, ikan teripang, kepiting, ataupun bulu babi. Pandan laut juga tumbuh di pinggir jalan dan menambah kesan eksotis Karang Taraje.

pantai-sawarna-banten-karang-taraje

Karang Taraje/marotravel.com

Lain lagi Legon Pari yang menjadi tempat favorit para wisatawan untuk menikmati matahari terbit. Dari pusat penginapan, kita bisa mencapai Legon Pari dengan berjalan kaki sekitar 1 jam. Sesuai namanya, terdapat banyak laguna di kawasan ini. Laguna adalah danau asin kecil yang dahulu merupakan bagian laut dangkal. Biasanya terpisah dari laut karena peristiwa geografis.

Banyak ganggang di Legon Pari. Suasananya pun relatif sepi karena cukup jauh dari lokasi penginapan dibanding tempat-tempat lainnya. Hanya ada satu-dua warung penjaja makanan di sini.

Kala senja tiba kita bisa menyambangi Tanjung Layar. Wilayah ini merupakan salah satu ikon Sawarna. Di tempat ini terdapat dua karang besar yang berdiri tegak berimpitan seperti layar kapal. Saat senja, matahari terbenam menjadi latar serasi bagi dua benteng kokoh itu.

TanjungLayarSawarnaIndonesia

Tanjung Layar/penginapansawarna.blogspot.com

Tak hanya pantai, Gua Lalay juga menjadi favorit pengunjung untuk caving. Di tempat ini kita akan menyusuri lorong gelap beralaskan sungai kecil hingga sejauh 400 meter. Saat sore, ribuan kelelawar ramai beterbangan di gua ini. Bila tak membawa perlengkapan memadai, pengunjung bisa menyewa senter kepala dengan tarif Rp 5 ribu. Selain Gua Lalay, ada pula gua lain yang bisa menjadi pilihan, yaitu Langir dan Seribu Candi.

Jika malas berjalan kaki, kita bisa membayar jasa ojek untuk mengantar ke seluruh tempat wisata di Sawarna dengan tarif sekitar Rp 175 ribu. Opsi ini bisa menjadi pilihan untuk menghemat banyak waktu.

Saat malam tiba, para wisatawan menghabiskan waktu di warung-warung sepanjang Pantai Pasir Putih. Kita bisa mengisi perut, menyalakan api anggun, bahkan memasang tenda dan bermalam di sana.

Masyarakat Sawarna berhasil memaksimalkan potensi wisata daerahnya. Hampir semua rumah warga beralih fungsi menjadi rumah makan atau penginapan. Para turis pun betah berlama-lama singgah di sana. Lagi pula, karena banyak pilihan destinasi, rasanya tak cukup bila menyambangi Sawarna hanya dalam sehari.

Terkadang ada tempat-tempat yang seperti wajib kita kunjungi kembali tanpa merasa rugi. Sawarna salah satunya.

 

NB: Tulisan ini pertama dimuat di majalah The Geo Times edisi 3 November 2014.