Yang Fana adalah Messi, Ronaldo Abadi

ado-dan-leo

Ilustrasi Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi/Pandit Football

Sulit untuk menentukan pilihan saat ada dua penguasa di satu hutan. Apalagi, bila keduanya begitu menakutkan dan mengagumkan di saat bersamaan.

Sosok mereka begitu dipuja, bagaikan juru selamat yang siap menebus segala dosa manusia. Alhasil, para pengikut masing-masing bisa jadi begitu fanatik dalam mempertahankan keyakinannya, entah dengan membela yang satu secara membabi buta ataupun menghujat yang lain dengan kesesatan berpikir yang menawan.

Banyak contoh kasusnya, dari para ekstremis Apple dan Microsoft hingga fundamentalis Jokowi dan Prabowo. Bahkan, di dunia sepakbola pun kita mengenal para radikalis Messi dan Ronaldo. Perdebatan soal siapa yang terbaik di antara Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo telah terjadi selama sekiranya hampir satu dekade terakhir. Dari tahun ke tahun, rivalitas mereka rasanya kian sengit, sementara para pendukung masing-masing pun terlihat semakin singit.

Pembahasan biasa dimulai dari segi statistik, entah soal jumlah gol atau gelar juara. Tak sampai di situ, situasi mulai memanas saat topik masuk ke ranah yang sangat subjektif, dari sikap masing-masing pemain di dalam dan luar lapangan, hingga kadar ketampanan dan kedermawanan. Selalu seperti itu, hingga di ujung perbincangan yang melelahkan akhirnya kedua kubu penggemar terpaksa bersepakat: biar bagaimanapun Messi dan Ronaldo sama-sama belum pernah juara bersama tim nasional.

Di titik inilah mereka menemui celah perdamaian. Karena sehebat apa pun Messi dan Ronaldo, keduanya tak akan pernah bisa berada di kelas yang sama dengan para legenda semacam Pele, Diego Maradona, Zinedine Zidane atau Ronaldinho, selama belum pernah mengangkat trofi internasional.

Nama-nama tersebut di atas akan selalu diingat sebagai pesepakbola kelas wahid yang mampu mengangkat performa tim sendirian di saat-saat krusial bersama klub maupun negaranya masing-masing. Hampir tak ada celah untuk mempertanyakan kapabilitas mereka di masa jayanya. Sementara itu, akan selalu ada “namun” dalam retrospeksi perjalanan karier Messi dan Ronaldo. Keduanya memang menyenangkan untuk dilihat, tapi terasa getir untuk diingat.

Menunggu Messi dan Ronaldo jadi juara bersama Argentina dan Portugal bagaikan menunggu datangnya Godot: lucu dan melelahkan. Keduanya punya kecenderungan impoten kala membela negara masing-masing, terutama di laga-laga besar. Banyak pihak kerap menyalahkan pelatih Argentina yang tak mengerti cara menempatkan Messi di lapangan dan memaksimalkan potensinya. Ada pula yang berujar, Messi kehilangan Xavi dan Andres Iniesta saat bersama tim nasional.

Sementara untuk Ronaldo, selain fakta bahwa ia kerap bermain di bawah standar, orang-orang cukup mafhum bahwa Portugal memang tak cukup bagus untuk menjuarai apa pun, terutama sejak generasi emas mereka satu per satu gantung sepatu, entah Rui Costa, Luis Figo, Vitor Baia atau Pedro Pauleta. Namun, musim panas 2016 nyatanya membawa narasi baru dalam sebuah lakon dua babak nan mencengangkan.

Babak satu: tragikomedi
Walau baru setahun berselang sejak Cile keluar sebagai juara Copa America 2015, turnamen yang sama kembali digelar secara khusus pada 3-26 Juni 2016 untuk memperingati 100 tahun penyelenggaraannya. Itu berarti, sebagian besar jadwal kompetisi terpaksa bertabrakan dengan Piala Eropa yang diadakan selama sebulan penuh dari 10 Juni hingga 10 Juli 2016.

Alhasil, pecinta sepakbola dunia bagai mendapat durian runtuh dengan kesempatan menyaksikan dua turnamen akbar beda benua itu terselenggara bersamaan. Di sisi lain, ini jadi saat yang tepat untuk membandingkan langsung performa dua pemain terbaik dunia, Messi dan Ronaldo, di ajang internasional. Bisa dikatakan, ada dua plot berbeda yang saling terkait satu sama lain dalam lakon ini.

Messi mengawali perjalanannya di Copa America dengan gemilang. Argentina sukses memenangi seluruh pertandingan di fase grup dan La Pulga bahkan sempat mencetak trigol dalam kemenangan 5-0 melawan Panama. Ia pun berhasil mencetak masing-masing satu gol saat timnya mengalahkan Venezuela di perempat final dengan skor 4-1 dan Amerika Serikat di semifinal dengan skor 4-0.

Secara keseluruhan, sejak laga pertama hingga semifinal, Messi tampil subur dengan torehan lima gol dan empat asis – belum termasuk raihan jenggot terlebat semenjak ia mengawali karier profesional sebagai pesepakbola. Intinya, ia terlihat garang dan sangat siap untuk melibas juara bertahan Chili di laga pamungkas.

Para penggemar pun mulai berkoar, bahwa inilah saatnya bagi sang dewa untuk menuntaskan takdirnya, menasbihkan diri sebagai yang terbaik sejagat dengan membawa pulang sebuah trofi internasional. Keberhasilan tentu akan disambut dengan gegap gempita karena Argentina kadung terlampau lama berpuasa: 13 tahun nirgelar, termasuk kekalahan di dua final Copa America (2007 dan 2015) dan satu final Piala Dunia (2014).

Mereka bilang, ini akan jadi kisah ideal bagi Messi, sosok rendah hati yang telah merasakan begitu banyak penderitaan sejak kecil kala mesti mengidap penyakit hormon yang menghambat pertumbuhannya. Bila semua berjalan lancar, besar kemungkinan Disney akan mengadaptasi babad Messi ke layar lebar.

Namun, yang terjadi di luar dugaan. Argentina kalah setelah melalui adu penalti, yang mana Messi pun gagal menuntaskan eksekusi. Messi menangis. Publik Argentina menangis. Para penghujat bersorak dengan bengis. Remuk, Messi memutuskan undur diri dari tim nasional.

“Buat saya, tim nasional sudah selesai. Saya sudah mencoba sebisa saya. Menyakitkan tidak bisa menjadi juara bersama Argentina. Saya tidak bisa meraihnya.”

Sementara itu di belahan dunia lain, Ronaldo menandai petualangannya di Piala Eropa dengan menolak ajakan tukar kostum dari kapten Islandia, Aron Gunnarsson, dan melempar mikrofon seorang jurnalis dari Correio da Manha TV ke danau.

Kemudian, Portugal hanya mampu seri tiga kali di fase grup, tapi tetap lolos sebagai salah satu tim peringkat ketiga terbaik berkat aturan baru yang meloloskan 24 tim ke putaran final Piala Eropa. Aturan yang dicetuskan Michel Platini, legenda Perancis sekaligus Presiden UEFA yang terlibat dalam skandal suap yang memaksanya untuk menepi dari dunia sepak bola selama enam tahun.

Babak satu pun ditutup dengan tawa dan tangis.

Babak dua: arus balik
Portugal melanjutkan performa tak meyakinkannya sepanjang babak gugur Piala Eropa. Mereka menyingkirkan Kroasia lewat gol semata wayang Ricardo Quaresma di babak perpanjangan waktu, unggul adu penalti dengan Polandia, dan untuk pertama kalinya menang di waktu normal saat melawan Wales.

Orang-orang boleh mencerca, mengatakan mereka beruntung semata. Namun, biar bagaimanapun Portugal sukses melaju kembali ke babak final setelah menanggung malu kala dikalahkan Yunani di rumah sendiri pada partai puncak Piala Eropa 2004.

Kesempatan untuk meraih trofi internasional ini bisa jadi yang terakhir bagi Ronaldo. Maklum, kini ia telah berusia 31 tahun. Senjakala hampir tiba untuknya. Lagi pula, tak ada yang berani memastikan Portugal bisa menemui kesempatan yang sama di Piala Dunia 2018 atau bahkan Piala Eropa 2020.

Karena itu pilihannya hanya dua: menang atau tidak sama sekali.

Namun, nyatanya Ronaldo hanya menjadi cameo di partai terpenting dalam hidupnya. Sebuah terjangan dari Dimitri Payet pada menit ketujuh membuyarkan segalanya. Ronaldo berteriak kesakitan memegangi lutut kiri. Dua kali ia mencoba bertahan tetap berada di lapangan. Walau begitu, Ronaldo hanya manusia biasa yang punya batasan. Ia terpaksa ditarik ke luar pada menit ke-25.

Di titik ini, kebanyakan orang telah siap mengirimkan kabar turut berduka pada para pendukung Portugal di seluruh dunia. Tuan rumah Perancis, yang memang bermain lebih meyakinkan sepanjang turnamen, diyakini akan keluar sebagai juara.

Para redaktur olahraga berbagai media pun mungkin telah menyiapkan narasi baru untuk diterbitkan dalam beberapa jam ke depan, dari keberhasilan Perancis setelah meninggalkan para penggawa angkatan emas 1987 seperti Karim Benzema, Samir Nasri, dan Hatem Ben Arfa, hingga kutukan Messi dan Ronaldo di kompetisi internasional yang terus saja berlanjut.

Tak disangka, arus balik kejayaan Portugal ternyata baru saja dimulai. Ronaldo, yang patah hati dan menangis kecewa karena cedera, menolak hanya berdiam diri menyesali. Ia memutuskan untuk tetap berkontribusi dengan caranya sendiri.

“Saat jeda, Cristiano punya kata-kata yang fantastis untuk kami. Dia memberi kami banyak kepercayaan diri dan bilang, ‘Dengar, saya yakin kita akan menang, jadi tetap bersatu dan berjuang,’” kata pemain belakang Portugal, Cedric Soares.

Lain lagi ceritanya saat jeda babak perpanjangan waktu.

“Cristiano bilang ke saya bahwa saya akan mencetak gol penentu kemenangan,” ujar Eder, penyerang cadangan Portugal yang baru masuk ke lapangan di menit ke-79 menggantikan Renato Sanches.

Bagai asisten pelatih baru, Ronaldo terus bergerilya di pinggir lapangan dengan lutut dibebat, memberi motivasi dan instruksi pada rekan-rekan setimnya. Ia begitu gelisah kala Perancis mendapat peluang terbuka, dan menangis gembira kala Eder mencetak gol kemenangan pada menit ke-109.

Di titik ini, rasanya bagai penebusan. Ronaldo, yang selalu identik dengan kata egois dan arogan, yang tak pernah mau kalah lebih dari siapa pun, akhirnya sukses jadi juara Eropa dari bangku pemain cadangan. Peran yang selama ini dengan setia dibawakan teman-temannya seperti Quaresma ataupun Eder kala Ronaldo jadi pahlawan penentu kemenangan.

Katanya, pahlawan tak akan bisa jadi pahlawan tanpa figuran yang bertepuk tangan menyambut kepulangannya. Di sini, Ronaldo membuktikan bahkan ia pun bisa jadi pemeran pendukung terbaik bagi negaranya.

Di sisi lain, beban semakin berat untuk Messi setelah ia divonis bersalah atas kasus penggelapan pajak oleh pengadilan Spanyol. Ia didenda 1,7 juta euro dan divonis penjara 21 bulan. Walau hukuman kurungan di bawah dua tahun dapat ditangguhkan di Spanyol, tetap saja selamanya ia akan dicerca sebagai seorang kriminal yang selama ini berpura-pura baik di muka publik.

Alhasil, malam puncak Piala Eropa 2016 telah mengubah segalanya, termasuk alur perdebatan antara para pendukung garis keras Messi dan Ronaldo.

Messi telah mencetak 453 gol di level tertinggi sepanjang 12 tahun karier profesionalnya bersama Barcelona, sementara Ronaldo sukses menorehkan 487 gol dalam 14 tahun bersama Sporting Lisbon, Manchester United dan Real Madrid.

Messi sukses meraih 28 gelar juara di level klub, termasuk empat trofi Liga Champions, sementara Ronaldo hanya mampu mendapatkan 17 gelar juara, termasuk tiga trofi Liga Champions.

Messi pernah lima kali jadi pemain terbaik dunia versi FIFA, sementara Ronaldo baru tiga kali.

Messi telah mencetak 55 gol bersama tim senior Argentina, sementara Ronaldo sukses mencetak 61 gol.

Messi pernah meraih medali emas Olimpiade bersama Argentina pada 2008, sementara Ronaldo adalah juara Eropa bersama Portugal pada 2016.

Di sinilah perdebatan akan terhenti. Karena, pembelaan apa pun dari pendukung Messi selanjutnya akan otomatis terasa tak relevan, entah soal sikap di dalam dan luar lapangan, hingga kadar ketampanan dan kedermawanan.

“Ronaldo juara Eropa, Bung, dan dia bukan kriminal!”

 

NB: Tulisan ini pertama dimuat di media online Pandit Football pada 22 Juli 2016.

Babad Mourinho: Achilles dari Setúbal

Jose-Mourinho-chelsea

Jose Mourinho/chelseafconline.com

Jose Mourinho memang bukan orang biasa. Ia adalah manajer sepak bola yang bisa bicara lima bahasa. Pemahaman taktik dan kepercayaan dirinya tinggi. Ia pun telah meraih sukses di empat negara berbeda. Kariernya cemerlang. Sayang, egonya menjulang. Sejarah mencatat, awal mula kejatuhannya dimulai karena perseteruan dengan seorang perempuan.

Membicarakan Mourinho, berarti membicarakan kisah suksesnya yang melegenda. Ia rajin memancing kontroversi, tapi tak ada yang menyangkal bahwa ia bergelimang trofi. Ia lahir di Setúbal, tapi kegemilangannya justru mencuat pertama kali di Porto.

Di usia ke-40, Mourinho tiba-tiba saja jadi perbincangan hangat setelah berhasil membawa klub sepak bola Porto meraih treble dengan menjuarai tiga ajang sekaligus di akhir musim 2002/2003: Liga Portugal, Piala Portugal, dan Piala UEFA.

Orang yang tak percaya bisa menyebutnya sebagai keberuntungan pemula. Namun dengan enteng Mourinho menjawab keraguan itu setahun berselang dengan raihan lebih prestisius: trofi Liga Champions. Segera, Mourinho jadi properti panas di kancah sepak bola Eropa.

Ia bagai Achilles, kesatria gagah dalam mitologi Yunani yang mampu melibas siapa saja yang mengadang di tengah jalan. Kehebatan Achilles juga tertuang dalam film Troy yang dirilis pada 2004. Di awal film, dengan mudah Achilles membunuh Boagrius, prajurit raksasa dari Thessaly, dengan satu tusukan pedang ke bahu kirinya. Setelahnya, Achilles pun setuju terlibat dalam Perang Troya setelah mendengar rayuan Odysseus, Raja Ithaka.

“Perang ini tak akan terlupakan, juga para pahlawan yang bertempur di dalamnya,” kata Odysseus.

Alhasil, Achilles berusaha mengesampingkan rasa tak senangnya pada Agamemnon, Raja Mykenai nan culas dan ambisius. Ia ikut berangkat bersama pasukan yang dikumpulkan Agamemnon dari seluruh penjuru Yunani untuk merebut Troya. Achilles mengincar kejayaan. Ia ingin namanya terus dikenang sebagai prajurit terhebat dalam sejarah pertempuran tersebut.

Begitu juga dengan Mourinho. Setelah sukses di Porto, ia hijrah ke London untuk menangani tim kaya baru bernama Chelsea. Di sana, ia menggantikan posisi Claudio Ranieri. Selama empat musim di Chelsea, Ranieri sesungguhnya cukup berhasil membangun ulang tim dengan dana terbatas hingga jadi penantang serius untuk masuk ke zona Eropa di papan klasemen liga. Ia pula yang mendatangkan Frank Lampard dan mengorbitkan John Terry. Keduanya kemudian sukses jadi tulang punggung tim untuk belasan tahun lamanya.

Namun, kondisi berubah kala Chelsea dibeli oleh miliarder asal Rusia, Roman Abramovich, pada pertengahan 2003. Dengan pasokan dana berlimpah, Ranieri diharapkan mampu segera meraih prestasi. Setelah “hanya” mampu membawa tim menjadi runner-up Liga Inggris dan menembus semifinal Liga Champions pada musim 2003/2004, Ranieri pun didepak. Penunjukan Mourinho diharapkan mampu mendatangkan kesuksesan instan.

“Jika ingin berlindung dalam sebuah pekerjaan yang tenang, saya bisa memilih untuk tetap bertahan bersama Porto. Saya bisa jadi yang kedua, setelah Tuhan, di mata para pendukung, bahkan bila saya tak pernah lagi bisa memenangkan sesuatu,” kata Mourinho.

“Tolong jangan menyebut saya arogan, tapi saya adalah juara Eropa, dan saya rasa, saya adalah seseorang yang istimewa (special one).”

Terlihat, bagaimana Mourinho memandang tinggi dirinya sendiri. Ia percaya, sudah sepantasnya namanya tercatat dalam sejarah sebagai salah satu pelatih sepak bola terhebat di dunia. Ia mengincar kejayaan, dan Chelsea adalah kendaraan yang tepat. Mereka adalah kekuatan baru di Eropa dengan pemilik yang sangat ambisius, seperti pasukan Yunani di bawah kekuasaan Agamemnon.

Maka, dimulailah petualangan Mourinho untuk menaklukkan “Troya”. Mulanya berjalan mudah, malah terlihat seperti main-main. Chelsea dibawanya menjuarai Piala Liga dan Liga Inggris pada musim 2004/2005. Sejumlah rekor mengikuti, entah jumlah poin terbanyak (95) atau jumlah kemasukan gol paling sedikit (15) di liga. Itu bisa diraih Mourinho juga dengan bantuan “tim sukses” yang dibawanya dari Porto. Sebut saja asisten manajer Baltemar Brito, pelatih kebugaran Rui Faria, staf analisis kekuatan dan kelemahan lawan Andre Villas-Boas, serta pelatih kiper Silvino Louro.

Dua musim kemudian, Chelsea masih perkasa di bawah kendali Mourinho. Mereka sukses meraih masing-masing satu trofi Piala Liga, Piala FA dan Liga Inggris. Namun, bibit perpecahan mulai muncul di antara Mourinho dan Abramovich.

Pertama, soal kebijakan transfer dan pemilihan pemain. Salah satunya adalah pembelian gagal Andriy Shevchenko seharga lebih dari 30 juta poundsterling. Walau Shevchenko tak kunjung unjuk gigi di Chelsea, kabarnya Abramovich tetap memaksa Mourinho untuk terus memainkan striker favoritnya tersebut. Namun pada laga semifinal Liga Champions 2006/2007 melawan Liverpool di Anfield, Mourinho bahkan tak memasukkan nama Shevchenko ke dalam daftar pemain cadangan.

Kedua, Mourinho menentang penunjukan Avram Grant sebagai direktur sepak bola dalam klub. Secara umum, jabatan direktur sepak bola biasanya bertugas menjembatani manajer dengan dewan direksi. Ia juga mesti mengurus hal-hal teknis di luar lapangan agar sang manajer bisa fokus mengurus pemain di lapangan. Karena itu, wajar bila Mourinho menginginkan sosok yang lebih ia percaya secara pribadi untuk menjabat sebagai direktur sepak bola di Chelsea. Namun, Abramovich bergeming.

Satu lagi, Mourinho tak kunjung berhasil membawa trofi Liga Champions ke Stamford Bridge, hal yang begitu didambakan Abramovich. Maka, setelah Chelsea gagal mengalahkan Rosenborg di fase awal Liga Champions 2007/2008, Mourinho dipecat.

60-mourinhodest-gt

Jose Mourinho dan Roman Abramovich/Independent.co.uk

Di sisi lain, Achilles pun meninggalkan kesan pertama yang gemilang di awal Perang Troya. Sesaat sebelum seluruh pasukan Yunani tiba di pantai Troya, Achilles bersama sekitar 50 prajuritnya yang setia dari Myrmidon sengaja mendahului, mengabaikan perintah Agamemnon. Dengan pasukan kecil itu, Achilles sukses merebut pantai dan memukul balik tentara Troya.

Sontak, Agamemnon kian gusar dengan tingkah Achilles yang seenaknya. Ia menolak memberi kredit pada Achilles atas kemenangan mereka di pantai Troya.

“Raja tidak berlutut di hadapan Achilles. Raja tidak memberi penghormatan pada Achilles,” tegas Agamemnon. “Sejarah mencatat para raja, bukan prajuritnya!”

Tersinggung, Achilles mogok dari pertempuran. Dalam perang terbuka, pasukan yang dipimpin Hector, Pangeran Troya, sukses memukul mundur pasukan Agamemnon. Di sisi lain, Achilles justru menjalin romansa dengan Briseis, sepupu Hector yang jadi tawanan setelah penyerbuan pantai Troya. Ia pun semakin kehilangan semangat untuk berperang.

Pasukan Troya bermaksud menghabisi pasukan Yunani dengan melakukan serangan mendadak ke pantai. Dalam prosesnya, para prajurit Myrmidon ikut bertempur di bawah pimpinan Patroclus, sepupu Achilles. Patroclus sengaja mengenakan seragam perang Achilles dan maju ke medan perang untuk meningkatkan semangat juang pasukan Yunani.

Patroclus memang sembrono. Selama ini ia dilatih bermain pedang langsung oleh Achilles. Namun Achilles sendiri merasa sepupunya itu belum siap terjun dalam pertempuran sesungguhnya. Benar saja, saat itu Patroclus justru tewas di tangan Hector.

Dalam kisah Mourinho, muncul pula Patroclus dalam diri André Villas-Boas. Pada usia 25, Villas-Boas telah menjadi staf Mourinho di Porto yang bertugas memata-matai serta menganalisis kekuatan dan kelemahan lawan. Mourinho terkesan dengan ketelitian Villas-Boas hingga terus mengajaknya bekerja sama saat ia hijrah ke Chelsea dan Inter Milan.

Pada pertengahan 2009, Villas-Boas meninggalkan Mourinho untuk bekerja sebagai manajer Academica. Setahun berselang, ia telah ditunjuk untuk menangani Porto. Hasilnya memuaskan. Seperti Mourinho, Villas-Boas sukses meraih treble dengan menjuarai tiga ajang sekaligus di akhir musim 2010/2011: Liga Portugal, Piala Portugal, dan Liga Europa. Di usia ke-33, ia jadi manajer termuda yang pernah menjuarai kompetisi Eropa.

Kesuksesan itu memberi Villas-Boas tiket untuk melatih Chelsea pada musim 2011/2012. Sejak kepergian Mourinho, Chelsea tak kunjung stabil dan kerap gonta-ganti manajer. Tercatat, ada empat manajer dalam empat musim perjalanan Chelsea sebelum kedatangan Villas-Boas; dari Avram Grant, Luiz Felipe Scolari, Guus Hiddink, hingga Carlo Ancelotti. Walau begitu, dalam kurun waktu tersebut mereka masih mampu meraih satu gelar Liga Inggris dan dua Piala FA.

Villas-Boas didatangkan dengan harapan bisa membawa kejayaan yang sama, atau bahkan lebih dibanding era Mourinho dulu. Namun, nyatanya ia hanya “numpang lewat” di Chelsea. Ia justru kerap tumbang kala melakoni laga krusial melawan tim-tim besar di liga, entah Manchester United (1-3), Arsenal (3-5), Liverpool (1-2) dan Manchester City (1-2). Semua terjadi pada paruh pertama musim 2011/2012.

Mereka bahkan kalah 1-3 dari Napoli pada pertemuan pertama babak 16 besar Liga Champions. Saat itu, Villas-Boas mencadangkan Frank Lampard, Michael Essien, dan Ashley Cole. Sebelumnya, dikabarkan para pemain senior memprotes pemilihan taktik Villas-Boas langsung pada Abramovich. Tak lama, sang manajer pun dipecat. Pengganti sementara, Roberto Di Matteo, justru berhasil membawa Chelsea jadi juara Piala FA dan Liga Champions untuk pertama kalinya dalam sejarah klub.

Itulah titik balik yang “membunuh” karier Villas-Boas dan membuatnya kini menyepi di Rusia sebagai manajer Zenit Saint Petersburg. Ternyata, ia terlalu cepat masuk ke panggung utama setelah berguru dari Mourinho.

Jos--Mourinho-and-Andr--V-014

Jose Mourinho dan Andre Villas-Boas/Theguardian.com

Kematian Patroclus membuat Achilles gusar dan menantang Hector untuk bertarung satu lawan satu. Hector kewalahan, lalu mati di tangan Achilles. Ini membuat posisi Agamemnon berbalik jadi di atas angin. Moral pasukan Yunani terangkat dan mereka siap kembali melakukan perlawanan.

Kembalinya Mourinho ke “medan perang” juga membawa euforia bagi penggemar Chelsea. Ia dirasa mampu menyelematkan tim dari situasi amburadul setelah sesaat dipegang Rafael Benitez. Namun, prosesnya tak instan. Chelsea nihil gelar di musim pertama dari periode kedua Mourinho.

Semua berubah setahun berselang. Mourinho merekrut Cesc Fabregas dan Diego Costa, yang kemudian jadi motor permainan tim sepanjang musim 2014/2015. Di saat yang sama, Frank Lampard, Ashley Cole dan David Luiz dilepas demi proses regenerasi. Hasilnya, Chelsea berhasil menjuarai Liga Inggris dan Piala Liga.

Dengan modal tersebut, penggemar Chelsea menatap optimis datangnya musim 2015/2016. Kepergian Petr Cech ke Arsenal sempat membawa duka, tapi kehadiran kiper muda asal Belgia, Thibaut Courtois, dirasa cukup untuk menambal lubang di bawah mistar gawang.

Namun, yang terjadi benar-benar di luar perkiraan.

Di laga pembuka Liga Inggris, Chelsea ditahan imbang 2-2 oleh Swansea City di kandang sendiri. Bukan hanya Chelsea gagal mengamankan tiga poin, dua insiden lain mewarnai pertandingan tersebut. Pertama, kala Courtois mendapat kartu merah setelah menjegal Bafetimbi Gomis di kotak terlarang. Gomis pun berhasil mencetak gol dari titik putih. Kedua, saat Mourinho mengamuk pada tim medis Chelsea setelah mereka berinisiatif melakukan perawatan pada Eden Hazard di menit ketiga masa perpanjangan waktu babak kedua.

“Anda harus tahu saat Anda telah kehilangan satu pemain dan Anda masuk ke lapangan untuk menolong seorang pemain, Anda harus yakin bahwa pemain tersebut mengalami cedera serius,” ujar Mourinho geram.

“Saya yakin dia (Hazard) tak mengalami masalah serius. Dia mendapat benturan, dia sangat kelelahan. Namun tim medis saya, secara impulsif, bertindak naif dan membuat saya hanya memiliki delapan pemain lapangan dalam sebuah serangan balik setelah situasi bola mati.”

Sontak, kejadian ini berbuntut panjang. Mourinho menghukum dua stafnya yang “berbaik hati” merawat Hazard, dokter tim Eva Carneiro dan fisioterapis Jon Fearn, dengan melarang mereka kembali mendampingi tim di pinggir lapangan saat pertandingan maupun latihan. Carneiro, yang telah bekerja di Chelsea sejak 2009, memutuskan mundur dari jabatannya pada September 2015. Dari sana, ia justru mendapat banjir simpati dari publik.

Tak hanya itu, kontroversi muncul saat Mourinho diduga melontarkan pernyataan seksis sesaat setelah melihat Carneiro beraksi masuk ke lapangan. Diduga, Mourinho memaki “filha da puta”, kalimat dalam bahasa Portugis yang berarti “anak pelacur”. Tuduhan ini tak terbukti dan FA urung mengambil tindakan lebih lanjut untuk menghukum Mourinho. Namun, reputasi Mourinho kian jatuh karenanya.

pg-62-chelsea-1-rex

Eva Carneiro dan Jose Mourinho/Independent.co.uk

Bersamaan dengan itu, kinerja Chelsea sebagai sebuah tim sepak bola tiba-tiba mulai menurun drastis. Faktanya, hingga awal November 2015 mereka telah menjalani awal musim terburuk dalam 42 tahun terakhir. Mereka hanya mampu meraih 11 poin dari 12 pertandingan, hasil dari tiga kemenangan, dua seri, dan tujuh kekalahan.

Mourinho ada di ujung tanduk. Bahkan sedari awal berkarier sebagai manajer di Benfica pada 2000, ia tak pernah merasakan rentetan hasil buruk separah ini. Mourinho menimba ilmu dari para pelatih juara seperti Bobby Robson dan Louis van Gaal di tim-tim besar seperti Sporting, Porto, dan Barcelona. Ia mencuat sebagai pemenang dengan mengajarkan para pemainnya cara pohon kelapa tetap berdiri kokoh di tengah terpaan badai. Ia tak pernah tahu cara pohon bakau tumbuh di atas lumpur. Dengan kata lain, cara membangkitkan klub yang sedang terpuruk di papan bawah klasemen.

Di belahan lain Inggris, ada seorang pelatih senior yang justru paham betul akan hal tersebut: Claudio Ranieri.

Di awal musim 2015/2016, Ranieri kembali ke Inggris untuk membesut Leicester City, tim yang di musim sebelumnya hanya mampu duduk di peringkat 14 klasemen liga. Sepanjang kariernya, Ranieri dikenal sebagai penyelamat tim dari keterpurukan, tapi bukan pemenang sejati. Ia sempat sukses mengangkat performa Chelsea, Valencia, Juventus, AS Roma dan juga AS Monaco. Namun ketika sudah saatnya mereka unjuk gigi sebagai penantang serius gelar juara, Ranieri gagal.

“Ranieri punya mentalitas seseorang yang merasa tak butuh kemenangan,” komentar Mourinho soal posisi Ranieri sebagai pelatih Juventus pada 2008. “Dia terlalu tua untuk mengubah mentalitasnya. Dia sudah tua dan belum juga memenangkan apa pun.”

Namun, Ranieri membalas dengan manis di saat paling menyakitkan bagi Mourinho. Di tangannya, Leicester mendadak jadi tim tangguh pemuncak klasemen. Di tangannya, Leicester sukses menaklukkan Chelsea 2-1 pada pekan ke-16 Liga Inggris. Hasil yang membuat Chelsea kembali terperosok hingga hanya terpisah satu poin dari zona degradasi, dan memaksa Abramovich kembali memecat Mourinho.

Di sini, Ranieri bertindak sebagai Paris dalam epos Perang Troya. Paris adalah adik Hector yang digambarkan sebagai sosok pengecut dan kurang andal dalam pertarungan satu lawan satu. Paris pula yang memancing kemarahan Menelaus dengan merebut istrinya, Helen, secara diam-diam. Agamemnon, kakak Menelaus, jadi kian bersemangat untuk menyerang Troya karena Paris telah melecehkan kehormatan adiknya.

Dalam perang akbar tersebut, pasukan Yunani akhirnya berhasil masuk ke kota Troya dengan cara bersembunyi di dalam sebuah patung kuda raksasa. Di tengah malam, pasukan Yunani bergerilya membakar kota dan membunuh warga. Harusnya, itu jadi kemenangan sempurna.

Tak disangka, di sana Paris justru sukses menaklukkan Achilles. Ia menembakkan panah ke bagian terlemah dari tubuh Achilles: tumit. Saat gerakan Achilles melambat, Paris terus menghujani tubuhnya dengan panah. Achilles pun tewas tak berdaya.

Itu bisa terjadi juga karena konsentrasi Achilles terpecah saat sedang melindungi Briseis. Kemampuan Achilles untuk membinasakan lawan tak masimal kala seorang perempuan masuk dalam kehidupannya.

Akhir kata, kisah Mourinho pun berakhir tragis di Chelsea setelah Eva Carneiro masuk mengusik kehidupan pribadinya. Di tengah perjalanan buruk tim, pukulan pamungkas datang dari orang yang tak disangka. Orang yang selama ini dianggap Mourinho sebagai “figuran” dunia sepak bola: Ranieri.

2220

Claudio Ranieri tertawa di depan Jose Mourinho/Theguardian.com

Jose Mourinho memang bukan orang biasa. Ia adalah manajer sepak bola yang bisa bicara lima bahasa. Pemahaman taktik dan kepercayaan dirinya tinggi. Ia pun telah meraih sukses di empat negara berbeda. Kariernya cemerlang. Sayang, egonya menjulang. Sejarah mencatat, awal mula kejatuhannya dimulai karena perseteruan dengan seorang perempuan.

 

NB: Tulisan ini pertama dimuat di media online Pandit Football pada 25 Desember 2015.

Surat Terbuka untuk Florentino Perez

Florentino_607670199

Florentino Perez/www.avrupagazete.com

Dear Bapak Florentino Perez yang baik.

Mohon maaf bila saya mengganggu waktu Anda yang begitu berharga di tengah berlangsungnya bursa transfer musim panas klub-klub sepak bola Eropa. Saya tahu, mengerti sekali, bahwa pembelian dan penjualan pemain pada saat ini sungguh krusial bagi perjalanan tim semusim ke depan. Khususnya Real Madrid, klub tempat Anda didapuk sebagai presiden.

Saya sendiri pernah merasakan situasi pelik seperti ini. Pada pertengahan 2002, saya berkesempatan menjadi manajer Real Madrid dan memegang kendali penuh akan siapa yang harus dibeli ataupun didepak dari klub. Walau kala itu tim memiliki dana melimpah, saya terjebak pada dua opsi: membeli satu pemain megabintang dengan harga selangit, atau mendatangkan tiga hingga empat pemain bagus berharga standar yang sesuai dengan kebutuhan tim.

Saya sadar, titik lemah utama tim pada saat itu ada di sektor pertahanan. Fernando Hierro punya banyak pengalaman, tapi ia mulai beruban. Usianya sudah 34 tahun. Ia perlu anak muda bergelora nan bertalenta yang bisa jadi pendamping sekaligus pelapisnya di pusat pertahanan tim. Dengan segala hormat, Ivan Helguera bukanlah bek kelas atas yang bisa dijadikan tumpuan sendirian saat Hierro absen. Sementara Francisco Pavon hanya cocok diturunkan di laga persahabatan.

Di sisi lain, lini serang adalah yang terbaik dalam tim kita. Ada Raul, Ronaldo, Luis Figo, dan Zinedine Zidane di sana. Melihat nama mereka saja, bek dan kiper lawan pasti segan. Bahkan bila mereka semua sedang buntu di satu pertandingan, kita masih punya Roberto Carlos yang akan melepaskan tendangan jarak jauh dan merobek jala lawan dengan begitu mudahnya. Kojiro Hyuga juga pasti ngeri melihat kekuatan tendangan Carlos.

Namun, saya justru melakukan kesalahan fatal. Sejak lama, saya bermimpi untuk memiliki Francesco Totti, legenda hidup AS Roma itu, dalam tim Real Madrid yang saya pimpin sebagai manajer. Maka ketika ada dana nyaris 100 juta euro untuk dibelanjakan saat itu, mata saya gelap seketika. Saya kucurkan nyaris seluruh dana yang ada untuk menawar Totti. Iseng-iseng berhadiah, pikir saya. Kalau mau syukur, tidak ya sudah.

Tak disangka, tawaran saya diterima. Saya girang bukan kepalang. Totti pun resmi pindah ke Real Madrid. Saya segera merancang skema 4-1-3-2 super ofensif untuk diterapkan pada musim 2002/2003. Ronaldo dan Raul di depan, sementara trio Zidane, Totti dan Figo menyokong di belakangnya. Claude Makelele jadi “tukang pukul” sendirian yang mengawal barisan pertahanan tim yang terdiri dari Carlos, Hierro, Helguera, dan Michel Salgado. Iker Casillas jadi pilihan nomor satu di bawah gawang.

Sayangnya, rencana tinggal rencana. Di tengah musim, Hierro sering absen karena cedera. Karena telah kehabisan uang untuk membeli bek baru, terpaksa saya memainkan Pavon. Tim kami kebobolan berkali-kali dengan mudahnya. Moral pemain amblas. Totti tak kunjung bersinar. Real Madrid pun nihil gelar di akhir musim.

Untung saja saya melakoni peran jadi manajer Real Madrid hanya dalam virtual game Championship Manager kira-kira 12 tahun silam. Saat itu saya baru menginjak kelas 6 SD. Namun pelajaran penting telah saya dapat saat itu. Pertama, keseimbangan tim sungguh penting. Kedua, hanya dalam game seorang pemain legendaris macam Totti sudi meninggalkan AS Roma, klub yang telah dicintainya hampir seumur hidup.

Karena itu saya begitu heran kala dalam kenyataan, Anda, Bapak Perez, melakukan kesalahan yang sama dengan yang saya lakukan dalam game komputer. Pada akhir musim 2002/2003, Real Madrid berhasil jadi juara La Liga. Namun pada saat yang sama, kapten Hierro dan pelatih Vicente del Bosque dilepas begitu saja.

Hierro memang bukan pemain asli didikan akademi Real Madrid. Namun jasanya pada tim tak terkira. Selama 14 tahun berkarier di sana, ia jadi tulang punggung pertahanan tim dan ikut menyumbang enam gelar La Liga dan tiga trofi Liga Champions. Akan jadi akhir yang manis bila sang kapten terus berada dalam tim hingga pensiun dan beralih peran jadi pelatih atau masuk jajaran direksi. Ia tak mesti terus bermain tiap akhir pekan, kehadirannya saja bisa memberi suntikan moral pada para pemain muda. Atmosfer tim terjaga, penggemar pun senang. Itulah penutup ideal yang didapatkan bek-bek tangguh nan loyal macam Paolo Maldini ataupun Carles Puyol.

Lalu kita tahu, del Bosque adalah pelatih jenius yang mampu meredam ego besar para megabintang dan memberi hasil nyata berupa gelar juara. Di era modern, ia adalah pelatih tersukses Real Madrid dengan raihan 104 kemenangan dari 186 laga. Dalam empat musim masa kepemimpinannya, 1999-2003, Real Madrid berhasil meraih dua gelar La Liga, dua Liga Champions, dan masing-masing satu Piala Super Spanyol, Piala Super Eropa dan Piala Intercontinental. Untuk apa Anda melepas dan mengganti del Bosque dengan Carlos Queiroz, asisten manajer Manchester United yang menyarankan Sir Alex Ferguson untuk membeli Bebe, orang Portugal yang pura-pura bisa main sepak bola itu?

Ah, tapi siapa saya bisa mencerca segala keputusan Anda? Anda adalah Presiden Real Madrid sekaligus CEO Grup Actividades de Construcción y Servicios, perusahaan konstruksi dan manufaktur besar di Spanyol. Menurut Forbes saja, nilai kekayaan bersih Anda mencapai 1,8 miliar dollar AS. Kurangi tujuh angka 0 di sana, maka Anda bisa mendapatkan nilai hampir setara dengan Upah Minimum Provinsi DKI Jakarta, tempat saya tinggal saat ini.

Anda pasti lebih tahu cara mengurus klub sepak bola sekaligus unit bisnis raksasa semacam Real Madrid. Maka itu, saya diam saja saat Anda menjual Makelele dan mendatangkan David Beckham saat bursa transfer musim panas 2003. Saya pun tak bisa berkata apa-apa kala Anda berujar, “Kami tidak akan merindukan Makelele. Tekniknya biasa saja, dia kurang cepat dan tak punya kemampuan melewati lawan, dan 90 persen distribusi bolanya adalah entah ke belakang atau ke samping lapangan.”

Di bawah tangan Anda, Real Madrid pun berkembang pesat secara finansial, terutama kala Anda mengembangkan potensi marketing di Asia. Namun di sisi lain, harga yang mesti dibayar tak kalah mahalnya. Real Madrid terpaksa nihil gelar sejak kepergian Makelele hingga Anda mundur dari jabatan presiden pada Februari 2006. Lima pelatih yang datang pasca-kepergian del Bosque nyatanya tak mampu membangun ulang kejayaan yang begitu Anda dambakan.

Karena itu saya merasa was-was kala Anda naik kembali jadi presiden pada Juni 2009. Di saat yang sama, saya sedang menjalani liburan pasca-kelulusan SMA hingga punya waktu lebih untuk memantau aktivitas transfer Real Madrid sepanjang musim panas. Saya begitu terkesima. Dalam satu bursa transfer saja, Anda bisa dua kali memecahkan rekor pembelian termahal untuk seorang pemain sepak bola. Pertama Anda membeli Kaka dari AC Milan seharga 60 juta poundsterling pada 8 Juni. Lalu Anda mendatangkan Cristiano Ronaldo dari Manchester United seharga 80 juta poundsterling tiga hari berselang.

Tepuk tangan saya untuk Anda, Bapak Perez.

Anda seakan menabuh genderang penanda datangnya Galacticos jilid 2, para pemain-pemain pilihan yang akan membawa Real Madrid semakin dekat dengan La Decima, alias trofi Liga Champions ke-10 sepanjang sejarah klub.

Ronaldo kedua yang Anda datangkan kali ini berasal dari Portugal, bukan Brasil. Namun dia tak kalah gemilangnya dibandingkan yang pertama, bahkan lebih tajam, tampan, dan bugar. Di musim pertamanya saja, Ronaldo tampan ini berhasil mencetak 33 gol dari 35 pertandingan di seluruh kompetisi. Pada saat yang sama, Raul cuma bisa mencetak tujuh gol dari 39 laga. Bandingkan pula dengan Ronaldo botak yang “hanya” sukses mencetak 30 gol dari 44 pertandingan di musim pertamanya bersama Real Madrid dahulu.

Karena itulah Anda mendepak Raul dari tim pada akhir musim 2009/2010. Saat itu saya sungguh terkesiap. Raul memang telah berusia 33 tahun, mulai rentan cedera, dan tak lagi setajam dulu. Namun biar bagaimanapun, dia adalah Raul. Sang pangeran kebanggaan supporter, pemain yang telah membela panji Real Madrid sejak berusia 15 tahun, penyerang ganas yang mencetak gol di dua dari tiga final Liga Champions yang dimenanginya.

Biar bagaimanapun… Ah, sudahlah.

Sejak itu, saya malas untuk berkomentar apa-apa lagi melihat sepak terjang Real Madrid di bawah kepemimpinan Anda. Saya hanya bisa tertawa kala Jose Mourinho dipecat walau mampu mematahkan dominasi Barcelona di liga. Saya cuma geleng-geleng kepala ketika Carlo Ancelotti dilepas setelah memberikan La Decima, sesuatu yang begitu Anda damba sebelumnya.

Lalu masuklah kita pada bursa transfer musim panas 2015. Sesungguhnya, sepanjang tahun ini saya mulai jarang mengikuti perkembangan dunia sepak bola karena beberapa kesibukan yang begitu menyita waktu. Hanya sesekali saya membuka media online dan membaca berita soal aktivitas jual-beli pemain Real Madrid.

Karena itu saat saya iseng membuka sebuah portal berita beberapa waktu lalu, mendadak saya terdiam. Iker Casillas dilepas. Kiper yang sepanjang hidupnya dihabiskan untuk membela Real Madrid, kapten tim yang begitu disegani, pahlawan nasional yang membawa Spanyol menjuarai tiga ajang internasional secara beruntun dari 2008-2012, akan pergi ke Porto musim depan.

Posisi Casillas di tim memang mulai goyah di era Mourinho, kala ia kalah bersaing dengan Diego Lopez. Setelahnya, di era Ancelotti pun Casillas harus tetap berbagi tugas dengan Lopez dan hanya mendapat kesempatan bermain di Copa del Rey dan Liga Champions. Setelah Lopez pergi, Real Madrid mendatangkan kiper muda asal Kosta Rika yang bermain cemerlang di Piala Dunia 2014, Keylor Navas.

Nyatanya, Navas hanya jadi cadangan abadi Casillas sepanjang musim 2014/2015. Di La Liga, performa Casillas masih mantap. Ia berhasil melakukan 131 penyelamatan sepanjang musim itu, yang terbanyak dibanding seluruh kiper lain di liga. Walau begitu, rumor bahwa Real Madrid sedang mengincar David de Gea saya rasa kembali membebani pikiran Casillas. Apalagi, sudah lama beredar kabar soal keretakan hubungan Anda dengannya.

Pada Oktober 2014, Casillas sempat membahas hal ini saat diwawancara oleh jurnalis Inaki Gabilondo. “Perlakuan Florentino Perez pada saya? Saya merasa terisolasi, saya merasa tidak menjadi bagian dalam tim,” kata Casillas saat itu.

Saya paham, Anda punya cara sendiri dalam memimpin. Anda punya pemain favorit dan pemain-yang-tak-ada-pun-tak-apa dalam tim. Dahulu Anda selalu membela Ronaldo botak walau ia dikabarkan kehilangan kebugaran karena terlalu banyak makan. Mungkin Anda sendiri yang membelikannya es krim setiap kali sesi latihan. Namun bila Anda sudah tidak suka, siapa saja bisa dilepas semaunya, dari Makelele, Raul, Xabi Alonso, hingga Casillas.

Saya mengerti, Casillas yang meminta agar ia menghadiri konferensi pers perpisahannya sendirian. Namun apakah Anda sungguh tega melihatnya menangis di sana tanpa kehadiran satu pun pemain dan perwakilan direksi? Apakah benar harga sebuah kejayaan adalah hilangnya rasa kemanusiaan?

Akhirnya, Anda justru mengajarkan kepada kita semua bahwa Real Madrid tak pernah punya cukup waktu untuk mengurus serpihan kenangan masa lalu, bagian dari sejarah yang justru membesarkan nama klub itu sendiri. Yang Anda kejar hanya kemenangan dan kejayaan di masa depan. Siapa yang menghalangi jalan, harus segera disingkirkan.

Anda jadi mirip Fortinbras dalam kisah Hamlet karangan William Shakespeare yang termasyhur itu. Dalam cerita, Pangeran Denmark, Hamlet, berusaha membalaskan dendam kematian ayahnya yang bernama sama. Raja Hamlet mati dibunuh saudaranya sendiri, Claudius, yang ingin merebut takhta dan memperistri janda sang raja, Gertrude. Berbagai keraguan dan konflik batin dalam diri Hamlet membuat usahanya terhambat di tengah jalan, hingga kemudian seluruh tokoh utama mati mengenaskan.

Di saat yang sama, Pangeran Norwegia, Fortinbras, juga bernasib serupa. Ayahnya yang bernama sama telah mati dibunuh Raja Hamlet. Ia pun memimpin ribuan pasukan untuk menaklukkan Polandia dan Denmark. Seluruh kisah soal Fortinbras ini hanya diketahui dari mulut ke mulut, entah dari cerita Claudius maupun Horatio, karib Hamlet. Tokoh Fortinbras pun hanya muncul dua kali secara singkat di atas panggung. Bahkan, karena durasi cerita yang panjang – sekitar empat jam – banyak teater kerap memainkan ulang naskah Hamlet dengan meringkasnya dan memotong bagian-bagian yang tak terlalu penting. Salah satunya adalah kemunculan singkat Fortinbras.

Fortinbras boleh jadi pemenang di akhir cerita. Saat seluruh anggota Kerajaan Denmark tewas, ia yang mengambil alih kekuasaan. Namun yang paling membekas justru sosok Hamlet, si peragu yang banyak tertawa, pun menyimpan setumpuk duka. Hamlet yang jadi tokoh utama. Naskah berjudul sama dengan namanya pun yang terus dimainkan ulang dari masa ke masa.

Saya rasa itu karena karakter Hamlet lebih dekat dengan kita, sosok manusia yang hidup dengan segala keterbatasannya. Ia membuat kita berpikir dan merenung di balik kematiannya yang tragis. Soal hidup yang terlalu singkat dan segala penderitaan dalam diri manusia.

Bapak Perez yang baik, Anda boleh jadi Fortinbras yang hanya mengincar kejayaan dan mengerahkan segala cara untuk mencapai tujuan. Tapi sayang, itu juga yang akan membuat Anda hilang ditelan zaman. Karena penonton sepak bola telah kehilangan kemanusiaan dalam diri Anda.

Salam hangat, dari seorang pecinta sepak bola di Jakarta.

 

NB: Tulisan ini pertama terbit di media online Pandit Football pada 15 Juli 2015.

Raja Messi Dalam Sejarah Kerajaan Eropa

king messi

Raja Messi/hdwallpapers.cat

Daratan Eropa selalu jadi candu bagi para gladiator muda. Di sana, semua berlomba unjuk gigi dalam sebuah ajang tahunan yang dengan angkuhnya diberi nama Liga Para Juara. Tak ada tempat bagi pecundang. Para jagoan dari seluruh kerajaan di Eropa bergabung ke sana, berharap sejarah berbaik hati untuk mencatat nama mereka.

Selama satu dekade terakhir, pemerintahan dipegang oleh Kerajaan Barcelona asal Spanyol. Ini berawal dari kedatangan seorang raja muda asal Brasil bernama Ronaldinho pada 2003. Tak butuh waktu lama baginya untuk merebut hati rakyat Barcelona. Dengan meyakinkan, ia kerap membawa pasukan memenangi peperangan nyaris sendirian. Jangan tanya soal keahliannya bermain pedang. Tekniknya indah, sabetannya maut. Melihatnya berlaga seperti menyaksikan sebuah pertunjukan seni, yang selalu diakhiri dengan senyuman girang usai ia menaklukkan lawan-lawannya.

Puncaknya pada 2006, kala Raja Ronaldinho memimpin Barcelona memenangi Liga Para Juara. Ini bisa terjadi berkat bantuan rekan-rekannya yang penuh talenta. Ada Xavi dan Deco, yang selalu setia membuka jalan kala pasukan sedang terdesak ataupun tersesat di tengah hutan. Ada pula Samuel Eto’o, sang pembunuh berdarah dingin asal Kamerun. Mereka semua bekerja sama dengan baik di bawah arahan sang ahli strategi perang, Frank Rijkaard.

Setelahnya, Kerajaan Barcelona mulai mencoba menerapkan strategi jangka panjang untuk meneruskan kesuksesan. Rijkaard mempromosikan beberapa prajurit muda dari akademi kerajaan yang kemudian berhasil jadi tumpuan saat perang. Salah satu prajurit muda yang begitu cemerlang bakatnya adalah Lionel Messi yang didatangkan sejak usia 13 tahun dari Kerajaan Newell’s Old Boys asal Argentina. Rakyat Barcelona pun menunjuk Messi sebagai pangeran muda, sang pewaris takhta kerajaan di masa depan.

Pangeran Messi memang spesial. Tekniknya tak seindah Raja Ronaldinho, tapi efektif dan justru lebih tajam dalam urusan membunuh lawan. Mitos yang berembus mengatakan, kecepatan sang pangeran di medan perang bagaikan kilat. Bahkan pasukan lawan hanya bisa melihat bayangannya sebelum terbunuh secara mengenaskan.

Namun, Pangeran Messi selalu berada di bawah bayang-bayang Raja Ronaldinho. Kondisi baru berubah setelah kepergian sang raja dan ahli strategi perang secara bersamaan pada pertengahan 2008. Para tetua kerajaan pun menunjuk mantan prajurit setianya di era 1990an, Pep Guardiola, untuk jadi suksesor Rijkaard.

Di bawah arahan Guardiola, Messi berhasil menunjukkan potensinya dan resmi jadi raja. Ini terjadi setelah ia sukses memimpin pasukan kerajaan menaklukkan enam ajang berbeda pada 2009. Rinciannya, tiga kompetisi lokal, dua kompetisi Eropa, dan satu kompetisi internasional. Di bawah kepemimpinan Messi, Kerajaan Barcelona jadi begitu menakutkan. Bahkan, itu terus berlanjut setelah kepergian Guardiola pada pertengahan 2012.

Lihat saja rekornya. Tak terhitung sudah jumlah korban sabetan pedang Raja Messi. Pada musim perang 2011/2012 saja ia berhasil menjebol dinding kerajaan lawan sebanyak 73 kali. Terhitung sejak Raja Messi naik takhta hingga saat ini, Kerajaan Barcelona sukses memenangi Liga Para Juara sebanyak tiga kali.

Raja Messi bisa jadi begitu digdaya juga berkat bantuan rekan-rekan di sekelilingnya. Xavi dan Andres Iniesta adalah pembuka jalan andal. Sementara itu Gerard Pique dan Carles Puyol adalah batu karang di lini belakang pasukan yang akan menghajar siapa pun yang berani mendekat.

Mulanya, Raja Messi bahu membahu di lini depan pasukan bersama dua prajurit senior, Thierry Henry dan Eto’o. Beberapa kali ia mesti berganti rekan dalam peperangan, entah bersama gladiator lokal macam David Villa dan Pedro, atau prajurit asing seperti Alexis Sanchez. Namun, yang termaut adalah kala ia berpasangan dengan Neymar dan Luis Suarez sepanjang musim perang 2014/2015. Selama setahun penuh, mereka sukses menjebol dinding kerajaan lawan sebanyak 122 kali. Rumor yang berhembus mengatakan, Neymar telah didapuk jadi pangeran muda, suksesor jangka panjang Raja Messi.

Bila Kerajaan Barcelona bisa terus mempertahankan konsistensi, bukan tak mungkin dinasti mereka akan jadi yang terbaik dalam sejarah Liga Para Juara. Dahulu, Raja Alfredo Di Stefano dari Kerajaan Real Madrid asal Spanyol sukses membawa pasukannya menjuarai ajang serupa selama lima tahun beruntun, dari 1956 hingga 1960. Sementara itu, Raja Johan Cruyff dan Raja Franz Beckenbauer sama-sama membangun dinasti setelah masing-masing berhasil membawa Kerajaan Ajax asal Belanda dan Kerajaan Bayern Muenchen asal Jerman memenangi Liga Para Juara tiga kali beruntun pada era 1970an.

Jalannya masih panjang. Namun Raja Messi masih punya banyak waktu untuk mencatatkan hal serupa dalam sejarah. Usianya baru 27 tahun kala ia menaklukkan Liga Para Juara untuk ketiga kalinya pada 7 Juni 2015. Sementara di saat yang sama, saingan utamanya, Raja Cristiano Ronaldo yang sombong dari Kerajaan Real Madrid telah berusia 30 tahun. Padahal, jabatan sebagai raja biasanya terhenti di awal usia 30an.

Karena itu, rakyat Kerajaan Barcelona boleh berbangga. Di sisi lain, rakyat Kerajaan Ajax mungkin hanya bisa mengutuki pengkhianatan Raja Cruyff yang telah membeberkan rahasia kesuksesan mereka saat menjadi ahli strategi perang Barcelona pada 1988-1996.

Inzaghi di Akhir Era Berlusconi

012515-SOCCER-Filippo-Inzaghi-LN-PI.vadapt.620.high.0

Filippo Inzaghi/www.foxsports.com

23 Mei 2007

Masa perpanjangan waktu babak pertama. Andrea Pirlo bersiap mengambil tendangan bebas beberapa meter di depan kotak penalti Liverpool. Wasit meniup peluit. Pirlo menghajar bola dengan sisi dalam kaki kanannya. Bola berbelok melewati pagar betis Liverpool, dan gol! Pepe Reina terkecoh. Ada sesuatu yang memantulkan bola di tengah jalan sehingga berbelok lebih tajam dari seharusnya.

Pirlo kegirangan. Namun ada yang lebih semringah dan berlari kesetanan seakan itu adalah golnya sendiri. Semua jadi jelas saat tayangan ulang diputar. Itu memang benar golnya. Bukan Pirlo, tapi Filippo Inzaghi. Striker gaek berusia 33 tahun yang musim itu hanya bisa mencetak dua gol di Serie A, kini membawa AC Milan unggul 1-0 atas Liverpool sebelum turun minum.

Tak sampai di situ. Pada menit ke-82, Kaka melancarkan umpan terobosan di antara Daniel Agger dan John Arne Riise. Bola dengan mulus hinggap di kaki Inzaghi. Satu sentuhan ke kanan untuk mengecoh Reina, lalu bola diceploskan ke bawah ketiak kiper Spanyol itu. Bola bergulir perlahan masuk ke dalam gawang kosong. Inzaghi berlari ke sudut dengan wajah orgasme dan merayakan dengan kedua tangan mengibas udara. AC Milan menang 2-1 atas Liverpool malam itu dan sukses meraih trofi Liga Champions ke-7 sepanjang sejarah. Semua gara-gara Inzaghi.

19 April 2015

Hampir sewindu berlalu, dan situasinya telah jauh berbeda. AC Milan berhadapan dengan Inter Milan. Derby della Madonnina. Namun, pertandingan ini bukan soal perebutan gelar juara. Ini hanyalah laga antara dua tim papan tengah, masing-masing di posisi 9 dan 10 klasemen sementara pada pekan ke-31 Serie A.

Inter Milan boleh menyesali hasil imbang 0-0 yang mereka raih malam itu. Mereka mendominasi permainan dengan penguasaan bola 55 persen serta 17 tembakan, empat di antaranya tepat mengarah ke gawang. Di sisi lain, AC Milan hanya bisa menghasilkan tujuh tembakan, tiga di antaranya tepat sasaran. Ada tiga gol yang dianulir pada laga itu, satu untuk AC Milan dan dua untuk Inter Milan.

“Tim saya sudah memberikan segalanya. Kedua tim berusaha untuk menang, dan kami tahu betapa pentingnya laga derbi ini. Kami bisa saja menang, bisa saja kalah. Jadi, pada akhirnya imbang adalah hasil tepat,” kata Inzaghi yang kini beralih peran jadi manajer AC Milan.

Bisa saja menang, bisa saja kalah. Komentar Inzaghi tersebut sesungguhnya merefleksikan perjalanan AC Milan beberapa tahun belakangan: tidak jelas. Mereka telah tersasar begitu jauh hingga bahkan saingan utama mereka dari kota Turin saat ini di klasemen sementara Serie A adalah Torino, bukan Juventus. Musim ini, mereka baru menang 10 kali, seri 13 kali, dan kalah delapan kali. Mereka jadi mirip Liverpool di Liga Inggris yang tetap besar hanya karena sejarah di belakangnya.

Bagaimana mungkin dalam waktu sewindu semua berubah begitu drastis? Lihatlah susunan pemain AC Milan di final Liga Champions 2007 melawan Liverpool. Selain Inzaghi, ada Kaka, Pirlo, Gennaro Gattuso, Clarence Seedorf, Alessandro Nesta dan Paolo Maldini. Nama-nama yang membuat lawan gentar, yang memastikan bahwa harga diri AC Milan sebagai sebuah tim besar akan terus terjaga.

Masalahnya, mayoritas pemain kunci tersebut telah berusia senja. Hanya Kaka, Pirlo dan Gattuso yang saat itu masih berusia di bawah 30 tahun. Masalah pun dimulai sejak kepergian sang pelatih sukses Carlo Ancelotti ke Chelsea, pensiunnya kapten Paolo Maldini, dan hijrahnya protagonis utama mereka selama beberapa tahun terakhir, Kaka, ke Real Madrid, secara bersamaan pada musim panas 2009.

Berlusconi dan Krisis Ekonomi
Krisis ekonomi yang melanda Zona Euro sejak akhir 2009 berimbas pula pada keseimbangan finansial tim. Alhasil, Presiden AC Milan Silvio Berlusconi pun mesti mengencangkan ikat pinggang. “Sebagai seorang perdana menteri, saya tidak bisa mengeluarkan uang banyak seperti yang pernah saya lakukan. Mulai sekarang, pengembangan pemain muda harus dilakukan untuk menyiasati krisis ekonomi,” kata Berlusconi pada Mei 2010.

Italian Prime Minister Silvio Berlusconi

Silvio Berlusconi/www.mirror.co.uk

Karena itu, uang hasil penjualan Kaka sebesar 68,5 juta euro dan tambahan dari melego Yoann Gourcuff ke Bordeaux senilai 15 juta euro hanya bisa digunakan untuk belanja seadanya. AC Milan membeli Thiago Silva dari Fluminense seharga 10 juta euro dan Klaas-Jan Huntelaar dari Real seharga 15 juta euro. Silva perlahan bisa menancapkan kukunya di barisan pertahanan tim. Namun Huntelaar tak pernah mampu menunjukkan kelasnya dan hanya bertahan semusim di sana. Leonardo yang didapuk jadi suksesor Ancelotti juga tak bisa berbuat banyak hingga AC Milan harus nihil gelar pada musim 2009/2010.

Kondisi jadi jauh membaik setelah kedatangan Zlatan Ibrahimovic pada musim 2010/2011. Pelatih baru Massimiliano Allegri mengandalkan Ibra sepenuhnya untuk mencabik-cabik gawang lawan. Hasilnya, mereka kembali jadi juara Serie A pada musim tersebut. Namun, keputusan untuk melepas Pirlo ke Juventus pada musim panas 2011 terbukti jadi blunder besar. Pada musim 2011/2012, Pirlo justru berhasil mencetak 13 assist, terbanyak di liga, dan membawa Juventus jadi juara.

Selain kehilangan gelar juara, musim itu juga jadi pukulan berat dalam karier politik Berlusconi. Pada November 2011, ia mengundurkan diri dari posisi Perdana Menteri Italia setelah kehilangan mayoritas suara di parlemen akibat meningkatnya masalah fiskal dan krisis ekonomi yang terus membesar.

Pada akhir musim itu, Ibra dan Silva, dua tumpuan utama AC Milan di lini depan dan belakang, dijual bersamaan ke Paris Saint-Germain, masing-masing senilai 21 juta euro dan 42 juta euro. Tak hanya itu, para pemain yang telah jadi tulang punggung tim dalam waktu lama mesti dilepas tanpa pengganti nan ideal. Inzaghi dan Massimo Oddo pensiun. Selain itu, Nesta, Gattuso, Seedorf, Gianluca Zambrotta dan Mark van Bommel dilepas gratis. Pada masa transfer musim dingin, Alexandre Pato yang tak kunjung mampu memenuhi potensinya pun dilepas dengan harga 15 juta euro ke Corinthians. Mario Balotelli memang didatangkan dari Manchester City setelah kepergian Pato dengan harga 21,5 juta euro. Namun itu tak berimbas banyak. AC Milan mulai kehilangan tajinya.

Cara Lama, Hasil Beda
Sejak lama, AC Milan dikenal berani menunjuk mantan pemainnya yang minim pengalaman manajerial untuk menangani tim utama mereka. Sebut saja Cesare Maldini, Giovani Trapattoni, Fabio Capello, Ancelotti, hingga Leonardo. Tak semuanya berujung sukses. Toh beberapa berhasil membangun reputasi sebagai pelatih jempolan dan menyumbang setumpuk gelar bergengsi.

Pada kurun waktu 1991-1996, Capello dengan gaya bermain pragmatis berhasil membawa AC Milan meraih empat gelar Serie A, satu Liga Champions dan satu Piala Super Eropa. Lain halnya dengan Ancelotti yang lebih mengutamakan permainan terbuka. Selama periode 2001-2009, ia sukses membawa tim menjuarai satu gelar Serie A, satu Coppa Italia, dua Liga Champions, dua Piala Super Eropa, dan satu Piala Dunia Antarklub.

Pada awal 2014, AC Milan memecat Allegri setelah serangkaian hasil buruk yang membuat mereka tertahan di papan tengah klasemen Serie A. Lalu mereka mengambil keputusan berani dengan menunjuk Seedorf sebagai suksesor. Padahal, kala itu Seedorf masih berstatus pemain klub asal Brasil, Botafogo. Untuk itu, Seedorf segera pensiun pada Selasa, 14 Januari 2014, dan terbang ke Milan dua hari berselang untuk menjadi pelatih baru.

Seedorf_2795973b

Clarence Seedorf ditunjuk sebagai pelatih AC Milan/www.telegraph.co.uk

Kenapa AC Milan harus menunjuk Seedorf, yang sama sekali tak punya pengalaman melatih sebelumnya untuk jadi nakhoda sebuah kapal besar yang nyaris karam? Ia memang bisa bicara enam bahasa, pernah bermain sepak bola di empat negara, dan jadi satu-satunya pemain yang pernah meraih gelar Liga Champion bersama tiga klub berbeda. Namun penunjukannya, tak pelak, adalah sebuah perjudian.

“Dia adalah pemimpin di dalam dan luar lapangan,” kata Berlusconi pada April 2011 saat Seedorf masih bermain untuk AC Milan.

“Cukup membicarakan masa lalu, sekarang kami sedang menatap masa depan,” kata Berlusconi pada Juni 2014 saat klub sedang berusaha memecat Seedorf sebagai pelatih.

Tak sampai enam bulan Seedorf bekerja sebagai pelatih AC Milan. Dalam kurun waktu itu, ia membawa tim meraih 11 kemenangan dari 19 laga Serie A, lebih baik dari Allegri yang sebelumnya hanya bisa menang lima kali dari 19 laga pertama di musim 2013/2014. Namun Berlusconi tetap tak puas, dan bermaksud mengulang kembali resep yang sama. Ia segera menunjuk Inzaghi sebagai pelatih baru.

Sebelumnya, Inzaghi pensiun sebagai pemain pada Juli 2012 dan segera beralih peran jadi pelatih kepala tim primavera AC Milan. Hanya butuh waktu dua tahun sebelum ia naik pangkat jadi pelatih tim utama. Hasilnya, tak jauh beda dengan Seedorf. AC Milan tetap jadi tim medioker tanpa pemain bermental juara.

Karena itu, penunjukan Seedorf dan Inzaghi seakan-akan dilakukan sebagai aksi panik untuk sesaat merebut hati penggemar dan menutupi masalah besar yang sesungguhnya terjadi di dalam. Kehadiran pemain legendaris di pinggir lapangan diharapkan dapat membawa semangat baru di tengah keterpurukan yang kian dalam. Mereka seakan hanya jadi bungkus cantik makanan ringan di swalayan yang sebenarnya tak banyak berisi apa-apa. Tengok saja isi tim AC Milan saat ini. Bahkan Sulley Muntari bisa ditunjuk sebagai kapten oleh Inzaghi.

Akhir Era Berlusconi
Pada Februari 2015, AC Milan mengungkapkan rencananya untuk membangun stadion baru dengan kapasitas 48 ribu penonton di wilayah urban Portello. Diperkirakan mereka mesti mengeluarkan biaya sekitar 300 juta euro untuk merampungkan pembangunan tersebut. Bila semua berjalan lancar, stadion itu akan mulai digunakan pada musim 2018/2019.

255459F400000578-0-image-a-27_1423052975199

Rancangan stadion baru AC Milan/www.dailymail.co.uk

Ambisius? Iya dan tidak.

Di satu sisi, pembangunan stadion independen kini jadi sebuah keharusan bagi tim-tim sepak bola Serie A. Selama ini, baru ada tiga klub yang memiliki stadionnya sendiri. Mereka adalah Juventus dengan Juventus Stadium, Sassuolo dengan Mapei Stadium, dan Udinese dengan Stadio Friuli. Tim-tim lainnya mesti menyewa stadion dari pemerintah kota setempat untuk melakoni laga di berbagai ajang, termasuk Serie A, Coppa Italia dan Liga Champions. AC Milan dan Inter Milan pun selama ini bersama-sama menyewa San Siro yang berkapasitas 80 ribu penonton untuk jadi kandang mereka.

Ini membuat pendapatan tim Serie A mesti terkuras untuk membayar sewa tersebut. Padahal, kualitas rumput stadion juga kerap dipertanyakan karena terlalu sering dipakai untuk hajatan di luar sepak bola, entah pertandingan rugbi atau bahkan konser musik. Kapasitas besar stadion-stadion itu juga tak sebanding dengan animo masyarakat Italia untuk menonton langsung sepak bola dewasa ini. Sebagai perbandingan, dahulu Juventus menggunakan Stadio delle Alpi dengan kapasitas 69 ribu penonton. Padahal, jarang sekali stadion itu terisi penuh saat Juventus bertanding di laga besar sekalipun. Kini, mereka menempati Juventus Stadium yang berkapasitas 41 ribu saja, tapi hampir tiap pekan selalu penuh dipadati penonton.

Di sisi lain, kondisi keuangan AC Milan yang sedang tak stabil membuat hal ini sulit terwujud. Logikanya, untuk membeli pemain baru saja mereka kesulitan, apalagi untuk membangun stadion baru?

Maka, satu-satunya jalan untuk menyelematkan AC Milan saat ini adalah dengan menjualnya ke pemilik baru. Selama ini Berlusconi memang bersikeras mempertahankan karena ia merasa begitu terikat dengan AC Milan. Pada Februari 2015 pun ia menolak tawaran sebesar 970 juta euro dari pengusaha Singapura untuk membeli tim itu. Namun, perlahan Berlusconi melunak. Pada Senin, 20 April 2015, beredar kabar bahwa pengusaha asal Thailand, Bee Taechaubol, akan segera menuntaskan pembelian AC Milan.

“Hari Minggu nanti, 26 April, saya akan berada di Milan untuk menandatangani kesepakatan jual beli itu,” ujar Bee seperti dikutip Football Italia.

Rencananya, Bee hanya akan mendapat saham 20 persen. Namun perlahan, jumlah itu akan terus meningkat hingga 65 persen pada 2016 dan membuatnya jadi pemegang saham mayoritas. Dengan begitu, bisa dikatakan ia juga akan bertanggung jawab membiayai pembangunan stadion baru AC Milan dan segala hal finansial yang berkaitan di sekitarnya.

Saat itu terjadi, AC Milan mungkin akan kembali menemukan stabilitas serta nama besarnya, dan Inzaghi, tak perlu lagi berada di pinggir lapangan.

 

NB: Tulisan ini pertama terbit di media online Kompas.com pada 23 April 2015.

Rooney: Prajurit United Kesayangan Anfield

rooney

Wayne Rooney/www.dailystar.co.uk

Sungguh mudah menebak obrolan yang terjadi pada Senin pagi, 23 Maret 2015, ketika sesama pendukung Manchester United berpapasan. Pertama, mereka akan saling memberi selamat atas kemenangan 2-1 melawan Liverpool di Anfield malam sebelumnya. Kedua, mereka akan membahas betapa bodohnya Steven Gerrard dan betapa indahnya gol kedua Juan Mata. Ketiga, mereka akan bertanya, “Kok Rooney masih mandul, ya?”

Wayne Rooney, kapten United dan tim nasional Inggris, memang membawa beban berat dalam pertandingan itu. Sudah satu dekade ia paceklik gol di Anfield. Tak ada yang tahu persisnya kenapa. Kita hanya bisa menerka-nerka.

Lihatlah statistik Rooney. Ia adalah pencetak gol ketiga terbanyak sepanjang sejarah United dengan torehan 229 gol di semua ajang. Rekornya hanya kalah dari Sir Bobby Charlton di posisi pertama dengan 249 gol dan Denis Law di tempat kedua dengan 237 gol. Selama 11 musim bermain di United, rata-rata Rooney mencetak 20 gol per tahunnya.

Namun itu semua tak mampu mengesampingkan fakta bahwa terakhir kali Rooney mencetak gol di Anfield melawan Liverpool adalah pada Januari 2005. Rooney juga puasa gol di sana pada musim 2009/2010 dan 2011/2012, saat ia berhasil meraih catatan gol terbaiknya dalam semusim, yaitu 34 gol.

Louis van Gaal sampai terheran-heran. “Ini aneh, walau bisa saja terjadi, dan saya harap saya bisa mengubah (kebiasaan buruk Wayne) itu,” ujarnya.

Nyatanya, tak ada yang berubah. Bahkan kala Daley Blind dijatuhkan Emre Can di kotak terlarang pada masa perpanjangan waktu babak kedua, Rooney tetap gagal mengeksekusi hadiah penalti. Rooney benar-benar steril di Anfield.

Mungkin, tak ada yang lebih kesal melihat hal ini dibanding Rooney sendiri. Sejak kecil, ia adalah penggemar sejati Everton, klub satu kota Liverpool. Karena itu, ia membenci Liverpool sepenuh hati. Tekadnya untuk mencetak gol dan mempermalukan Liverpool di kandang sendiri rasanya lebih besar dibanding tekad Tsubasa membawa Jepang jadi juara dunia.

“Saya tumbuh besar sebagai penggemar Everton yang begitu membenci Liverpool, dan itu tak pernah berubah,” kata Rooney pada Maret 2009 saat melakoni wawancara dengan MUTV.

_79090286_waynerooneygetty2

Wayne Rooney sejak kecil membenci Liverpool/www.bbc.co.uk

Namun, semangatnya yang berapi-api justru jadi bumerang. Kondisi ini mirip dengan apa yang terjadi dalam episode ke-3 pada musim ke-3 serial televisi komedi How I Met Your Mother berjudul “Third Wheel”.

Diceritakan, dua teman baik, Ted dan Barney, pernah bertaruh soal siapa yang mampu tidur dengan dua wanita sekaligus dalam satu malam. Mulanya mereka hanya bercanda, tapi perlahan taruhan ini ditanggapi dengan serius. Barney bahkan membeli sebuah sabuk juara berwarna keemasan untuk diserahkan pada sang pemenang taruhan.

Suatu hari, Ted berhasil mengajak dua wanita yang ditemuinya di bar untuk datang ke apartemennya. Kedua wanita itu tertarik pada Ted. Saat semuanya terlihat berjalan lancar, Ted panik. Mendadak ia meracau dan justru menyuruh mereka berdua pulang. Entah apa yang terjadi.

Ted pun masuk ke kamar menemui Barney yang sedang bersembunyi dan menceritakan segalanya. Tak disangka, Barney mengaku pernah menemui hal serupa. Dahulu, kala Barney hampir saja memenangkan taruhan, di saat-saat akhir muncul bayangan kemenangan yang justru menakutkannya. Ia salah tingkah, dan malah mengusir dua wanita yang sedang merayunya.

“Rasa takut itu muncul begitu saja. Tiba-tiba muncul pikiran bahwa aku tidak akan mampu melakukannya,” ujar Barney. “Terkadang, bahkan prajurit terhebat pun bisa menembak kakinya sendiri.”

Maka, mari kita bayangkan diri kita sebagai Rooney dari perspektif ini. Pada menit ke-94, ia mengambil ancang-ancang untuk melakukan tendangan penalti melawan Liverpool di Anfield. United sedang unggul 2-1. Jadi, berhasil atau tidaknya penalti itu tak menentukan apa-apa. United sudah pasti menang. Tentu saja, bila sukses ia akan menghapus kutukan seret gol yang telah berlangsung selama 10 tahun.

Namun, bagaimana bila gagal? Dengan mudah Rooney bisa membayangkan judul-judul berita yang akan beredar di berbagai media massa esok hari. Semua akan mencemoohnya, entah di surat kabar cetak atau online, televisi, radio, Twitter, Facebook, Instagram, atau bahkan 9Gag. Ia akan jadi lelucon. Seorang kapten dan sebuah bahan lawakan massal tentu bukanlah perpaduan yang ideal.

Lalu, benar saja. Rooney menyepak keras bola ke sebelah kiri gawang dan Simon Mignolet dengan tangkas menangkisnya. Pendukung Liverpool bersorak mendapatkan konsolasi. Rooney berjalan lunglai dan memaki ke udara. Terpaksa, ia mesti mencoba peruntungannya lagi pada tahun ke-11.

Liverpool-v-Manchester-United

Tendangan penalti Wayne Rooney ditepis Simon Mignolet/www.mirror.co.uk

 

NB: Tulisan ini pertama dimuat di media online Kompas.com pada 1 April 2015.

Danny Welbeck dan Ironi Pemain Akademi

DannyWelbeck

Danny Welbeck merayakan gol ke gawang mantan timnya dulu, Manchester United, dengan seragam Arsenal/www.standard.co.uk

Enam bocah dari akademi Manchester United memperhatikan dengan saksama. Ruud van Nistelrooy sedang memberi contoh, mengajarkan bagaimana melakukan teknik “Roller Coaster” dengan baik. Secara teori, mudah saja. Geser sedikit bola ke arah kiri, lalu saat lawan coba menerjang, tarik bola sembari berputar menjauh ke kanan.

Namun, dalam praktiknya tak semudah itu. Nistelrooy memanggil bocah yang paling tinggi di antara rekan-rekannya untuk maju dan menjajalnya sendiri. Percobaan pertama, gagal. Bolanya tersangkut di kaki dan tertinggal di belakang.

“Tak apa. Kau baru sekali mencoba. Sekarang, coba lagi,” kata Nistelrooy.

“Dengar, ini penting. Banyak hal bisa berjalan dengan salah, karena kau tak bisa jadi sempurna di tiap pertandingan. Kau akan membuat kesalahan. Tapi jangan pedulikan itu. Setelah kau membuat kesalahan, segera lupakan, lalu coba lagi dan lagi. Jangan pernah berhenti mencoba.”

Tersenyum kecil, sang bocah mencoba sekali lagi. Kali ini sukses. Ia melewati Nistelrooy lalu menceploskan bola ke gawang kosong. “Bagus,” kata Nistelrooy.

Nama bocah itu adalah Danny Welbeck.

Adegan ini terekam dalam video Play Like Champions yang dirilis United pada 2003. Tak hanya Nistelrooy, beberapa pemain senior United lainnya ikut turun tangan langsung melatih para bocah akademi. Ada Ryan Giggs, Paul Scholes dan juga Roy Keane. Dengan begitu, diharapkan para bocah akademi dapat menyerap ilmu langsung dari para pemain top United dan tumbuh jadi pemain besar di kemudian hari.

Untitled

Ruud van Nistelrooy (kiri) mengajari teknik “Roller Coaster” pada Danny Welbeck muda (kanan)/YouTube

Kira-kira lima tahun berselang, Welbeck berhasil menembus tim utama. Ia melakoni debut resmi untuk United pada 23 September 2008 melawan Middlesbrough di Piala Liga. Namun, namanya baru benar-benar mencuat kala ia menjalani debut di Liga Inggris melawan Stoke City dua bulan berselang.

Pada menit ke-84, Welbeck mencetak gol melalui tendangan keras dari jarak sekitar 27 meter. Nama Welbeck bergaung keras di Old Trafford. Para pendukung United yakin, bintang baru telah lahir malam itu.

Tak ada yang menyangka, selewat hampir tujuh tahun kemudian ceritanya telah berbeda. Pada 9 Maret 2015, Welbeck berjalan masuk ke Old Trafford untuk menjalani babak perempat final Piala FA dengan seragam Arsenal, melawan United.

Pada awal musim 2014/2015, Welbeck tersingkir dari United karena kedatangan pelatih baru Louis van Gaal. Ia dianggap kalah kualitas dibanding barisan penyerang top United lainnya seperti Wayne Rooney, Robin van Persie dan Radamel Falcao.

“Ya, Danny Welbeck telah berada di sini sejak berusia sembilan tahun,” ujar van Gaal. “Namun dia tak memiliki rekor gol seperti van Persie atau Rooney, padahal itu adalah standar kami. Itulah kenapa kami membiarkannya pergi, juga karena Falcao, serta untuk memberi ruang bagi para pemain muda lainnya.”

96WELBECK2706A

Danny Welbeck mesti tersingkir dari United/www.wolexis.com

Namun Welbeck seakan kembali untuk membalas dendam. Pada menit ke-61 pertandingan perempat final Piala FA di Old Trafford, Senin (9/3/2015), Antonio Valencia memberikan umpan datar kepada David De Gea. Terlalu pelan, bola bergulir di antara kejaran Welbeck dan De Gea. Welbeck berlari sekuat tenaga. Di saat-saat akhir kaki kanannya berhasil menyentuh bola hingga melewati kiper asal Spanyol itu. Welbeck pun sukses mencetak gol ke gawang kosong.

Pendukung United terhenyak. Pendukung Arsenal bersorak. Welbeck berlari ke pinggir lapangan merayakan gol bersama Santi Cazorla, Alexis Sanches, dan Mesut Ozil. Raut girang membuncah di wajahnya.

Laga berakhir dengan skor 2-1 untuk klub anyar Welbeck. United pun tersingkir dari Piala FA dan terancam nihil gelar kembali seperti musim lalu. Padahal, terakhir kali mereka puasa trofi selama dua musim beruntun adalah 27 tahun silam, di masa-masa awal kepemimpinan Sir Alex Ferguson.

Sejak Fergie memutuskan untuk pensiun, United memang seakan kehilangan daya gigitnya, mental juaranya, dan bahkan aura yang membuatnya disegani lawan. Dulu, mereka punya kemampuan untuk menang dengan tim seadanya. Kini, mereka bisa kalah walau menurunkan tim serba ada.

Padahal, dalam dua musim terakhir United telah menghabiskan setidaknya 210 juta poundsterling untuk belanja pemain. Banyak di antaranya dibeli dengan harga fantastis, di luar kebiasaan United era Fergie.

Dalam mimpi terliarnya sekali pun, pendukung United tak akan berani membayangkan Fergie akan mengeluarkan 27 juta poundsterling masing-masing untuk Marouane Fellaini dan Luke Shaw. Fergie juga tak akan sudi memecahkan rekor transfer hingga 60 juta poundsterling hanya untuk membeli seorang pemain, walau pemain itu bernama Angel Di Maria. Ia lebih suka membeli pemain muda tak terkenal seharga beberapa juta, membinanya, lalu menjualnya seharga 60 juta.

???????????????????????????

Dua pemain baru United, Angel Di Maria dan Radamel Falcao/www.standard.co.uk

Akibatnya, kini United justru terlihat seperti Real Madrid sembilan tahun lalu. Pada pertengahan 2006, Real menunjuk Fabio Capello sebagai manajer baru untuk menghentikan puasa gelar yang telah terjadi selama tiga musim beruntun. Segera saja Capello menggelontorkan 100 juta euro untuk belanja pemain.

Masing-masing 10 juta euro dikeluarkan untuk membeli duet pemain uzur, Fabio Cannavaro dan Emerson, 26 juta euro untuk pembelian panik Mahamadou Diarra dalam rangka pencarian suksesor Claude Makelele, serta 40 juta euro untuk tiga pemain muda latin miskin pengalaman di Eropa, Marcelo, Fernando Gago dan Gonzalo Higuain.

Sebelumnya, di Real telah ada Antonio Cassano, mantan anak emas Capello di AS Roma. Mirip dengan keberadaan van Persie di United, yang notabene adalah anak emas van Gaal di tim nasional Belanda. Selain itu, Cannavaro adalah pemain bertahan favorit Capello saat masih melatih Juventus dahulu. Sama dengan Daley Blind bagi van Gaal di Belanda. Saat itu, Zinedine Zidane, metronom andalan Real, juga baru saja pensiun. Sama halnya seperti Paul Scholes di United.

Capello dan van Gaal juga sama-sama pelatih keras kepala yang berani mempertahankan filosofinya walau mesti dipecat oleh timnya. Di Real, Capello bersikeras menerapkan gaya main pragmatis untuk mencapai kemenangan. Ia juga berani mencadangkan David Beckham dan Ronaldo, dua pemain favorit sang presiden, Florentino Perez. Hasilnya, Capello dipecat walau berhasil membawa Real jadi juara liga di akhir musim 2006-2007. Alasannya, Real bermain kurang indah.

www.aldia.cr

Fabio Capello di Real Madrid/www.aldia.cr

www.thenorthernecho.co.uk

Louis van Gaal di Manchester United/www.thenorthernecho.co.uk

Sedikit berbeda dengan van Gaal di United. Ia kukuh memainkan formasi tiga bek walau selama puluhan tahun terakhir United identik dengan pola 4-4-2. Ia pun ngotot meminta timnya memainkan bola dengan umpan-umpan pendek dari lini pertahanan sendiri, walau pemain seperti Phil Jones dan Jonny Evans lebih paham caranya melanggar lawan. Alhasil, United jarang bermain konsisten dan terus tercecer dari perburuan gelar juara atau bahkan perebutan zona Liga Champions.

Untuk bermain dengan filosofi yang diinginkan, kedua pelatih itu butuh pemain yang bisa bermain dengan cara yang tepat, yang mampu menerjemahkan instruksi menjadi solusi. Terbatasnya sumber daya dalam tim membuat mereka berpaling membeli pemain dari luar.

Padahal, Real dan United sama-sama punya reputasi sebagai pencetak pemain muda andal. Tengok saja nama-nama seperti Raul Gonzales, Iker Casillas dan Guti Hernandez. Mereka adalah lulusan akademi Real yang mencuat pada akhir 1990-an dan awal 2000-an lalu sukses jadi tulang punggung tim dalam waktu lama. Mereka adalah ikon yang begitu dibanggakan.

Namun setelah lewat generasi Raul, Real belum lagi mencetak pemain muda top yang langsung jadi andalan tim. Kebanyakan justru bersinar setelah dibuang ke tim lain. Sebut saja Esteban Cambiasso di Inter Milan, Alvaro Arbeloa di Liverpool (sebelum ditarik pulang ke Real), Roberto Soldado di Valencia, dan Juan Mata di Chelsea. Jangan buang waktu untuk membahas Francisco Pavon, Javier Portillo atau bahkan Jose Manuel Jurado.

Tak jauh beda, United selalu membanggakan angkatan 1992 akademinya yang menghasilkan generasi emas seperti Beckham, Giggs, Scholes dan Neville bersaudara. Namun setelahnya, hanya ada pemain-pemain yang kelewat dibanggakan dan perkembangannya tak sesuai harapan. Darren Fletcher selalu berada dalam bayang-bayang Keane dan Scholes, serta terlalu mudah cedera. John O’Shea lamban. Wes Brown gemar membuat blunder. Tom Cleverley tak berani memegang bola lebih dari lima detik. Evans sering demam panggung. Bebe hanya pura-pura bisa main sepak bola.

JS48846654

Wes Brown dan John O’Shea, dua pemain United yang terbuang ke Sunderland/www.chroniclelive.co.uk

Sementara itu beberapa pemain yang sempat masuk akademi justru telat dipromosikan atau diberi kepercayaan hingga pindah dan unjuk gigi di tim lain. Gerard Pique tentu tak akan menyesal meninggalkan United menuju Barcelona. Kini Paul Pogba jadi tulang punggung lini tengah Juventus bersama Andrea Pirlo. Lalu Welbeck, justru kembali menemukan jalannya di Arsenal.

Para pemain ini pergi karena kalah saing dengan nama-nama besar di tim utama. Selain itu, sepak bola modern menuntut mereka untuk berkembang lebih cepat dari seharusnya. Semua ingin melihat Lionel Messi atau Cristiano Ronaldo baru yang “meledak” sejak remaja dan telah jadi tulang punggung tim saat baru beranjak dewasa.

Bila sudah begitu, mereka hanya bisa pergi dan memulai petualangan baru. Seperti kata Nistelrooy, banyak hal berjalan salah, tapi mereka harus segera melupakan, lalu mencobanya lagi dan lagi.

 

NB: Tulisan ini pertama dimuat di media online Kompas.com, terbagi dalam dua bagian: part 1 dan part 2.

Dan Gerrard Memilih Pergi

gerrardget_3156741b

Kapten Liverpool Steven Gerrard/Telegraph.co.uk

November 1998, situasi Liverpool sedang tidak stabil. Duet manajer Gerard Houllier dan Roy Evans tak mampu mengangkat performa tim secara keseluruhan di berbagai ajang kompetisi. Setelah kekalahan 1-3 dari Tottenham Hotspur di Piala Liga, Evans mengundurkan diri. Sejak itu Houllier memegang penuh kendali kemudi.

Houllier melakukan perombakan besar-besaran. Ia mencanangkan program lima tahun kerja untuk membangun ulang Liverpool, dari penerapan taktik hingga struktur dan mental para pemain. Wajar, sudah hampir satu dekade berlalu sejak terakhir kali tim tersebut mencicipi gelar juara Liga Inggris.

Pada musim panas 1999 Houllier melepas para “spice boys” yang lebih gemar berpesta dibandingkan tampil maksimal di lapangan. Nama-nama besar ada di dalamnya, termasuk Paul Ince, David James, Jason McAteer, dan Steve McManaman. Di sisi lain, Houllier mendatangkan pemain mancanegara untuk menambal lubang-lubang di tim Liverpool, dari Sami Hyypia, Dietmar Hamann, hingga Vladimir Smicer.

Tak hanya itu, Houllier juga mempromosikan beberapa pemain muda potensial dari akademi Liverpool. Misalnya kala membutuhkan seorang sayap kanan, ia segera menghubungi Steve Heighway yang banyak mengurus pengembangan tim yunior saat itu. Heighway pun merekomendasikan pemain didikannya dari tim U-19.

“Dia meminta saya datang menyaksikan pertandingan yang melibatkan Richie Partridge. Pemain muda itu dianggap mampu jadi jawaban bagi masalah kami di sisi kanan lapangan,” kata Houllier.

“Saya rasa itu adalah pertandingan U-19 melawan Blackburn. Saya ingat di tengah lapangan ada seorang remaja yang tak saya kenal berlarian ke mana-mana, berteriak pada orang-orang, dan bertingkah selayaknya pemimpin. Ia cepat, bisa menekel, dan mampu memberikan operan dengan sigap.”

Ia adalah Steven Gerrard.

Steven-Gerrard (1)

Steven Gerrard muda/Mirror.co.uk

Houllier sontak jatuh hati pada permainan Gerrard muda di lapangan. Tak lama kemudian Gerrard segera dijajal bermain dalam tim utama. Ia melakoni debut bagi Liverpool pada 29 November 1998 di Liga Inggris, juga melawan Blackburn.

Tak hanya Houllier, para staf dan fans Liverpool tahu saat itu mereka memiliki aset berharga dalam diri Gerrard. Karena itu, sang pemain dijaga betul perkembangannya, dari pola permainan hingga pergaulan. Ini terlihat dari pernyataan Houllier pada Mei 2001.

“Masa 10 tahun ke depan bisa jadi yang terbaik bagi hidup Steven, tapi ia mesti hidup untuk pekerjaannya sebagai pemain sepak bola,” kata Houllier. “Jika teman-temannya ingin pergi ke klub malam, biarkan mereka pergi sendiri. Pada waktunya nanti ia akan sukses dan mampu membeli satu klub malam bagi dirinya sendiri.”

Pada musim 2000/2001 Gerrard memang telah sukses menembus tim inti Liverpool. Ia tampil sejak menit awal dalam 50 laga dan sukses membantu tim menjadi juara di tiga ajang berbeda: Piala Liga, Piala FA, dan Piala UEFA.

Jamie-Carragher-with-Robbie-Fowler-Michael-Owen-and-Steven-Gerrard

Michael Owen, Robbie Fowler, Jamie Carragher dan Steven Gerrard usai menjuarai Piala UEFA 2001/Mirror.co.uk

Pada Oktober 2003 Houllier bahkan menunjuk Gerrard sebagai kapten Liverpool. Kala itu usia Gerrard baru menginjak 22 tahun. Ia jadi suksesor Hyypia, bek asal Finlandia yang delapan tahun lebih tua. Alasannya sederhana, jabatan kapten kala itu justru membebani Hyypia, sedangkan Gerrard sebaliknya.

“Stevie adalah pemimpin alami dan saya rasa jabatan kapten akan meningkatkan level permainannya,” kata Houllier.

Benar saja, sejak itu Gerrard menjadi tulang punggung tim baik di dalam maupun luar lapangan. Para pemain lain datang dan pergi, tapi ia terus bertahan, memikul beban berat untuk mengembalikan kejayaan Liverpool di Liga Inggris.

Bersama Houllier, harapan itu sempat membubung. Apalagi pada musim 2001/2002 Liverpool berhasil meraih Piala Super Eropa dan menjadi runner-up Liga Inggris, hanya terpaut 7 poin di belakang Arsenal yang keluar sebagai juara.

Namun, romansa itu tak bertahan lama. Dua musim berselang, kritik deras justru mengampiri Houllier. Pemilihan taktik dan strategi transfer pria asal Prancis itu dinilai tak efektif hingga hubungannya kian memburuk dengan para penggemar. Pada Mei 2004 ia pun angkat kaki dari Liverpool.

Rafael Benitez diangkat sebagai manajer baru. Ia menerapkan gaya berbeda dengan menekankan operan pendek dan penguasaan bola dibandingkan melakukan banyak umpan panjang langsung ke lini depan. Xabi Alonso dan Luis Garcia direkrut untuk menambah kekuatan lini tengah, sementara posisi Gerrard diubah sedikit lebih menyerang. Tak sulit bagi Gerrard untuk beradaptasi dalam skema baru Benitez. Baginya, kepentingan tim adalah segalanya. Apa pun akan ia lakukan demi mencapai kemenangan.

Sejak awal Benitez telah terkesan oleh pembawaan Gerrard. Pada perjumpaan pertama dengan sang kapten, ia menjelaskan soal ide dan taktik yang akan dibawanya pada tim. Ia juga bertanya apa yang bisa Gerrard berikan bagi tim.

“Steven menjawab ‘gairah’,” kata Benitez.

Gairah itulah yang membuat Gerrard pantang menyerah dalam situasi sesulit apa pun. Seperti kala Liverpool tertinggal 0-3 di akhir babak pertama final Liga Champion 2005 melawan AC Milan. Semua mengira Liverpool telah habis, tak akan mampu berbuat banyak di babak kedua, atau justru tertinggal makin jauh dengan skor lebih memalukan.

Namun Gerrard memimpin orkestra kebangkitan Liverpool kala itu dengan golnya pada menit ke-54. Setelah itu ia bagai kesetanan; mengejar bola, menekel, mengumpan, dan bahkan sempat bermain sebagai bek kanan. Smicer dan Alonso pun sukses menyamakan kedudukan menjadi 3-3. Permainan berlanjut hingga adu tendangan penalti yang dimenangi Liverpool.

steven-gerrard-launches-liverpool-s-epic-champions-league-fightback-against-ac-milan-773990836

Steven Gerrard mengawali kebangkitan Liverpool di final Liga Champion 2005 melawan AC Milan dengan gol sundulannya/liverpoolecho.co.uk

“Setelah final di Istanbul itu, ia mengatakan kepada saya dan para staf pelatih, ‘Anda harus bisa membuat saya jadi gelandang terbaik di dunia’. Itu menunjukkan seberapa besar ambisinya dan juga seberapa keras ia mau berusaha,” kata Benitez.

Lalu hal sama terulang setahun kemudian pada final Piala FA 2006 melawan West Ham United. Sempat tertinggal dua gol, Gerrard menyumbang satu assist dan satu gol untuk kembali menyamakan kedudukan. Bahkan ketika Liverpool kembali tertinggal, ia sukses mencetak gol lagi pada menit ke-91 melalui tendangan jarak jauh. The Reds pun menjadi juara lewat adu tendangan penalti.

Atas segala prestasinya itu, Gerrard mendapat gelar kebangsawanan Member of the Order of The British Empire (MBE) pada akhir 2006. Namun ia belum puas. Hampir seluruh gelar bergengsi yang bisa diraih seorang pesepak bola di level klub telah didapatnya, kecuali Liga Inggris. Paceklik gelar Liverpool di ajang ini telah berlangsung begitu lama. Bahkan pada 2011 Manchester United berhasil menyalip rekor gelar juara terbanyak yang sebelumnya dipegang Liverpool dengan raihan 18 trofi.

Harapan kembali muncul kala Brendan Rodgers mengambil alih tim pada 2012. Rodgers mengubah gaya tim menjadi lebih menekan dan ofensif. Umpan pendek terus mengalir berpusat pada Gerrard di tengah serta Luis Suarez di depan. Gol-gol pun terus berdatangan, menutupi lubang besar di pertahanan Liverpool.

Pada musim 2013/2014 semua bahkan terlihat sempurna bagi Gerrard. Hingga pekan ke-34 Liga Inggris, Liverpool masih memimpin klasemen dengan keunggulan 2 poin atas Chelsea di posisi kedua serta 7 poin atas Manchester City di tempat ketiga. Saat itu mereka baru saja memenangi pertandingan melawan Manchester City dengan skor 3-2.

Di akhir laga Gerrard tak mampu menahan emosi. Ia menangis terharu melihat perjuangan timnya. Tinggal empat pertandingan lagi, dan apa pun bisa terjadi. Namun ia tak mau terlena. Gerrard mengumpulkan rekan-rekan setimnya seusai pertandingan dan berujar lugas, “Ini telah berlalu. Kita akan pergi bertanding ke Norwich dan melakukan hal yang sama. Dengar, kita tak akan tergelincir!”

ad_132293269

“Kita tak akan tergelincir!”/blog.lefigaro.fr

Wajar bila Gerrard terlihat begitu menggebu. Usianya hampir menginjak 34 tahun. Bila Liverpool tak juara saat itu, mungkin tak akan ada lagi kesempatan lain. Sayang, kenyataan tak seindah harapan. Pada pekan ke-36 mereka berjumpa Chelsea dan yang ditakutkan benar terjadi.

Pada masa perpanjangan waktu babak pertama, Mamadou Sakho memberikan umpan pendek pada Gerrard di tengah lapangan. Umpan mendatar yang seharusnya bisa diantisipasi dengan mudah, terutama oleh pemain sekelas Gerrard. Lalu di saat itulah Gerrard tergelincir. Bola direbut penyerang Chelsea, Demba Ba, yang kemudian diteruskan menjadi gol. Di akhir laga Liverpool kalah 0-2.

Pada akhir musim itu Manchester City keluar sebagai juara. Seluruh harapan Gerrard pupus karena blunder yang dibuatnya. “Setelah itu saya mengalami masa tiga bulan terberat dalam hidup saya,” katanya.

Semusim berselang, kondisi berbanding terbalik. Suarez pergi ke Barcelona dan Gerrard kian rentan cedera. Performa Gerrard di lini tengah juga tak sedominan biasanya. Masalah usia menjadi faktor utama. Karena itu Liverpool terpuruk. Hingga pekan ke-20 di musim 2014/2015 mereka hanya di posisi ke-8 klasemen sementara Liga Inggris.

“Saya menyesal tidak bertemu Brendan saat saya masih berusia 24 tahun, karena saya pikir bila itu terjadi kami akan memenangi banyak gelar bersama,” kata Gerrard. “Kenyataannya, Brendan datang ke klub ini ketika saya telah berusia 32 tahun.”

Rodgers juga tak punya banyak pilihan. Ia berbicara langsung dengan Gerrard dan mengatakan bahwa sang kapten bukan lagi pilihan utama dalam tim. Dengan kondisi fisik saat ini, Gerrard tak lagi bisa membawa tim menang sendirian setiap minggu. Ada ruang yang mesti disisihkan untuk pengembangan pemain muda demi prospek jangka panjang tim.

Gerrard menyadari sepenuhnya hal tersebut. Namun, tetap saja ada lubang besar yang tercipta tak lama setelahnya. Tiba-tiba kekosongan menyapa. Inilah yang mendorongnya untuk membuat pengumuman penting pada 1 Januari 2015. Gerrard memutuskan pergi dari Liverpool pada akhir musim nanti. Saatnya telah tiba.

Leicester-City-v-Liverpool

Steven Gerrard/Mirror.co.uk

Gerrard akan hijrah ke klub Amerika Serikat, LA Galaxy, meninggalkan Liverpool, yang dibelanya sejak ia berusia 8 tahun. Ia ingin memulai petualangan baru, sebelum benar-benar menutup karier sebagai pemain sepak bola.

Mungkin Gerrard lelah hidup seperti Sisifus, tokoh dalam mitologi Yunani yang dihukum para dewa untuk terus menerus mendorong batu besar hingga ke puncak gunung. Setelah batu itu jatuh ke bawah oleh beratnya sendiri, Sisifus harus terus mengulangi mendorong batu tanpa henti, lagi dan lagi. Dari sana, kita bisa membayangkan Sisifus berbahagia. Ia tidak pernah berhenti karena perjuangan itu dianggap telah cukup untuk mengisi hati manusia.

Belasan tahun Gerrard memanggul beban berat untuk menunaikan tugas membawa Liverpool menjuarai Liga Inggris. Namun ia selalu terjatuh, lagi dan lagi. Walau begitu, bukan berarti perjuangannya tak berarti. Hingga kini, hampir 700 laga telah dilakoni bersama Liverpool dengan sumbangan tak kurang dari 180 gol. Segala daya ia kerahkan untuk mengharumkan nama klubnya itu. Misinya tak pernah usai, tapi perjuangannya telah cukup untuk mengisi hati para penggemarnya.

 

NB: Tulisan ini pertama dimuat di majalah The Geo Times edisi 12 Januari 2015.

Xavi Mundur, Duka Lini Tengah Spanyol

Sudah setengah jam berlalu. Belum ada gol tercipta di antara dua kubu. Spanyol hadapi tekanan besar. Sudah 44 tahun mereka paceklik gelar. Apalagi, Jerman bukan lawan sembarangan.

Jerman memang sedang dalam fase transisi. Namun, perpaduan pemain gaek seperti Jens Lehmann, Michael Ballack dan Miroslav Klose dengan pemain muda semacam Philipp Lahm, Bastian Schweinsteiger dan Lukas Podolski cukup menjanjikan. Mereka terakhir jadi juara Eropa pada 1996. Maka, Piala Eropa 2008 bisa jadi trofi penebusan bagi keduanya.

Namun, semua berubah di menit ke-33.

“Semua dimulai dari tendangan bebas Spanyol di bagian lapangan mereka sendiri. Dan sementara kami sedang bersiap, mereka melakukan tepat seperti apa yang ingin kami cegah sebelumnya. Mereka mengirimkan operan pendek ke tengah lapangan, dan Marcos Senna yang bergerak tanpa pengawalan, mengirimkannya bola pada Xavi,” ujar Lahm.

Xavi Hernandez bergerak leluasa mencari rekan dan mengumpan adalah hal yang paling dihindari siapapun tim yang berhadapan dengan Spanyol. Itulah yang terjadi. Umpan terobosan segera dilancarkan pada Fernando Torres yang berlari di antara Lahm dan Christoph Metzelder.

“Saya masih bisa mengungguli Torres dan dia tidak lebih cepat dari saya, tapi kemudian saya melihat Jens Lehmann keluar dari gawang dan secara intuitif saya menahan diri selama sesaat,” kata Lahm.

Setelahnya, semua tinggal sejarah. Dalam kondisi 50-50, Torres berlari kencang dengan langkah panjang dan mencungkil bola di saat-saat akhir. Gol tercipta dan jadi satu-satunya dalam laga. Spanyol menang 1-0 atas Jerman di final Piala Eropa 2008.

torresgoal

Gol Fernando Torres ke gawang Jerman di final Piala Eropa 2008/www.worldsoccer.com

Empat tahun berselang, kondisinya bahkan lebih mudah. Di Polandia dan Ukraina, Spanyol berhasil kembali melaju ke laga puncak untuk bertemu Italia. Kala itu, statusnya jelas, mana yang superior dan inferior.

Spanyol adalah raja sepak bola dunia yang berhasil menjuarai Piala Eropa 2008 dan Piala Dunia 2010. Karena itu, keberhasilan mencapai babak final justru jadi lumrah.

Sementara itu, Italia adalah tim compang-camping yang sedang berusaha membangun dirinya kembali. Bagi Italia, Piala Dunia 2010 hanyalah ajang liburan bagi para pemain tua sembari sesekali bermain sepak bola. Barulah pada Piala Eropa 2012 muncul lagi gairah dengan Mario Balotelli dan Antonio Cassano di ujung arus penyerangan tim.

Tak ada kejutan berarti. Pada menit ke-14, kombinasi para gelandang maut Spanyol telah sukses melahirkan gol. Umpan-umpan pendek dari Xavi ke Andres Iniesta dan berlanjut ke Cesc Fabregas berakhir dengan gol dari David Silva.

Setelahnya, Spanyol benar-benar dominan sepanjang laga. Pada menit ke-41, rasanya bagai déjà vu. Xavi bergerak bebas di tengah bagian lapangan Italia. Lalu ia melancarkan umpan terobosan untuk Jordi Alba yang berlari di antara Leonardo Bonucci dan Andrea Barzagli. Gianluigi Buffon segera berlari keluar gawang, laju Bonucci melambat dalam sepersekian detik dan Alba sukses mencetak gol perdananya bagi Spanyol. Gol pertama, di final Piala Eropa.

Xavi bahkan kembali jadi arsitek gol Spanyol selanjutnya oleh Torres pada menit ke-84. Padahal, Torres hanya bisa mencetak 12 gol dari 67 pertandingan dalam dua musim pertama berseragam Chelsea. Berkat Xavi, ia berhasil mencetak gol di dua edisi final Piala Eropa secara beruntun.

Pertandingan malam itu pun ditutup oleh gol Juan Mata empat menit berselang. Spanyol jadi tim pertama dalam sejarah yang menjuarai tiga kompetisi besar secara beruntun: dua Piala Eropa dan satu Piala Dunia. Pencapaian yang rasanya sulit untuk terulang oleh tim manapun dalam waktu dekat.

Spain v Italy - Group C: UEFA EURO 2012

Pada pertandingan fase grup Piala Eropa 2012, Spanyol telah berhadapan dengan Italia. Xavi ditekan, hasil imbang 1-1/amfm-magazine.com

Karena itulah Xavi sempat memutuskan untuk pensiun dari tim nasional usai kemenangan di Polandia dan Ukraina. “Saya berencana pensiun setelah Piala Eropa 2012, tapi pelatih kepala Vincente del Bosque merayu saya agar bertahan dan ikut pergi ke (Piala Dunia 2014) Brasil, yang mana tentu saja jadi kekecewaan besar bagi setiap orang dan saya sendiri secara individu,” kata Xavi.

Namun, siapa yang rela mengizinkan Xavi mundur begitu saja? ESPN mencatat, setidaknya Xavi telah menghasilkan 123 assist dalam satu dekade terakhir bagi Barcelona dan Spanyol. Ia adalah maestro lapangan tengah sepak bola. Saat dibutuhkan, ia pun kerap mencuri perhatian dengan gol-golnya. Sepanjang kariernya, Xavi telah mencetak 83 gol untuk Barcelona dan 13 gol untuk Spanyol.

Sejak menembus tim utama pada musim 1998/1999 hingga kini, Xavi telah bekerja sama dengan sembilan pelatih berbeda di Barcelona, dari Louis van Gaal hingga Luis Enrique – yang sempat pula bermain bersama Xavi di awal karier sebagai pemain. Sejak pergantian milenium baru, Xavi pun lekat dengan posisi inti. Pada musim 2004/2005, ia bahkan resmi jadi wakil kapten tim.

Telah bertumpuk gelar yang Xavi raih, entah secara kolektif ataupun individu. Tujuh gelar La Liga, dua Copa del Rey dan tiga trofi Liga Champion rasanya cukup membuktikan kapabilitas Xavi. Ia pun sempat masuk peringkat ketiga pemain terbaik dunia versi FIFA pada rentang waktu 2009-2011.

Xavi memang jenius, karena bisa membangkitkan kejeniusan pemain lain. Jelang semi final Piala Dunia 2010 antara Spanyol dan Jerman, pelatih Joachim Loew sempat mengungkapkan hal senada.

Saat itu pers bertanya pada Loew, siapa pemain yang paling dikhawatirkannya dari kubu Spanyol, apakah Torres atau David Villa? Bukan. Kala itu Loew menunjuk Xavi sebagai pemain yang harus dimatikan pertama kali.

“Xavi adalah pusat dari tulang punggung permainan tim mereka yang sempurna,” kata Loew.

Villa dan Torres memang berbahaya, tapi mereka bisa dihentikan “dengan menekan Xavi sejak menit pertama.”

Ucapan Loew akhirnya terbukti dengan sendirinya. Saat itu Spanyol menang 1-0 melalui gol sundulan Carles Puyol memanfaatkan umpan tendangan sudut dari Xavi.

Akun Twitter resmi Opta Sports, OptaJoe, bahkan sempat merilis data jumlah operan yang Xavi buat bagi Spanyol di ajang yang sama.

“Xavi berhasil membuat 599 operan di Piala Dunia 2010; lebih banyak dari jumlah yang pernah dibuat pemain manapun dalam satu ajang turnamen sejak 1966. Luar biasa,” cuitnya pada 5 Agustus 2014.

Kehebatan Xavi dalam mengontrol permainan, mengatur tempo, menciptakan ruang ataupun memberikan umpan memang luar biasa. Itu telah jadi rutinitas Xavi, tak terpisahkan dalam bagian permainannya.

“Itulah yang saya lakukan, mencari ruang. Sepanjang hari, saya selalu memperhatikan sekeliling,” kata Xavi suatu hari.

800px-Xavi_spain_england

Xavi mencari ruang/vivafootballcalcio.com

Maka, wajar kala legenda Belanda dan Barcelona, Johan Cruyff, berujar, “Siapa yang mempertanyakan kemampuan Xavi adalah idiot; mereka tak tahu apa yang mereka bicarakan. Dia adalah pemikir terbaik dalam tim.”

Maka, 5 Agustus 2014 adalah waktu berduka bagi tim nasional Spanyol kala Xavi mengucapkan kata perpisahan dari dunia sepak bola internasional. Mereka telah kehilangan salah satu pilar lini tengah terbaiknya dalam lebih dari satu dekade terakhir. Perpisahannya memang berujung bencana di Piala Dunia 2014, tapi itu hanyalah setitik debu dalam mahligai karier Xavi yang bergelimang gelar.

“Realita nyatanya berjalan lebih baik daripada mimpi-mimpi saya selama ini,” kata Xavi.

Kini Torres mungkin sedang panik; siapa yang akan memberinya umpan terobosan di laga-laga penting Spanyol selanjutnya? Masih ada Iniesta atau Fabregas tentunya. Namun, itupun bila Spanyol masih tertarik memanggil Torres kembali.

 

NB: Tulisan ini pertama kali dimuat di media online GeoTimes.co.id pada Kamis, 7 Agustus 2014.

Menyoal Musim Terpenting dalam Karier Rooney

Wayne Rooney

Wayne Rooney/The Guardian

28 September 2004

Malam itu akan selalu dikenang oleh Wayne Rooney. Ia melakoni debutnya dengan gemilang untuk Manchester United di ajang Liga Champion melawan Fenerbahce. Ia membuat hattrick dan satu assist. Usia Rooney baru 18 tahun, tapi banyak orang terbelalak melihat potensi besarnya.

“Mencetak hattrick di laga pertama untuk Manchester United adalah hal yang sangat spesial,” ujar Ryan Giggs. “Itu adalah awal yang biasanya hanya bisa kita impikan. Penampilannya luar biasa, tapi ketajamannya yang paling membuat saya terkesan.”

“Manajer akan melihat ini sebagai tanggung jawabnya, untuk memastikan bahwa dalam 10 tahun ke depan Wayne tetap bermain seperti ini dan memenuhi potensinya.”

reua_121979

Wayne Rooney mencetak gol keduanya di laga debut untuk Manchester United melawan Fenerbahce/Squawka

Kini, satu dekade telah berlalu. Rooney berhasil mencetak 216 gol dan membantu tim meraih lima gelar Liga Inggris, dua Piala Liga, satu Liga Champion dan satu Piala Dunia Antarklub.

Musim 2014/2015 sendiri akan segera bergulir pada pertengahan Agustus mendatang. Kedatangan pelatih Louis van Gaal membuat semua pemain berlomba unjuk gigi. Siapa yang tidak tampil maksimal, akan didepak dari klub atau sekadar jadi penghias bangku cadangan.

Rooney sendiri adalah calon kuat kapten selanjutnya, entah di MU maupun tim nasional Inggris. Steven Gerrard baru saja pensiun dari timnas. Sementara itu, dua kapten utama MU musim lalu, Nemanja Vidic dan Patrice Evra, juga memutuskan untuk hengkang mencari peruntungan baru. Usia Rooney kini 28 tahun. Dengan pengalaman segudang di usia matang, ia diyakini jadi kandidat kuat penyandang ban kapten.

Karena itu, tiga minggu ke depan mungkin adalah masa-masa terpenting dalam karier Rooney. Banyak harapan dan beban di pundaknya kini. Namun, benarkah Rooney telah memenuhi potensinya seperti harapan Giggs 10 tahun lalu?

Di awal kariernya, Rooney terlihat seperti metamorfosis Paul “Gazza” Gascoigne dalam bentuk striker. Badannya tegap dan liat walau tak terlampau tinggi untuk ukuran pesepak bola Eropa pada umumnya. Tingginya 176 cm; tujuh cm lebih tinggi dari Lionel Messi atau sembilan cm lebih pendek dari Cristiano Ronaldo.

Larinya juga cepat. Arjen Robben sempat berlari dengan kecepatan 10,28 meter per detik saat bermain melawan Spanyol di Piala Dunia 2014 lalu. Sementara pada Piala Eropa 2004, Rooney pernah mencatat rekor 9,7 meter per detik.

Dengan badan yang tak terlampau tinggi, ia punya pusat gravitasi rendah hingga mudah berubah arah ketika berlari. Ditambah lagi dengan kecepatan tinggi dan tubuh tegap yang kuat untuk beradu fisik dengan pemain bertahan tim lawan. Tendangannya pun keras dan terarah.

Pendukung Arsenal pasti masih kesal bila mengingat laga melawan Everton pada 19 Oktober 2002. Kala itu, pada usia 17 tahun kurang lima hari ia mencetak gol perdananya di Liga Inggris. Golnya pun spesial. Tendangan jarak jauh – 27 meter dari gawang Arsenal – yang melengkung melewati hadangan Sol Campbell dan mengecoh kiper gaek David Seaman. Rekor 30 pertandingan tak terkalahkan Arsenal pun terhenti oleh Everton.

“Ingatlah namanya, Wayne Rooney!” ujar komentator pertandingan antusias usai menyaksikan gol Rooney itu.

article-1284117-0058E2FD00000258-903_468x333

Wayne Rooney di Everton/Daily Mail

Penampilan apik Rooney berlanjut di Piala Eropa 2004. Ia berhasil mencetak empat gol di fase grup dan menjadi tumpuan di lini depan Inggris bersama Michael Owen sepanjang turnamen. Sayang, cedera retak tulang metatarsal saat laga melawan Portugal di perempat final menghentikan laju Rooney.

Namun, itu tidak menghentikan MU untuk membeli Rooney dengan harga 25,6 juta pounds pada 2004. Perlahan, permainannya pun berkembang jadi lebih “dewasa” di bawah arahan Sir Alex Ferguson. Sebelumnya, Rooney gemar berlarian ke sana ke mari sejak awal laga untuk mengejar bola, melewati lawan dan mencetak gol. Namun, staminanya jadi cepat terkuras memasuki pertengahan babak kedua. Di bawah asuhan Fergie, ia pun jadi lebih pandai dalam menimbang situasi. Rooney menurunkan ego dan emosinya yang mudah meluap. Ia jadi gemar turun ke bawah, bermain di sayap dan memberi umpan pada rekan lain di depan.

Perubahan permainannya yang paling kentara terjadi pada musim 2007/2008. Saat itu MU baru saja mendatangkan Carlos Tevez dan Ronaldo pun sedang berkembang pesat jadi superstar baru. Alhasil, Rooney sering bermain melebar ke sayap kiri dan Ronaldo justru ditempatkan sebagai ujung tombak serangan. Ronaldo pun jadi protagonis utama tim. Ia mencetak gol tiap pekan, entah lewat permainan terbuka, tendangan bebas atau penalti.

Di musim itu, Ronaldo sukses mencetak 42 gol di segala ajang, Tevez 19 gol dan Rooney 18 gol. Bahu-membahu, trisula itu berhasil membawa MU jadi juara Liga Inggris dan Liga Champion. Rooney pun tak masalah dengan pengorbanannya, asal tim bisa juara. Ia bahkan pernah sesumbar bisa bermain di tiap posisi. Bila harus jadi bek kanan, ia percaya diri bisa jadi yang terbaik di dunia.

Bisa dikatakan, akhirnya kelebihan Rooney jadi kekurangannya sendiri. Ia siap menambal berbagai sisi permainan di atas lapangan. Namun, ia seakan kehilangan karakter.

Rekening gol Rooney memang sempat meningkat setelah kepergian Ronaldo ke Real Madrid pada 2009/2010. Kala itu ia lebih sering bermain sebagai penyerang utama dan sukses mencetak 34 gol di seluruh ajang. Raihan gol yang sama pun terulang kembali di musim 2011/2012. Namun, gaya mainnya telah jauh berbeda.

Dahulu ia penuh imajinasi. Banyak kejutan dalam ruang permainannya, entah lewat gol atau umpan tajam menembus pertahanan lewan. Misalnya kala ia mencetak gol lewat tendangan first time jarak jauh ke gawang Newcastle United di Liga Inggris pada 2005 atau tendangan chip ke gawang Portsmouth di Piala FA pada 2007.

Dribelnya juga maut. Lihatlah gol Ruud van Nistelrooy ke gawang Charlton Athletic pada November 2005. Dalam prosesnya, Rooney sempat mengecoh tiga pemain Charlton dengan giringan bolanya dari tengah lapangan hingga masuk kotak penalti lawan. Lalu, barulah ia memberi umpan lambung ke van Nistelrooy di tengah. Penyerang asal Belanda itu menerima dengan dada, memutar badan dan melakukan tendangan voli kencang hingga bola melesak ke dalam gawang.

Namun, perlahan Rooney berubah jadi miskin kreasi. Kini ia adalah mesin passing, pelayan bagi para pencetak gol utama, dari era Ronaldo, Dimitar Berbatov hingga Robin van Persie. Jarang sekali melihat dribel maut atau tendangan jarak jauh nan terarah Rooney muncul lagi. Ia jadi pemain tim, tidak egois tapi cenderung membosankan. Perbandingannya dengan Gazza seakan tak lagi relevan. Ia lebih mirip Dwight Yorke yang menjelang masa pensiun sebagai pemain.

Sekali-kali magis Rooney masih muncul, seperti gol tendangan saltonya ke gawang Manchester City di liga pada Februari 2011 atau tendangan melengkung jarak jauhnya ke gawang Athletic Bilbao pada Maret 2012. Namun, itu tidak hadir secara konstan sepanjang musim seperti yang dilakukan Messi di Barcelona atau Ronaldo di Real Madrid. Alhasil, itulah yang jadi pembeda ‘kelas’ antara Rooney dan Ronaldo atau Messi.

article-0-0C50BBE300000578-434_634x360

Wayne Rooney terdiam menyaksikan perayaan kemenangan Barcelona atas Manchester United di final Liga Champion 2011/Daily Mail

Kala fase transisi MU sepeninggal Fergie di musim 2013/2014, Rooney juga tak bisa berbuat banyak. Saat itu, ia jadi tumpuan utama penyerangan tim karena van Persie lebih sering masuk ruang perawatan. Di luar buruknya manajemen dan pemilihan taktik Moyes, Rooney pun gagal unjuk gigi di tengah keterpurukan MU. Ia bisa mencetak 19 gol, tapi MU harus jatuh ke peringkat ke-7 klasemen akhir Liga Inggris. Moyes pun dipecat bahkan sebelum musim usai.

Hal sama berlanjut di Piala Dunia 2014. Inggris tak lolos fase grup, Rooney kembali bermain sebagai penyerang sayap kiri dan hanya bisa mencetak satu gol – yang pertama baginya setelah bermain di tiga edisi Piala Dunia. Alhasil, kritik kencang datang dari eks rekan setimnya sendiri, Paul Scholes.

“Klimaks permainan Wayne mungkin terjadi jauh lebih cepat dari biasanya. Usia 28 atau 29 umumnya jadi puncak (performa pesepak bola). Pada diri Wayne, mungkin puncaknya terjadi saat ia mencetak 27 gol di liga pada 2011/2012 di usia 26,” ujar Scholes.

Dengan segala penurunan performa dan penampilan yang kerap jauh dari ekspektasi publik di laga krusial, benarkah Rooney pantas menyandang ban kapten selanjutnya?

Van Gaal sendiri masih menimbang segala aspek karena menurutnya, kapten tim adalah jabatan krusial. Ia bahkan sempat mempertimbangkan van Persie sebagai kapten baru MU. Rooney sendiri tak keberatan bila hal ini benar terjadi.

“Saya akan menghormati keputusannya. Robin van Persie adalah kapten di negaranya, dia juga pernah jadi kapten di Arsenal. Jika Robin menjadi kapten, saya yakin dia akan menjalankan tugasnya dengan baik,” kata Rooney.

Walau begitu, sesungguhnya kapasitas seorang pemimpin tak hanya dilihat dari penampilannya di atas lapangan. Sebagai perbandingan, perusahaan multinasional asal Amerika Serikat, Google, pernah melakukan analisis mendalam untuk mencari kriteria sejati yang dibutuhkan oleh seorang pemimpin.

The New York Times pernah menuliskan soal ini dalam artikelnya pada Maret 2011 lalu. Kriteria itu adalah, punya visi dan strategi jelas untuk tim, membantu rekan setim lain mengembangkan kariernya dan “Jangan jadi pengecut; jadilah produktif dan berorientasi pada hasil akhir.”

Untuk poin pertama, Rooney jelas punya bayangan jauh ke depan soal MU. Usai memperpanjang kontraknya pada Februari 2014, ia menuturkan alasannya untuk bertahan.

“Ini karena saya tahu arah yang dituju klub ini. Jika kami tidak berhasil musim ini, maka kami akan kembali dengan lebih tangguh dan meraih jatah Liga Champion musim depan,” kata Rooney. “Ini adalah salah satu tim terbesar di dunia, dan bermain di sini pada sebagian besar waktu saya berkarier adalah sesuatu yang saya harapkan.”

Lalu soal strategi, tentu seorang pemain harus berpegang teguh pada arahan manajernya. Selama ini, kita bisa melihat kedisiplinan Rooney dalam menerapkan taktik demi kebutuhan tim, entah dengan mengorbankan posisi aslinya atau menjaga kepalanya agar tidak cepat panas dalam sebuah laga. Rooney saat ini memang berbeda jauh dengan dahulu.

Dulu Rooney bisa mendapat kartu merah karena bertepuk tangan dengan sinis di depan wajah wasit saat laga melawan Villarreal di Liga Champion 2005. Selain itu, ia juga pernah diusir dari lapangan karena tekel keras terhadap Miodrag Dzudovic pada laga melawan Montenegro. Itu adalah pertandingan terakhir di babak kualifikasi Piala Eropa 2012. Alhasil, Rooney pun dihukum tak boleh tampil dalam dua laga perdana di putaran final ajang itu.

Lalu pada poin kedua, sesungguhnya Rooney telah membantu rekan setimnya berkembang dengan bermain jauh ke belakang dan jadi lebih rajin memberi assist dibanding mencetak gol. Anda bisa tanyakan hal ini pada Ronaldo dan Tevez di musim 2007/2008 atau van Persie yang sukses mencetak 30 gol di musim 2012/2013. Kala itu, banyak umpan Rooney yang dikonversi van Persie jadi gol. Bahkan Rooney pun merelakan jatah penendang penalti utama pada van Persie.

Selain itu, sahabat Rooney di timnas Inggris, Frank Lampard, juga mengucapkan hal senada. Menurutnya, kehadiran Rooney selalu bisa mencairkan suasana dalam tim. ”Bagi Wayne, semuanya sama. Dia berbicara dengan David Beckham sama seperti dia berbicara dengan pemain baru dalam tim yang bermain bagi Stoke atau Bolton,” ujar Lampard.

“Dia adalah orang yang mudah berbaur,” kata Lampard. “Dia menyeberangi seluruh batasan dan kubu yang selalu ada dalam tim.”

Lampard pun berkesimpulan bahwa Rooney adalah orang yang “Percaya diri, sangat baik saat berbaur dan jenaka. Dan dia adalah orang yang Anda inginkan untuk jadi rekan seperjalanan bila pergi ke medan perang atau hanya sekadar ingin tertawa.”

he57_2013111410364608

Glen Johnson bercanda dengan Wayne Rooney di sesi latihan tim nasional Inggris/7msport.com

Lalu bagaimana dengan poin ketiga?

Rooney bukanlah seorang pengecut. Pada laga perempat final Piala Dunia 2006, Inggris berhadapan dengan Portugal. Saat itu Rooney diusir dari lapangan pada menit ke-62 setelah terlibat insiden dengan Ronaldo. Banyak orang mempertanyakan kelanjutan hubungan keduanya ketika kembali bermain bagi MU.

Namun, nyatanya Rooney tak mau memperpanjang masalah. Ia dan Ronaldo segera berbaikan dan bersama-sama meraih gelar juara Liga Inggris bersama MU di musim 2006/2007. Mereka bahkan kompak mencetak masing-masing 23 gol di seluruh ajang.

Tak hanya itu. Media mencatat, Rooney telah dua kali minta dijual dari MU yaitu pada 2010 dan 2013. Pertama, karena ia meragukan ambisi MU untuk mendatangkan pemain bernama besar dalam tim. Kedua, karena ia kerap dimainkan di luar posisi favoritnya sebagai penyerang tengah dan ingin mencari tantangan baru.

Walau begitu, akhirnya Rooney mengurungkan niatnya itu. Para pendukung sempat kecewa dengan sikapnya. Namun Rooney selalu menegakkan kepala, mengakui kesalahan dan membuktikan di atas lapangan. Secara tak langsung, klub pun jadi berusaha membuktikan ambisinya dengan mendatangkan van Persie pada 2012, Juan Mata semusim berselang, serta Ander Herrera dan Luke Shaw jelang musim 2014/2015 bergulir.

Soal produktivitasnya di atas lapangan, Rooney mungkin bukan predator maut seperti Ronaldo atau Messi, tapi yang ia inginkan hanyalah kemenangan. Zlatan Ibrahimovic sendiri pernah mengungkapkan rasa kagumnya pada Rooney akan hal tersebut.

“Bagi saya, Rooney bukanlah pemain yang mencetak 40 gol dalam semusim. Namun, ia adalah pemain yang menolong rekan-rekannya mencetak banyak gol karena ia bekerja untuk satu, dua atau bahkan tiga pemain lain. Rasanya ia punya mental tangguh untuk menang – seperti saya, dia tidak suka untuk kalah,” ujar Ibrahimovic.

Masih ada waktu tiga minggu lagi sebelum Liga Inggris dimulai. Sebelum itu, Rooney jelas akan menunjukkan segala yang ia bisa untuk meraih kepercayaan van Gaal. Dengan begitu, ia bisa mengunci posisi dalam tim, membuktikan kapasitas diri sebagai salah satu pemain terbaik dunia, serta menyandang ban kapten secara permanen. Ia bisa jadi pemimpin; tak hanya di MU, tapi juga di timnas Inggris.

article-2698530-1FCD485D00000578-944_638x403

Louis van Gaal dan Wayne Rooney/Daily Mail

Ini benar-benar musim terpenting dalam karier Rooney.

 

NB: Tulisan ini pertama dimuat di media online GeoTimes.co.id pada Sabtu, 26 Juli 2014.