Tika Bisono: Anak Perlu Belajar Mengisi TTS agar Tidak Jadi “Robot”

IMG_5228

Tika Bisono/Viriya Paramita

Sejak kecil, teka-teki silang (TTS) telah mengisi hari-hari Tika Bisono. Kedua orangtuanya berperan besar dalam hal itu. TTS seakan jadi permainan wajib di kala senggang. Dengan begitu, diharapkan ia dapat mengasah pengetahuan umum sekaligus meningkatkan kecerdasan verbal sejak dini. Tak disangka, kebiasaan mengisi TTS bertahan hingga kini, bahkan turut diwariskan pula pada anak-anaknya.

Seingat Tika, ia mesti berhadapan dengan TTS pertama kalinya di majalah Selecta pada akhir 1960an. Setelahnya, mengisi TTS jadi kebiasaan rutin. Apalagi, orangtuanya kerap menjanjikan hadiah sebagai iming-iming bila Tika mampu mengerjakan soal-soal yang ada. “Biasanya, yang sulit itu pertanyaan tentang perbendaharaan bahasa, tentang kata-kata yang jarang kita dengar. Misalnya ‘tungau’ yang ternyata itu adalah sejenis kutu,” ujar Tika.

Alhasil, tanpa disadari kebiasaan itu membawa banyak manfaat dalam jejak karier Tika. Sebagai penyanyi, psikolog, dan pekerja kantoran, ia mesti fasih berkomunikasi dengan orang-orang dari berbagai latar belakang. Namun dengan kemampuan kognitif yang tinggi, Tika mampu melalui itu semua tanpa masalah berarti.

Mulanya, nama Tika mencuat lebih dahulu sebagai model dan penyanyi. Pada 1978, ia menjuarai ajang Putri Remaja Indonesia. Kemudian, ia pun sempat menelurkan beberapa album musik seperti Pagi (1987) dan Ketika Senyummu Hadir (1990). “Buat aku, berada di studio untuk menyanyi itu adalah personal me time,” ujar Tika.

Tika menyelesaikan studi di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (UI) pada 1979-1985. Setelahnya, ia bekerja di beberapa perusahaan multinasional seperti Amex, Citra Lintas, Ad Asia ’95 dan Nestle. Lalu, ia mengambil program pasca-sarjana di UI pada 2001-2004. Pada 2005, ia mendirikan lembaga konsultan sumber daya manusia, Tibis Sinergi. Kala itu, Tika berusia 45 tahun.

“Jadi dulu aku punya ‘cetak biru’ buat hidupku. Setelah lulus kuliah S1 sampai umur 30, aku ingin kerja untuk belajar, cari pengalaman. Umur 30-40, aku ingin kerja untuk pemantapan brand sebagai psikolog. Umur 40 aku berhenti kerja, semua branding process sudah selesai, lalu setelahnya membuat perusahaan sendiri. Alhamdulillah itu bisa tercapai,” kata Tika.

Di Tibis Sinergi, Tika fokus pada kerja intervensi sosial. Dalam praktik psikologi, ini berbeda dengan intervensi individu yang biasa memberi terapi pada satu klien untuk kepentingan klinis. Dengan melakukan intervensi sosial, Tika mencoba memberdayakan masyarakat. Menurutnya, di sanalah ia bisa merasakan puncak karier sebagai seorang psikolog.

Misalnya kala Tika sempat menyambangi Desa Gunung Cak di Pulau Matak, Kepulauan Riau. Saat itu masyarakat setempat belum mengenal sistem buang air di kakus dalam rumah. Di sana, Tika berusaha mengedukasi agar warga terbiasa melakukannya.

“Tapi pelakunya bukan kita, melainkan mereka. Yang akan menjalani dan ketemu dengan masalah ke depannya kan mereka. Yang akan mengembangkan tempat itu juga mereka. Kita hanya berperan sebagai konsultan,” ujar Tika. “Jadi, kita mengajarkan kepada tim yang sudah baik, nanti mereka akan mengajarkan kembali kepada teman-temannya yang belum baik. Dengan begitu mereka tidak hanya tergantung pada kita sebagai konsultan.”

Lebih lanjut, menurut Tika, praktik intervensi sosial pun bisa diterapkan kepada anak-anak untuk mengakrabkan diri mereka dengan TTS. Ia khawatir, anak-anak saat ini lebih dekat dengan ponsel ataupun beragam gadget lainnya. Bila terus begitu, seorang anak bisa jadi “robot” yang terhambat nalar dan kreativitasnya.

“Jadi, bagaimana caranya agar orangtua sekarang pun bisa meminati TTS. Dari sana, merekalah yang akan mengajarkan pada anak-anaknya. Itulah intervensi sosial,” kata Tika. “Selain itu, guru bahasa Indonesia juga wajib mengajarkan TTS kepada anak. TTS itu kan bermain dengan kata-kata, ujung-ujungnya kecerdasan verbal.”

Tak kalah penting, Tika pun merasa TTS dapat melatih anak dalam hal pemecahan permasalahan. Misalnya kala kita kesulitan mencari jawaban untuk sebuah soal, kita bisa mencari petunjuk dengan memecahkan soal lain yang jawabannya kebetulan bersinggungan.

“Pada akhirnya, yang digadang-gadang oleh TTS itu adalah nilai-nilainya. Teka-teki yang ada itu akan jadi pembelajaran untuk pembaca, ia yang akan mengisi otak dan hati kita,” ujar Tika.

 

NB: Tulisan ini pertama dimuat di buku TTS Anak Kompas (2015).

Advertisements

Menjawab Pertanyaan ala Rhenald Kasali

IMG_0007

Rhenald Kasali/Viriya Paramita

Hidup Rhenald Kasali lekat dengan perubahan. Berkali-kali mesti beradaptasi dengan situasi yang tak menguntungkan, ia selalu berhasil menemukan jalan. Layaknya bermain TTS, ia menelusuri banyak pintu untuk mendapat kunci jawaban sebuah pertanyaan sulit.

“Itu melatih daya kritis kita. Saat sebuah pintu tertutup, kita buka pintu lain satu per satu. Masalahnya, orang Indonesia sering berpikir kalau satu pintu tertutup maka hidupnya akan kiamat,” kata Rhenald.

Rhenald lahir di Jakarta, 13 Agustus 1960. Meraih gelar Sarjana Ekonomi dari Universitas Indonesia pada 1985, ia melanjutkan studi ke University of Illinois di Urbana-Champaign, Amerika Serikat, tujuh tahun berselang. Saat itulah tantangan berat datang menghadang.

Sesampainya di sana, pihak kampus mengabarkan, ada kesalahan informasi soal biaya kuliah Rhenald. Jumlahnya dua kali lebih besar dibanding yang tertera dalam surat pemberitahuan sebelumnya. Rhenald terkejut. Padahal uang yang dibawanya pas-pasan.

“Berarti kan saya harus beradaptasi lagi menghadapi situasi yang berubah itu. Saya harus mencari uang, melakukan ini-itu dan sebagainya. Persoalannya adalah kita siap atau tidak menerima kenyataan itu?” ujar Rhenald.

Namun, masalah nyatanya hanya menajamkan Rhenald untuk jadi lebih baik lagi. Tak hanya berhasil merampungkan studi masternya, ia juga memboyong keluarga dan mengambil program doktoral di kampus yang sama hingga kemudian lulus pada 1998.

Pada tahun yang sama Rhenald kembali ke Indonesia dan mulai mengembangkan konsep kewirausahaan. Ia mencoba mendorong semangat orang-orang untuk berwiraswasta, tak hanya menunggu peluang kerja. Namun setelahnya ia sadar, masalah besar justru ada di pola pikir masyarakat pada umumnya. “Persoalannya bukan ada di konsepnya, tapi di manusianya yang tidak mau berubah,” ujar Rhenald.

Lalu Rhenald menulis buku Change! pada 2005. Di situ, ia menekankan pentingnya perubahan untuk meraih kesuksesan di tengah perkembangan zaman. Butuh pengorbanan dalam prosesnya, tapi itu harus segera dilakukan saat momentum telah tiba. Ini tercermin pula pada tagline buku tersebut, “Tak peduli seberapa jauh jalan salah yang Anda jalani, putar arah sekarang juga.”

Buku itu laris di pasaran dan kini berstatus national best seller. Sebagian karya Rhenald lainnya adalah Recode Your Change DNA, Myelin dan Cracking Zone. Yang teraktual, ia menulis Self Driving yang terbit pada September 2014. Dalam buku itu, ia mendorong kita untuk jadi “pengemudi” alih-alih “penumpang” dalam menjalani hidup. Dengan begitu, kita terbiasa mandiri mencari solusi ketika menghadapi masalah.

Sejak 2009, Rhenald resmi jadi Guru Besar Ilmu Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Ia pernah empat kali jadi Panitia Seleksi Calon Pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi, dan terus bergerak sebagai praktisi manajemen. Ia bahkan mendirikan Rumah Perubahan pada 2007 untuk mengubah mental usaha dan mengangkat kesejahteraan hidup masyarakat.

Semua itu bisa terjadi karena kerja keras dan kesediaan Rhenald untuk terus belajar. Perlahan, ia selesaikan satu per satu teka-teki dalam hidupnya. Masing-masing dijalani dengan perhitungan matang. Kesalahan bisa terjadi di tengah jalan, tapi itu bukan alasan untuk berhenti berusaha.

Analoginya sama seperti mengerjakan TTS; jangan gegabah mengisi kotak-kotak kosong dengan pulpen. Bila di tengah jalan jawabannya tak sesuai dengan singgungan dari pertanyaan lainnya, kita akan kesulitan untuk pindah haluan. “Makanya dulu ayah saya mengajarkan untuk mengisi TTS menggunakan pensil,” kata Rhenald.

Dengan konsep tersebut, Rhenald bahkan tertarik membuat konsep pengajaran lewat TTS untuk mengasah metakognisi individu. Singkatnya, metakognisi adalah kecerdasan untuk menggunakan kecerdasan. Ini mencakup kebajikan, keadilan, empati sosial, rasa persatuan, kekeluargaan, hubungan jangka panjang, dan berbagai pertimbangan lain dalam kehidupan manusia. Melalui metakognisi kita bisa menerapkan kecerdasan kognitif secara tepat guna.

“Kita kasih saja TTS yang mesti dikerjakan berkelompok oleh mahasiswa. Nanti diadu siapa yang paling cepat menyelesaikannya. Isinya bisa pembahasan materi perkuliahan dari bab tertentu dalam sebuah buku,” kata Rhenald.

Menurutnya, ini bisa menajamkan otak dan melatih kerja sama tim. Rhenald memang gemar menguji para anak didiknya dengan cara-cara yang tak terduga.

Misalnya kala ia meminta 30 mahasiswa di kelasnya untuk membuat paspor. Setelahnya, ia mewajibkan masing-masing pergi ke satu negara berbeda untuk menghadapi dunia di luar zona nyaman mereka. Kisah ini tertuang dalam buku 30 Paspor di Kelas Sang Profesor yang terbit pada Oktober 2014.

Dari sana, Rhenald mengajarkan kita banyak hal. Tak hanya soal bisnis, tapi juga soal menjalani hidup dan menjawab beragam pertanyaan yang membentang sepanjang jalan.

 

NB: Tulisan ini pertama terbit di buku TTS Pilihan Kompas edisi 8.

Sepenggal Raff

“Engga boleh keenakan.”

Itulah kata-kata khas Raff yang selalu ia ucapkan dengan senyum iseng layaknya anak kecil baru saja mengutil permen dari warung. Bila sudah keluar kalimat sakti itu, saya dan teman-teman biasanya cuma bisa gemas menahan kesal dan geleng-geleng kepala.

Misalnya kala kami sedang mendengarkan musik bersama-sama di dalam mobil. Saat saya dan anak-anak lain sedang asyik-asyiknya karaoke, tiba-tiba Raff mematikan radio jelang lagu masuk ke bagian reffrain. Lalu kami akan memaki dan mengeluh berjemaah.

“Taiklah Raff!”

“Woy, Anjing!”

“Apaan sih, Raff?!”

Lalu dengan santai dia akan membalas, “Engga boleh keenakan.”

Contoh lainnya adalah saat dia begadang mengerjakan tugas kampus di Lawson. Bila sudah masuk jam-jam darurat dini hari tapi tugas belum selesai dan kantuk tak tertahankan lagi, ia akan menjejerkan dua bangku, menjulurkan kedua kaki dan memejamkan mata sesaat. Ketika saya tanya, kenapa tidak pakai tiga bangku saja agar kaki bisa lebih leluasa, ia akan menjawab, “Engga boleh keenakan.”

Di lain waktu, saya pernah datang ke rumahnya saat subuh untuk mengerjakan tugas mendesain poster seminar. Namun saya kaget betul kala melihat pintu depan rumahnya sedikit terbuka dan kunci sepeda motor masih tercantel rapi di lubangnya. Lalu saya berjalan perlahan masuk ke kamar Raff dan menemukan dia sedang tidur pulas dengan posisi menungging. Sontak saya tertawa keras. Mungkin dia capai sekali dan ingin segera istirahat setibanya di rumah. Namun agar tidak kebablasan hingga pagi, ia mencoba tidur dengan posisi se-tidak-nyaman mungkin.

rap molor nungging

Hanya Raff yang bisa/Viriya Paramita

Saya kenal Raff sejak pertengahan 2009, tepatnya di semester 1 masa perkuliahan Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Multimedia Nusantara. Dari awal gayanya agak nyentrik. Ia senang menggunakan kaus hitam dan rantai besi di celana seperti penggemar Metallica kemarin sore. Satu lagi, ia senang betul dipanggil Bank Raff.

“Pakai huruf ‘k’ ya di ‘Bank’-nya. Biar kaya bank beneran, gue bisa menyimpan banyak uang di masa depan,” kata Raff absurd.

Ayahnya asal Flores, NTT, sementara ibunya keturunan suku Jawa. Karena itu saat baru lahir dulu, ia diberi nama yang menggabungkan unsur Flores dan Jawa sekaligus. Saya lupa apa tepatnya. Kalau tidak salah, ada kata “Raden” dan “Beding” di sana. Namun, Raff kecil sakit-sakitan menyandang nama itu. Kata “orang pintar”, tidak baik menggabungkan dua unsur kesukuan jadi satu di namanya. Akhirnya ia diberi nama Flores saja: Rafael Miku Beding.

Sejak itu ia sehat luar biasa. Terlampau sehat malah. Badannya besar, suaranya keras, tidak bisa diam, dan kalau makan banyak betul. Menurut Raff, makanan yang enak adalah makanan yang banyak. Saya dan teman-teman yakin, level Raff kekenyangan itu sama dengan level orang biasa muntah-muntah. Kalau level raff muntah-muntah, lebih baik kita jangan mencobanya.

Sekilas tampangnya seperti preman Tanah Abang, tapi hatinya bisa semanis Hello Kitty. Bila ada teman membutuhkan, ia pasti akan membantu sebisa mungkin. Dulu di semester 2, dia pernah membantu saya jadi model untuk tugas esai foto kehidupan seorang gay. Di semester 3, dia juga yang menemani kala saya dan beberapa kawan harus melakukan observasi kehidupan waria di Taman Lawang untuk mata kuliah “Sistem Sosial Budaya Indonesia”.

IMG_0026

Raff (kanan) jadi model untuk tugas esai foto/Viriya Paramita

Observasi Taman Lawang (4)

Observasi ke Taman Lawang

Namun, Raff punya fobia yang aneh. Ia takut sekali dengan keju, alpukat, dan karet. Anda tidak salah membaca. Pria gempal asal Flores ini takut karet. Pernah suatu kali kami sedang berkumpul bersama di kos Rhesa untuk bermain Pro Evolution Soccer. Saat tiba giliran Raff main, saya dan teman-teman iseng bermaksud menjepretnya dengan karet dari belakang. Tiba-tiba Raff sadar dan terkejut. Mendadak mukanya ditekuk, lalu ia berkata sembari melengos keluar kos, “Ah, mainnya gitu sih.”

Raff ngambek.

Saya cuma bisa ketawa geli sembari terheran-heran melihat sikapnya itu. Padahal, Raff juga orangnya tak kalah iseng. Dulu dia pernah menginap di kos saya di daerah Kelapa Dua, Tangerang. Paginya, saya mandi dan bersiap berangkat ke kampus. Keluar dari kamar mandi, tiba-tiba dia sudah mesem-mesem sambil memegang ponselnya sendiri.

“Bagus ya, Wir?”

Saat saya perhatikan benar-benar, ternyata dia sudah menukar casing ponsel saya dengan punyanya.

“Itu kan punya gue.”

Lalu perlahan dia mendekat, dan menepukkan tangannya di bahu saya sembari berujar, “Udeeeeeh.”

Maksud kata itu kira-kira begini, “Sudahlah, Kawan. Sudahlah.”

Yang paling mengesalkan adalah, dia mengucapkannya dengan nada penuh simpati dan seakan meminta saya merelakan begitu saja.

“Terus hape gue engga pakai casing gitu?”

“Itu kan ada casing gue yang lama.”

Saat saya lihat ke meja, Raff sudah menaruh casing ponselnya di atas meja, dekat ponsel saya. Casing-nya sudah buluk dan longgar.

“Yuk, jalan ke kampus. Udah mau telat, Wir.”

“Eh, tapi…”

“Udeeeeeh.”

Memang Raff setaik itu.

Tidak hanya casing ponsel saya, dia juga pernah melakukan teknik serupa untuk gelangnya Gebi, gantungan kunci Gusti, dan flash disk Flores. Karena itu kita makin geregetan untuk mengisengi Raff balik saat ada kesempatan.

Di luar itu, Raff dikenal sebagai mahasiswa yang cukup aktif di kampus. Ia sempat bergabung dengan Teater KataK, Keluarga Besar Mahasiswa, dan majalah kampus Ultimagz. Ia juga pernah “ditumbalkan” jadi ketua panitia pameran jurnalistik Commpress pada 2012.

Percuma, 20 Agustus 2010 31

Raff (kiri) latihan pentas “Percuma” bersama Teater KataK/Lambertus Guntoro

252

Raff, saya dan Flores shooting hingga tengah malam di kampus untuk tugas bikin film pendek.

Jadi ceritanya, dulu saya punya ide untuk membuat pameran sebagai ajang unjuk gigi anak-anak jurusan jurnalistik UMN. Sebelumnya, anak-anak DKV yang sering mengadakan pameran foto dan instalasi. Bagi anak jurnalistik, saat itu belum ada wadah yang tepat untuk aktualisasi maupun berkompetisi.

Lalu saya ceritakan usul saya pada Krisna dan Jody. Mereka berdua setuju dan ikut antusias dengan ide ini. Kami pun sepakat untuk mengumpulkan beberapa anak sebagai panitia, salah satunya Raff. Saat rapat perdana, hal pertama yang perlu kami putuskan adalah pembagian peran dalam struktur panitia pameran.

“Oke, pertama kita mesti cari dulu ketua panitianya,” kata saya. “Gue usul Raff aja. Yang setuju mari angkat tangan.”

Semua peserta rapat sontak mengangkat tangan sembari mesem-mesem. Raff cengo.

“Loh kok gitu sih?! Mending pakai voting aja gimana?”

“Oke kalau Raff maunya begitu. Saya usul calon ketua kedua adalah Babang. Sekarang mari angkat tangan, siapa yang pilih Raff?”

Semua peserta rapat kembali mengangkat tangan sembari mesem-mesem. Raff makin cengo.

Saat Raff mau protes kembali, saya mendekat dan menepukkan tangan di bahunya sembari berujar, “Udeeeeeh.”

Kini selewat beberapa tahun, saya dan teman-teman masih bisa tertawa kencang sekali bila kejadian “penumbalan” itu diceritakan ulang. Raff kena batunya.

Berteman dengan Raff memang menghasilkan banyak cerita. Karena itu, saya pasti akan merindukan masa bodoh-bodohan bersama dia dan kawan-kawan. Apalagi setelah Raff memutuskan untuk pulang kampung ke Flores pada Jumat, 20 Maret 2015. Dia ingin membuat dan mengembangkan media lokal di sana bersama pacarnya, Amanda.

“Sampai berapa lama kira-kira di sana Raff?” tanya saya beberapa hari jelang keberangkatan Raff.

“Paling cepat setengah tahun deh. Doain aja.”

“Gimana kalau rencana lo gagal Raff? Lo mau ngapain nanti?”

“Engga ada Plan B, Wir. Cuma ada Plan A. Harus berhasil.”

Itulah Raff, bila sudah bertekad, tak ada yang bisa menghentikannya. Sesungguhnya, dia punya segala pilihan untuk bertahan di Jakarta, entah bergabung dengan media mainstream atau mengembangkan usaha sendiri. Namun, dia lebih memilih pulang kampung dengan segala keterbatasan di sana, dan memulai usaha dari bawah.

Dari sana, saya tiba-tiba teringat kata-kata yang dulu begitu sering diucapkannya.

“Engga boleh keenakan.”

IMG_2336,1

Saya, Raff, Amanda, dan Fenny.

Selamat jalan. Sehat-sehat di sana, Kawan.

Seto Mulyadi Menolak Pikun dengan TTS

IMG_0009

Seto Mulyadi/Viriya Paramita

Masa-masa Sekolah Dasar adalah waktu krusial bagi seorang anak. Saat itu mereka mulai belajar soal kecerdasan yang memadukan fungsi otak kiri dan otak kanan. Banyak orangtua kesulitan menerapkan metode tepat agar pertumbuhan anak berjalan lancar. Tak banyak yang tahu, teka-teki silang (TTS) bisa jadi solusinya.

Otak kiri berfungsi dalam hal-hal yang berhubungan dengan logika, rasio, kemampuan menulis dan membaca, serta merupakan pusat matematika. Bagian otak ini merupakan pengendali intelligence quotient (IQ). Daya ingat otak bagian ini juga bersifat jangka pendek.

Sementara itu otak kanan berfungsi dalam perkembangan emotional quotient (EQ). Misalnya sosialisasi, komunikasi, interaksi dengan manusia lain serta pengendalian emosi. Pada otak kanan ini pula terletak kemampuan intuitif, kemampuan merasakan, memadukan, dan ekspresi tubuh, seperti menyanyi, menari, dan melukis.

Keduanya sama-sama penting. Karena itu, senam otak dibutuhkan untuk mengoptimalkan fungsi kedua bagian otak. Psikolog anak, Seto Mulyadi, juga mengatakan hal senada. Untuk itu ia kerap mengajak keluarga bermain TTS bersama.

“Saya ramai-ramai sekeluarga suka main TTS. Apalagi saat hari ulang tahun Kompas biasanya TTS-nya besar sekali. Itu jadi santapan bersama deh,” kata Seto.

“TTS itu mempererat kekeluargaan dan melatih kerja sama. Suka terjadi juga perdebatan antara saya, istri dan anak-anak saat mencari jawaban. Tapi saat sudah ketemu jawabannya, ya sudah biasa lagi. Karena jawaban itu adalah hasil keputusan bersama.”

Seto juga menerapkan sistem keterbukaan pada keluarga. Rutin seminggu sekali di akhir pekan, ia mengajak istri dan anak-anak untuk terlibat dalam sidang umum permasalahan rumah. Saat itu mereka saling terbuka menceritakan berbagai permasalahan yang ada. Dengan begitu, tak ada lagi unek-unek mengganjal dalam hati.

Saat itu, anak-anaknya dituntut untuk berpikir cerdas dan kreatif. Untungnya anak-anak Seto telah bermain TTS sejak usia dini.

“Baiknya kita mengajak anak-anak bermain TTS saat mereka berusia tujuh hingga 12 tahun, atau saat masa SD. Mulanya saat kelas 1 atau 2 SD, kita berikan TTS dengan tingkat kesulitan lebih sederhana. Barulah saat kelas 5 dan 6 SD kasih yang lebih kompleks. Soalnya, TTS bagus untuk menajamkan otak,” kata Seto.

Menurut Seto, otak kiri anak dilatih saat berusaha mencari jawaban yang tepat. Sementara itu, otak kanan dituntut untuk kreatif kala mencari jawaban-jawaban alternatif untuk sebuah teka-teki.

“Misalnya pertanyaannya adalah nama sebuah kota di Jawa Tengah. Kota di sana kan banyak sekali. Tapi dengan melihat benturan antara kotak-kotak yang ada, serta melihat stimulasi huruf petunjuknya, kita bisa menemukan jawabannya dari sekian banyak alternatif,” ujar Seto.

Menurut Seto, senam otak sama dengan senam fisik. Misalnya bila kita jarang atau tak pernah berolahraga, maka tubuh akan terkejut ketika menghadapi sebuah reaksi yang berkaitan dengan fisik.

“Begitu juga dengan berpikir. Untuk bisa berpikir cerdas dan kreatif, kita harus melatih diri dengan melakukan senam otak. Kalau itu jadi tradisi dan kebiasaan teratur, kemampuan berpikir kita akan jadi lebih cerdas dan lentur. Ini bagus untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, entah dalam mengambil keputusan, jiwa kepemimpinan, berorganisasi, dan lainnya,” jelas Seto.

Karena itu, TTS adalah bentuk senam otak yang tepat untuk anak-anak, remaja maupun orang dewasa. Bahkan TTS juga penting bagi para manusia lanjut usia (manula). Seto yang saat ini telah berusia 63 tahun, masih rutin mengerjakan TTS agar ia tidak cepat pikun.

“Saya kan juga sudah manula. Biar tidak gampang lupa ya saya main TTS,” tegasnya.

 

NB: Tulisan ini pertama dimuat di buku TTS Ringan Kompas (2014).

Sekilas Jody

jak art space, galleria fatahillah (4) copy

Felix Jody/Viriya Paramita

Selama kira-kira empat tahun saya mengenalnya, Felix Jody identik dengan rambut gondrong. Biasanya, ia hanya potong rambut setahun sekali. Itu terjadi kala ia pulang kampung ke Batam, menyempatkan diri singgah ke tukang pangkas langganan.

Namun Jody urung melakukan “ritual” itu kala pulang ke Batam akhir September 2014. Saat saya tanya kenapa, ia menjawab, “Tukangnya udah meninggal, Bro.”

Selama ini, Jody memang orang yang sakelek akan pilihan dan jalannya. Iya berarti iya, tidak berarti tidak. Bila orang lain bisa menerima, ya bagus. Bila tidak, ya sudah.

Hal itu sudah terlihat sejak awal saya mengenalnya pada pertengahan 2010, tepatnya pada semester 4 masa perkuliahan di Universitas Multimedia Nusantara, Tangerang. Sepanjang semester, gayanya selalu sama tiap kali berjumpa: apa pun bajunya, mesti ada jaket cokelat tua yang sudah luntur warnanya jadi pelapis terluar.

Sesungguhnya ia punya dua model jaket berbeda. Jaket lainnya berwarna hitam polos. Namun, ternyata ia bergantian mengenakan kedua jaket itu masing-masing tiap satu semester penuh. Kebiasaan itu baru mulai berubah sekiranya pada semester akhir masa perkuliahan. Kala itu Jody mulai mengenal kemeja flanel atau kemeja Eiger lengan panjang dalam cara berpakaian sehari-hari.

Namun, kini rasanya seperti déjà vu. Sejak diwisuda pada akhir 2013, saya dan Jody sama-sama memulai karier sebagai jurnalis di media baru bernama The Geo Times. Saya reporter, sementara Jody jadi fotografer.

Pada awal Juni 2014, kami dikirim kantor untuk dinas ke Papua. Sebelum berangkat, Jody membeli sebuah jaket hitam anti-air keluaran Eiger (lagi). Sejak itu, sehari-hari ia hampir selalu mengenakannya saat bepergian ke luar rumah, entah liputan, cari makan, atau sekadar mengedit foto di kantor.

Penggunaan jaket sebagai perlengkapan wajib rasanya berkorelasi dengan kurangnya daya tahan Jody terhadap udara dingin. Badannya memang kurus tinggi tanpa lemak berlebih. Sering kali ketika menginap di rumah saya atau di kontrakan teman kampus, ia menggigil dan mampet hidungnya karena setelan pengatur suhu yang terlampau dingin di pagi buta.

Pernah pula saya dan teman lain singgah ke tempat kos Jody. Di dalam kamar, saya merasa udaranya panas betul.

“Lo nyalain AC enggak sih, Jod?”

“Nyalain, kok.”

Ketika saya lihat remote pengaturnya, ternyata Jody hanya menyetel suhu di angka 28 derajat celcius.

“Pantas aja. Gedein lah, Jod, AC-nya.”

Jody terpaksa menurut dan menaikkan suhu jadi 27 derajat celcius.

Kepribadiannya yang santai dan cenderung pendiam memang jadi ciri khas tersendiri. Ia tak banyak bicara, tapi kerap “menampar” sekalinya bersuara. Saya ingat betul, dalam salah satu tulisan di blog pribadinya Jody berujar, “Kita selalu berguru pada hidup yang selalu bergurau.”

Selain itu, sebagai fotografer gambar jepretannya justru kerap lebih banyak berbicara. Saya ingat kata-kata seorang redaktur foto The Jakarta Globe soal Jody. Kala itu kebetulan kami sama-sama bekerja magang di sana pada rentang Juli-September 2012.

“Jody itu sudah bisa membuat objek foto berubah jadi subjek yang bercerita sendiri pada pembacanya,” kata sang redaktur.

Tak hanya itu, gaya Jody yang spontan juga kerap memancing tawa orang-orang sekitar. Misalnya saja kala saya, Jody dan Dominiko menyambangi tempat kos Rafael di daerah Kemanggisan, Jakarta Barat. Saat itu setidaknya sudah pukul 10 malam. Niatnya, kami ingin kumpul santai; sekadar nongkrong di warung terdekat sembari bertukar obrolan melepas penat.

Lalu tiba-tiba telepon genggam Jody berbunyi.

“Oh gitu, oke gue anterin,” kata Jody dengan nada datar.

Saya dan teman-teman pun bertanya siapa yang menelepon.

“Ini si Miko (rekan kantor), kunci motornya kebawa gue.”

Sontak kami tertawa mendengar ucapan polos Jody. Alhasil, ia langsung berangkat kembali ke kantor di daerah Menteng, Jakarta Pusat, mengantarkan kunci sepeda motor Miko yang terselip di jaket Eiger-nya itu.

Lalu saya pun teringat salah satu cuitnya di media sosial Twitter beberapa waktu lalu.

“Tak perlu siap-siap. Kita tak pernah siap.”

Abdi Setiawan: Dari Padang Merebut Dunia

IMG_4970

Pameran “The Future is Here” karya Abdi Setiawan di Galeri Red Base Art, Ciputra Artpreneur, Jakarta/Felix Jody Kinarwan

Hidup Abdi Setiawan senantiasa penuh kejutan. Perkenalannya dengan dunia seni rupa dimulai dari sekadar hobi. Saat kuliah pun ia banyak bermain hingga terancam dikeluarkan. Namun, kini ia pematung bertaraf internasional. Karya-karyanya meraih apresiasi tinggi.

Abdi lahir di Sicincin, Padang Pariaman, Sumatera Barat, pada 29 Desember 1971. Meski ayahnya pemain karawitan, sejak kecil Abdi lebih suka menggambar. Ia pun masuk Sekolah Menengah Seni Rupa di Padang untuk mendalami hobinya itu. Setelah lulus, ia bimbang ke mana melanjutkan pendidikan.

“Saat itu aku tinggal dekat pasar. Di sana aku merasa pergaulannya nggak benar. Banyak orang kasar, suka minum-minum, dan sebagainya. Karena itu, aku pikir harus keluar dari sana,” kata Abdi.

Setelah berkonsultasi dengan guru SMSR, Abdi memutuskan untuk hijrah ke Yogyakarta pada 1992. Institut Seni Indonesia tujuannya. Namun ia datang tanpa banyak persiapan dan gagal tes masuk kampus itu.

Meski demikian, Abdi tak pulang kampung. Uang bekalnya terbatas. Karena itu, ia memilih tinggal di Yogyakarta sembari belajar dari para seniornya di SMSR Padang dulu. Ia mengikuti kursus bahasa Inggris, mendalami teknik dasar sketsa, dan lainnya hingga mengikuti kembali tes masuk setahun kemudian.

IMG_4816

Abdi Setiawan/Viriya Paramita

Pada 1993 Abdi resmi menjadi mahasiswa ISI. Ia mengambil jurusan seni murni, dengan fokus utama seni patung. Namun, hidup jauh dari rumah justru membuat Abdi banyak bermain dalam keseharian. Setelah tujuh tahun hidup di Yogyakarta, ia merasa belum banyak berbuat.

“Titik balik itu terjadi pada 1999. Aku lihat teman-teman ada yang sudah lulus, sudah sering pameran. Pokoknya sudah jelas hidupnya,” kata Abdi. “Mereka sudah serius berkarya, sementara aku hanya main-main saja.”

Belum lagi ia mendapat peringatan dari kampus untuk segera menyelesaikan studi. Abdi segera berefleksi. Ia mengingat kembali tujuan ke Yogyakarta. “Aku mau kuliah. Makanya, aku harus segera selesaikan kuliah.”

Abdi kemudian serius mengubah gaya hidup. Ia berhenti menenggak minuman keras. Ia segera mencari tempat kos baru dengan ingkungan yang dirasa kondusif untuk berkarya. Ia juga menepikan hobinya mengutak-atik sepeda motor. “Aku masukkan motorku ke gudang saja,” ujarnya.

Mulanya teman-temannya terkejut melihat perubahan itu. Namun mereka ikut senang dan berusaha membantu. Kala Abdi mengunjungi teman-temannya, ia sering mendapat sumbangan perkakas seadanya untuk berkarya, entah cat ataupun kayu.

Pada 2003 Abdi berhasil lulus kuliah. Setahun berselang, pada Agustus 2004 ia mengadakan pameran tunggal untuk kali pertama di Lembaga Indonesia Prancis, Yogyakarta, dengan tajuk Gairah Malam.

1353477326

Instalasi karya Abdi Setiawan berjudul “Gairah Malam”/archive.ivaa-online.org

Kala itu Abdi membuat instalasi yang menunjukkan potret kehidupan sebuah rumah bordil. Ia menggarap pameran ini dengan semangat tinggi. Ia melakukan riset lapangan dengan mendatangi beberapa lokalisasi prostitusi, baru kemudian menuangkannya dalam karya.

Ruang pameran ditutup tirai merah jambu. Saat masuk, suasana ruang tamu rumah bordil menyambut dengan sosok germo dan beberapa wanita malam. Alunan lagu dangdut dengan lirik tak senonoh mengalun. Aroma minyak wangi menyengat. Minuman keras dan majalah dewasa bertebaran memenuhi ruangan.

Pameran ini sukses mengangkat nama Abdi Setiawan. Pada 2005 karya yang sama ditampilkan dalam pameran internasional CP Biennale di Museum Bank Indonesia, Jakarta. Sejak itu Abdi melanglang buana. Ia sempat bekerja sama dengan beberapa galeri ternama dan melakukan pameran di Singapura, Australia, Hong Kong, Belanda, dan Belgia.

Yang teraktual pameran tunggalnya bertajuk The Future is Here di Galeri Red Base Art, Ciputra Artpreneur, Jakarta. Pameran selama 30 Oktober hingga 30 November ini menampilkan patung-patung yang menggambarkan perilaku anak kecil yang akrab dengan kerasnya kehidupan jalanan dewasa ini. Ada anak yang membawa pisau, bahkan menodongkan pistol ke arah anggota satuan pengamanan.

IMG_4990

Pameran “The Future is Here” karya Abdi Setiawan di Galeri Red Base Art, Ciputra Artpreneur, Jakarta/Felix Jody Kinarwan

Karya Abdi menjadi unik karena sejak awal karier ia selalu melawan “aturan main” dalam seni patung pada umumnya. Dengan bahan dasar kayu jati, ia membuat patung dengan tekstur kasar serta penggunaan warna yang kaya. Biasanya pengerjaan sebuah patung diselesaikannya selama satu hingga dua bulan.

“Dulu orang bikin patung begitu-begitu saja. Warnanya monokrom dan teksturnya halus. Aku keluar jalur dan melawan semua itu,” kata Abdi.

Namun, Abdi belum merasa puas. Ia terus menggali inovasi dan berusaha memperbaiki kelemahannya selama ini. Ia berharap suatu saat namanya tercatat dalam sejarah.

 

NB: Tulisan ini pertama dimuat di majalah The Geo Times edisi 10 November 2014.

Kejadian-kejadian Bramantyo

IMG_0107

Bramantyo Prijosusilo/Viriya Paramita

“Seniman itu punya fungsi sebagai penjaga roh sebuah bangsa, sementara raja atau pemerintah yang menjaga badannya.”

Itulah prinsip yang dipegang teguh Bramantyo Prijosusilo. Baginya, seniman harus bisa merasakan dan mengamati persoalan sekitar. Dari sana, barulah menuangkannya dalam karya. Maka, karya itu bisa membawa pesan bermakna, entah menyoal penderitaan rakyat ataupun kritik bagi kebijakan pemerintah yang berkuasa.

Sewaktu kecil, Bram memang tumbuh di masa penuh pergolakan sosial. Ia lahir pada 9 Agustus 1965 di Solo, atau kira-kira sebulan sebelum peristiwa Gerakan 30 September.

Kala itu Partai Komunis Indonesia menjadi kambing hitam. Ribuan orang yang diduga sebagai simpatisan partai ditangkap dan dibunuh begitu saja. Tak terkecuali para seniman yang tergabung dalam Lembaga Kebudayaan Rakyat di bawah naungan PKI.

“Saat itu kita mengalami kematian kultural besar-besaran,” kata Bram. “Banyak seniman rakyat dibantai. Karena itu, ada ketakutan untuk mengekspresikan diri secara seni dan kebudayaan.”

Walau lahir di Solo, orang tua Bram tinggal di Desa Sekaralas, Widodaren, Ngawi, Jawa Timur. Ia menempuh pendidikan SD hingga kelas 1 SMP di Ngawi. Setelah itu ia pindah ke Jakarta hingga lulus SMP. Kemudian Bram memutuskan masuk SMA Kolese de Britto Yogyakarta.

Lulus SMA pada 1983, Bram melanjutkan studi ke Institut Kesenian Jakarta di jurusan teater. Selang sebulan, ia merasa tak cocok dengan kondisi di sana. Ia pun memutuskan mendalami teater secara informal dengan bergabung di Bengkel Teater bentukan WS Rendra yang kala itu berbasis di Tomang, Jakarta Barat. Bram aktif di sana hingga 1987.

Dua tahun berselang Bram mulai mempelajari konsep seni kejadian dan patung sosial pada sosok seniman kontemporer Arahmaiani di Sanggar Suka Waras, Bandung.

“Seni kejadian itu memperluas kanvas atau panggung menjadi ruang dan waktu itu sendiri. Jadi, di situ seniman menghadirkan sebuah kejadian,” kata Bram.

Kemudian ia mulai mempraktikkan seni kejadian saat peralihan rezim Orde Baru ke era Reformasi. Pada awal 1999 ia melansir lukisan berjudul “Masturbasi Reformasi” yang menunjukkan manusia berkepala 10 sedang masturbasi. Lukisan itu dipajang di enam kereta kuda berisi sekumpulan anak jalanan yang ramai memainkan gamelan. Kereta kuda itu kemudian berputar mengelilingi Yogyakarta dan memancing perhatian warga.

Pada 2000 hingga 2006, Bram hijrah ke London, Inggris, dan bekerja di pasar kerajinan tangan Camden. Kala itu ia juga mengembangkan kelompok gamelan Sekar Gedogan dan sempat menggelar beberapa pentas wayang kulit di sana.

Nama Bram ramai dibicarakan media massa Indonesia pada Februari 2012. Saat itu ia membuat seni kejadian yang melibatkan anggota Majelis Mujahidin Indonesia di Bantul, Yogyakarta. Ini ia lakukan karena prihatin melihat merebaknya gejala radikalisme berbagai kelompok berlandasan agama Islam seperti MMI.

Sebelumnya Bram mengabarkan kedatangannya untuk melakukan mubahalah atau sumpah kutukan di depan markas MMI. Rencananya ia membawa kendi berisi ramuan macan kerah; ramuan bunga yang biasa digunakan untuk sesaji. Ia akan berdoa dan kemudian membanting kendi itu.

“Dengan membanting kendi itu, kita meminta keadilan dari Tuhan. Artinya cuma satu, antara aku atau kamu mati hari itu,” kata Bram memperingatkan anggota MMI.

Namun belum sempat rencana itu terlaksana, para anggota MMI mengeroyok Bram. “Mereka takut banget sama kendi itu. Saat air ramuannya tumpah, tanah yang kena air itu digali dan dibuang jauh-jauh,” ujarnya.

Aparat kepolisian mengamankan Bram dan membawanya ke Markas Polres Bantul. Meski demikian, ia puas karena berhasil menghadirkan sebuah kejadian.

Tak berhenti sampai di situ, Bram kembali menarik perhatian massa kala menikahkan seniman Ibnu Sukodok dengan Peri Rara Setyowati pada 8 Oktober 2014. Setyowati adalah danyang atau makhluk halus penjaga wilayah Sendang Marga, Ngawi.

Di sini Bram mencoba mengobati kerinduan masyarakat sekitar pada ritual adat pernikahan Kejawen. Selain itu, ia juga berusaha melakukan reinterpretasi mitos. Menurut Bram, kisah legenda di tanah Jawa selama ini kerap memunculkan sudut pandang serta nilai ajaran yang salah. Misalnya legenda Jaka Tarub yang mencuri selendang Nawang Wulan hingga sang bidadari itu tak bisa kembali ke kahyangan.

Hasilnya benar-benar di luar perkiraan dan ekspektasi. Ribuan orang datang memadati rumah Bram di Sekaralas yang menjadi tempat acara. Semua penasaran. Semua bersatu padu membentuk sebuah kejadian.

Tiap kejadian yang diangkat Bram memang kerap berada di luar jangkauan nalar. Namun, semua itu penuh dengan pesan tersirat yang datang dari kepekaan sosial tinggi. Rasanya, ia patut diapresiasi.

 

NB: Tulisan ini pertama dimuat di majalah The Geo Times edisi 10 November 2014.

Allan Nairn, Sekali Lagi

303360_620

Allan Nairn/Tempo.co

Senin, 27 Oktober 2014. Seharusnya acara dimulai 45 menit lalu, atau tepatnya pada pukul 7 malam. Beberapa kali sang pembicara dihubungi lewat telepon. “Nyasar,” katanya. Alhasil panitia acara, Eva dan Udin, memutuskan keluar gedung menunggu kedatangannya. Benar saja, tak lama sebuah sepeda motor melaju ragu. Terlihat tukang ojek dan seorang penumpang bule celingukan mencari alamat.

“Allan!” teriak Eva.

Sontak sepeda motor itu berhenti, lalu memutar balik masuk ke kompleks ruko di sebelah Jalan Seha, Kebayoran Lama. Bule itu turun, membayar jasa ojek, dan menyapa para penunggunya.

“Maaf saya terlambat,” katanya dengan bahasa Indonesia lumayan lancar.

Hari itu Allan Nairn diundang datang dalam sebuah diskusi tertutup di kantor Yayasan Pantau, bertema, “Seberapa Bersih Kabinet Jokowi?”

Beberapa jam sebelumnya Nairn baru saja mengeluarkan sebuah artikel baru di blog pribadinya. Di sana ia menuliskan hasil wawancara eksklusif dengan mantan Kepala Badan Intelijen Negara, A.M. Hendropriyono. Menurut Nairn, kala itu Hendropriyono mengaku bertanggung jawab secara garis komando dalam kasus pembunuhan aktivis hak asasi manusia, Munir Said Thalib.

Karena itu, tema diskusi berubah jadi menyoal Hendropriyono dan dugaan keterlibatan kasus pelanggaran HAM di sekitarnya. Apalagi, Hendropriyono juga kerap dikaitkan dengan kasus pembantaian di Talangsari, Lampung, pada 1989, serta kasus kekerasan di Timor Timur pada 1999.

Setelah masuk ke ruang acara, Nairn meminta waktu untuk mengambil napas sejenak. Ia pun mengisi perut sebelum “naik panggung”. Sementara itu, panitia mematikan beberapa pendingin ruangan dan membuka jendela agar sirkulasi udara tetap lancar. Alasannya, Nairn alergi debu AC. Saat berbicara di bawah terpaan angin AC, ia bisa batuk-batuk tak terhenti.

Mendengar hal ini, tak terbayang rasanya Nairn telah meliput banyak zona rawan konflik di berbagai negara selama puluhan tahun. Sebagai jurnalis lepas, tulisannya pernah dimuat di berbagai media internasional, seperti The New York Times, The Washington Post, The Nation, dan The New Republic.

Nader

Nairn lahir di Morristown, New Jersey, Amerika Serikat, pada 1956. Dalam sebuah wawancara dengan TheHarbinger.org pada April 2000, Nairn menjelaskan bagaimana semua itu bermula. Di masa SMA, Nairn mendapat kesempatan bekerja untuk Ralph Nader, seorang pengacara, penulis dan aktivis lingkungan keturunan Lebanon. Pada kemudian hari, Nader juga dikenal sebagai politisi yang sempat beberapa kali mencalonkan diri sebagai presiden Amerika Serikat.

Setelah enam tahun bekerja untuk Nader, Nairn memutuskan merantau ke Puerto Rico, negara asal sang ibunda. Kala itu, ia menemukan fakta sedikitnya 10 persen lahan di sana merupakan basis militer Amerika Serikat.

Namun, titik balik Nairn terjadi pada 1980, ketika ia berusia 24 tahun. Ia mengadu nasib ke Guatemala ketika konflik sedang pecah antara militer dan warga sipil, terutama para pelajar dan aktivis gerakan kiri.

“Saya sungguh terkejut oleh kondisi saat itu. Saya telah melakukan riset sebelumnya, tapi menyaksikan orang-orang ditembak seperti itu setiap harinya sungguh membuat saya sangat depresi dan marah,” kata Nairn.

“Maka, saya memutuskan untuk melakukan sesuatu, mengangkatnya sebagai isu penting di Amerika Serikat dengan melakukan investigasi terhadap peran Amerika Serikat. Saya sempat mewawancara para petinggi korporasi Amerika Serikat di sana. Merekalah yang menyokong pasukan pembunuh itu.”

Dari sana, Nairn mulai tertarik menyoal hubungan antara Amerika Serikat dan Indonesia. Menurutnya, telah lama Amerika Serikat menyokong perbekalan senjata dan melatih tentara Indonesia, khususnya di wilayah Timor Timur. Maka, Nairn datang langsung ke Dili pada 1991 untuk melakukan investigasi.

Pada 12 November 1991, Nairn bersama rekan jurnalis, Amy Goodman, menyaksikan langsung tragedi pembunuhan massal Santa Cruz. Kala itu para tentara menembaki ratusan aktivis pro kemerdekaan di Dili.

“Massa tak bersenjata dikepung oleh dinding pemakaman, tentara Indonesia berbaris dalam formasi, senapan M-16 mereka yang didapatkan dari Amerika Serikat telah siap, dan tanpa peringatan, tanpa provokasi, mereka menembaki kerumunan yang ada,” kata Goodman dalam artikelnya untuk Huffington Post pada Mei 2010.

Nairn dan Goodman ikut kena getahnya. Tentara memukuli mereka dengan menggunakan senapan yang sama. Tengkorak Nairn sampai retak.

“Kami selamat, tapi lebih dari 270 warga Timor Timur meninggal pada hari itu. Kami berhasil melarikan diri, dan membuat laporan soal pembunuhan massal itu,” ujar Goodman.

Nairn dilabeli sebagai “ancaman bagi keamanan nasional” dan dilarang masuk Timor Timur. Namun, dia berhasil masuk kembali beberapa kali secara ilegal dan hasil laporannya ikut meyakinkan Kongres Amerika Serikat menghentikan bantuan militer bagi Indonesia pada 1993.

Atas hal ini, kedua jurnalis itu menerima penghargaan Robert F. Kennedy Memorial First Prize untuk laporan radio mengenai Timor Timur pada 1993. Setahun berselang, Nairn juga berhasil mendapat George Polk Award untuk kategori peliputan majalah, serta meraih James Aronson Award atas tulisannya mengenai Haiti di The Nation.

Saat referendum Timor Timur pada 1999, Nairn datang kembali ke Tanah Air secara diam-diam. Namun ia tertangkap tentara. Tapi ia terus melaporkan keadaannya dengan menelepon Essential Information, lembaga non-profit berbasis di Washington bentukan Ralph Nader. Nairn pun melaporkan segala bentuk kekerasan yang dilakukan oleh tentara di sana.

Setelahnya, Nairn jarang muncul kembali di media internasional membahas Indonesia. Baru pada 2009, Democracy Now! memuat laporan terbaru Nairn soal kekerasan yang terjadi di Aceh pada waktu itu. Democracy Now! adalah sindikasi media non-profit bentukan Amy Goodman dan kawan-kawan sejak 1996.

Dalam laporannya itu, Nairn menyebut keterlibatan TNI dan Kopassus dalam kasus kekerasan terhadap aktivis Partai Aceh yang pro kemerdekaan. Sementara itu, Barack Obama yang baru terpilih jadi presiden Amerika Serikat pada 2009 juga disebut punya niatan menyokong kembali perbekalan senjata tentara Indonesia, khususnya bagi pasukan baret merah.

Prabowo

Nama Nairn baru meledak jadi perbincangan hangat media lokal Indonesia di masa jelang pemilihan presiden Juni 2014. Ia merilis hasil wawancara off the record dengan Prabowo Subianto yang dilakukan pada 2001.

Kala itu, Nairn menulis kembali di blog pribadinya banyak hal soal Prabowo. Menurutnya, Prabowo menilai Indonesia tidak siap menghadapi demokrasi. Prabowo juga ingin disebut sebagai diktator fasis dan punya kedekatan hubungan dengan militer, intelijen, serta pengusaha besar Amerika Serikat.

“Kalau ada sejarah jejak rekam jenderal yang paling jahat menyiksa orang sipil, membunuh orang sipil, itulah Prabowo. Prabowo adalah jenderal dengan rekor kejahatan terburuk. Ini serius sekali. Rakyat Indonesia harus memiliki akses terhadap informasi yang saya punya ini,” kata Nairn.

Nairn tidak membuka hasil wawancara itu pada pemilihan umum 2009. Alasannya, kala itu Prabowo maju sebagai calon wakil presiden bersama Megawati Soekarnoputri. Kemungkinannya untuk menang juga relatif lebih kecil dibanding saat maju sebagai presiden pada 2014.

Nairn merasa, inilah yang jadi alasan Hendropriyono bersedia melakukan wawancara ekslusif di rumahnya sendiri pada 16 Oktober 2014. Pada masa kampanye presiden hingga saat ini, Hendropriyono konsisten berada di kubu Joko Widodo.

“Setelah dia menerima saya masuk, Hendro memulai dengan mengatakan dia merasa ‘terhormat’ untuk menemui dan menerima saya, karena saya telah menyakiti Prabowo dalam masa kampanye,” kata Nairn dalam blognya.

“Saya membalas, saya pernah menyerang semua jenderal, termasuk dia sendiri. Hendropriyono bilang dia tahu soal hal itu, dan berkata bahwa bila dia tidak salah, saya telah menyerangnya, khususnya soalnya kasus Talangsari.”

Hendropriyono lalu membahas lebih lanjut soal kasus Talangsari. Menurutnya, wajar bila tentara menang melawan warga di sana yang kebanyakan adalah perempuan dan anak-anak. Jumlah tentara lebih banyak, sementara warga melawan dengan menggunakan senjata tradisional seperti busur dan panah.

Nairn terkejut kala Hendropriyono berujar korban meninggal dalam kejadian itu sesungguhnya melakukan aksi bunuh diri. “Tiba-tiba mereka membakar pondok-pondok mereka sendiri. Itulah yang membuat begitu banyak orang meninggal dunia,” kata Hendropriyono, ditirukan Nairn.

Nairn tak percaya begitu saja. Ia berujar, ada banyak orang bersaksi bagi Komnas HAM bahwa sekira 200 warga di sana dibunuh oleh tentara. Namun Hendropriyono membalas, mereka semua adalah saksi yang dibayar oleh lembaga seperti Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan.

Saat Nairn melakukan verifikasi langsung pada rekan-rekan di KontraS, sontak mereka tertawa. “Seperti kita punya uang saja,” kata salah satu orang KontraS itu.

Nairn juga menjelaskan lebih jauh soal keterlibatan Hendropriyono dalam kasus pembunuhan Munir. Kala itu, As’ad Said Ali berperan sebagai Wakil Kepala BIN, atau orang nomor dua setelah Hendropriyono di lembaga itu.

“Ada bukti tentang peran As’ad yang sudah keluar dalam investigasi Polri dan tim pencari fakta kasus Munir,” kata Nairn. “Dia orang nomor 2 di BIN, langsung di bawah Hendro, dan Hendro mengaku pada saya bahwa dia ada tanggung jawab komando dalam pembunuhan Munir.”

Nada bicara Hendropriyono meninggi kala Nairn menanyakan, kenapa ia tidak datang memenuhi panggilan Komnas HAM dan tim pencari fakta soal dugaan keterlibatannya dalam beberapa kasus pelanggaran HAM.

“Kalau mereka mau bicara sama saya, mereka datang ke sini, ke rumah saya. Saya tidak akan datang ke tempat mereka,” kata Hendropriyono, seperti ditirukan Nairn.

Nairn tak mau pembicaraan berputar terlalu jauh. Ia lalu menanyakan soal kesediaan Hendropriyono datang ke pengadilan kasus Talangsari. Bila benar tak bersalah, di sana Hendropriyono bisa memberikan bukti dan argumennya sendiri.

“Saya akan menghadapinya,” kata Hendropriyono. “Karena setelah apa yang sudah saya lakukan, biar bagaimana pun saya bukan binatang. Saya adalah manusia.”

Bila Hendropriyono benar mengatakan hal ini dan bersedia menempuh jalur hukum resmi, rasanya ini adalah kesempatan baik bagi pemerintahan baru Jokowi. Banyak kasus pelanggaran HAM di negara ini yang tersendat penyelesaiannya hingga kita tak punya preseden atau sebuah pijakan awal.

Nairn juga mengucapkan hal senada. Tujuannya sejak awal datang ke berbagai negara seperti Guatemala dan Indonesia sudah jelas. Ia muak dengan segala aksi pembunuhan massal yang dilakukan orang-orang berkuasa di sana. Terlebih lagi, mereka mendapat sokongan dari Amerika Serikat, negara asal Nairn.

“Saya ingin orang kuat berhenti bunuh orang sipil, di Indonesia dan terutama Amerika Serikat,” kata Nairn.

Selama ini ia memang selalu begitu. Berkunjung dari satu negara ke negara lain, menyaksikan konflik, dan melaporkannya pada publik. Banyak ancaman menyertai sepanjang perjalanan, tapi Nairn tidak pernah merasa takut.

 

NB: Tulisan ini pertama dimuat di media online GeoTimes.co.id pada 3 November 2014.

Kiprah Kodok yang Tak Kenal Lelah

IMG_0023

Ibnu Sukodok/Viriya Paramita

“Seniman tanpa karya itu omong kosong.”

Itulah prinsip yang dipegang teguh Prawoto Mangun Baskoro yang biasa disapa Kodok. Sebelumnya ia tak pernah mengira bisa bergelut dengan dunia seni. Hidupnya keras; banyak habis di jalanan. Sejak muda ia gemar mabuk-mabukan dan main perempuan. Namun setelah dunia seni menyapa, ia sontak jatuh cinta. Hidupnya perlahan menjadi lebih tertata.

Kodok lahir di Kampung Purwosari, Solo, pada 1951. Ia lupa tanggal lahirnya. Yang pasti, sejak kecil ia bercita-cita menjadi tentara. Cita-cita ini dipicu hubungan Indonesia-Malaysia yang sedang tak harmonis kala itu.

Panggilan “Kodok” datang dari teman-teman sepermainannya dulu. Sebab, saat kanak-kanak ia gemar mencari kodok, belut, ataupun lele di sekitar rumah. Dan panggilan itu bertahan hingga kini.

Kodok sempat masuk sekolah teknik negeri – kini setara sekolah menengah kejuruan – jurusan mesin, tapi keluar saat baru menginjak tahun pertama. Setelah itu ia akrab dengan kehidupan jalanan. Pada akhir 1960-an, Kodok kerap terlibat dalam berbagai kegiatan band rock Solo, Trenchem. Sebagai penggemar, ia sering membantu mereka. Entah sekadar mengangkat peralatan panggung atau tampil sebagai pemain tari ular.

Pada 1972 Kodok bergabung dengan Bengkel Teater besutan WS Rendra di Yogyakarta. Di sana ia menemukan titik balik perjalanan hidupnya. Sistem kekeluargaan yang dibangun mendiang Rendra membuat Kodok kerasan. Ia juga merasa berkembang sebagai manusia dan mampu berkarya sebagai seniman di saat yang sama.

“Namanya saja bengkel. Jadi, di bengkel itu orang yang nggak benar diperbaiki biar jadi benar,” kata Kodok. “Mas Willi ini pintar. Dia membuat kita sering ketemu sehari-hari sehingga ikatan di antara anggota semakin kuat. Hubungan kita pun lama-lama jadi mengkristal.”

Saat itu Bengkel Teater sering mengangkat isu sosial dan melancarkan kritik terhadap pemerintah Orde Baru. Karena itu, pada pertengahan 1970-an mereka mulai kesulitan tampil di muka umum. Pihak keamanan tak memberi izin tampil dengan alasan berpotensi mengganggu ketertiban.

Terhentinya aktivitas Bengkel Teater mendorong Kodok kembali ke Solo. Sejak itu ia mulai menjalani serius kegiatannya sebagai seniman batik. Ia sempat menetap di Bali untuk mencari nafkah dari usaha membatik. “Saya dulu sering bolak-balik antara Solo dan Bali. Pokoknya kalau duit saya habis, saya balik ke Bali untuk kerja lagi,” katanya.

Pada 1985 Rendra mendirikan kembali kelompok teaternya itu di Depok. Beberapa anggota senior, termasuk Kodok, dipanggil untuk bermain dalam berbagai pementasan. Apalagi, ia merupakan salah satu anggota lama yang telah dibaptis sesuai tradisi Bengkel Teater. Selayaknya Mochamad Johansyah yang mendapat “nama panggung” Sawung Jabo, Kodok juga mendapat nama baru sebagai Kodok Ibnu Sukodok.

Bersama Bengkel Teater, Kodok telah berkeliling Tanah Air. Bahkan berkelana ke Amerika Serikat dan Jepang untuk tampil di sana. Pementasan terakhir Kodok adalah Qasidah Barzanji pada 2003 di Senayan, Jakarta.

Setelah itu Kodok banyak berkarya di Solo. Sehari-hari ia tinggal di Taman Budaya Jawa Tengah, tak jauh dari kampus Institut Seni Indonesia. Karena itu, ia dekat dengan para mahasiswa ISI. Mereka akrab memanggilnya Mbah Kodok. Kodok pun gemar bermusik bersama mereka atau sekadar menghabiskan waktu.

“Saya menyanyi bukan untuk orang lain, tapi untuk diri sendiri agar saya tidak lagi merasa sepi dalam hati. Akhirnya itu jadi kebutuhan yang membuat saya tiap malam harus bernyanyi,” katanya.

Kodok bernyanyi dengan gaya sendiri yang khas. Musiknya sederhana, hanya menggunakan nada E Minor dan A. Namun selalu terselip monolog dan tawa dalam tiap aksinya, hingga terkesan seperti musikalisasi puisi.

Belum lama ini Kodok membuat gempar warga Ngawi, Jawa Timur, dan sekitarnya. Penyebabnya, pada 8 Oktober 2014 ia melangsungkan pernikahan dengan danyang atau makhluk halus bernama Rara Setyowati. Acara ini dikemas dalam bentuk seni kejadian. “Seni kejadian bukanlah bentuk seni komersial, tapi seni untuk dialami dan dibicarakan,” kata Bramantyo Prijosusilo, seniman yang menjadi fasilitator acara.

Tak disangka, ribuan warga datang memenuhi rumah Bram di Desa Sekaralas yang jadi tempat pernikahan. Kodok dan Bram setuju ada kerinduan masyarakat untuk menyaksikan kembali ritual adat pernikahan kejawen yang telah lama terkikis budaya modern. Selain itu, warga penasaran atas apa yang terjadi sebenarnya. “Ada misi kebudayaan dan misi kesenian di sini,” kata Kodok.

Apa pun bentuknya, tampaknya Kodok memang belum lelah untuk terus berkarya.

 

NB: Tulisan ini pertama kali terbit di majalah The Geo Times edisi 20 Oktober 2014.

Merebut Hidup ala Melli Darsa

IMG_7878

Melli Darsa/Andrey Gromico

Sejak kecil Melli Nuraini Darsa gemar bermusik. Apalagi mendiang ayahnya, Irawan Darsa, adalah penggila musik jazz dan klasik. Maka wajar, saat bangku Sekolah Dasar ia telah keranjingan bermain piano.

Salah satu teman main di kompleks perumahan Deplu, Dian Hadipranowo, senang betul menyaksikannya ‘manggung’ kala itu. Dian belum semahir Melli. Sehingga ia berulang kali berdecak kagum melihat jemari Melli menari. “Kamu pintar banget mainnya,” ujar Melli menirukan kata-kata tetangganya itu.

Namun hidup memang tak terduga. Keduanya anak diplomat, hingga harus hidup berpindah-pindah tempat. Saat kelas 5 SD, Melli kembali melanglang buana ke Amerika Serikat dan Swiss mengikuti garis kerja sang ayah. Sementara itu, Dian hijrah ke Rusia dan menekuni musik lebih dalam di sana. Saat dewasa, Dian sukses jadi penata musik ternama. Kini ia lebih dikenal dengan panggilan Dian HP.

“Jadi, hidup itu lucu,” ujar Melli sembari berefleksi. “Semua punya jalannya masing-masing.”

Namun Melli tak menyesal urung jadi musisi. Kini ia adalah salah satu pengacara korporat tersukses di Indonesia. Firma hukumnya bisa meraup pemasukan miliaran rupiah per bulan. Meski demikian, jalan yang harus dilewati tak semudah kisah-kisah dalam mimpi.

Semua berjalan dengan baik hingga Melli masuk Georgetown University di Amerika Serikat. Kala itu ia mengambil jurusan Foreign Services, dan berada di jalur yang tepat mengikuti jejak sang ayah untuk jadi diplomat. Titik balik terjadi pada Oktober 1984. Sang ayah meninggal dunia dua bulan jelang ulang tahun Melli ke-18.

Kehidupannya berubah 180 derajat. Melli pilih putus kuliah. Ia pulang kampung dan segera mencari kerja untuk meringankan beban sang ibu. Ia mesti kembali beradaptasi. Dari hidup serba ada, kini Melli hidup seadanya.

Psikolog asal Universitas Indonesia, Rose Mini, sepakat bahwa ini adalah tantangan berat dalam proses tumbuh kembang anak. “Kalau dalam bahasa psikologi, ia kehilangan significant other, orang yang sangat berperan dalam kehidupan dan mengerti sekali tentang anak tersebut,” kata Rose.

Karena kehilangan figur penting dalam hidup, seorang anak harus bisa mencari dan membangun ulang semangatnya sendiri. Saat itu, terkadang anak terpaksa dewasa sebelum waktunya. “Bila ia punya konsep diri serta kepercayaan diri yang bagus, pengalaman ini bisa jadi modal sukses ke depannya,” kata Rose.

Namun bila yang terjadi sebaliknya, perkembangan anak justru bisa menurun drastis. Pengalaman pahit mengikis semangat anak hingga ia putus sekolah, terlibat pergaulan yang salah, dan sebagainya. Untungnya, Melli mampu bertahan melewati fase ini.

Dengan kemampuan bahasa Inggris di atas rata-rata, Melli melamar kerja di Lembaga Penelitian Pendidikan Penerapan Ekonomi dan Sosial. Di sana, ia bekerja sebagai editor untuk lembaga penerbitan asing selama enam bulan. Lembaga Bantuan Hukum juga terlibat dalam proyek itu. Inilah yang membawanya pada perkenalan dengan para aktivis pejuang reformasi.

“Saat itu saya coba berintegrasi dengan kehidupan yang ada,” kata Melli. “Saya merasa negara ini tak seperti apa yang saya pikirkan sebelumnya. Saya jadi suka berdiskusi dengan para intelektual yang suka ngumpul di situ sehari-harinya.”

Pergaulan dengan para aktivis dan pejuang reformasi perlahan membentuk pola pikir Melli. Ia jadi lebih peka terhadap masalah sosial yang dihadapi masyarakat. Kala itu ia kerap bertukar pikiran dengan tokoh-tokoh intelektual seperti Gus Dur, Yap Thiam Hien dan Adnan Buyung Nasution.

Karena itu Melli jadi tertarik untuk mendalami bidang hukum lebih jauh. Pada 1985, ia resmi masuk Fakultas Hukum UI. Di sana ia mengambil jurusan Hukum Tata Negara.

“Jurusan itu dulu sangat tidak populer. Orang-orang mikir saya ambil itu karena saya tidak mampu mengerjakan yang lain. Padahal, saya memang tidak suka kelas lainnya karena kesannya seperti hanya menghafal mati,” kata Melli.

“Sekolah hukum seharusnya mempelajari soal filosofi hukum, bukan belajar peraturan perundang-undangan. Jadi mereka seolah hanya menghafal pasal, letterlijk dan tidak mengerti sebenarnya maksudnya apa. Kalau misalnya nanti pasalnya tidak berjalan, mereka jadi tidak mengerti kenapa.”

Melli memang menganggap pendidikan sebagai bekal yang sangat penting dalam kehidupan. Dengan belajar hukum, ia tidak sekadar berharap untuk bisa lulus dan mendapat pekerjaan yang baik di masa depan. Ia merasa punya tanggung jawab untuk mengembangkan ilmunya dan mengaplikasikannya bagi masyarakat luas.

Pada 1990, Melli lulus dari UI. Di tahun yang sama, ia menikah. Kemudian, kariernya terus meningkat. Sembari kuliah di UI, Melli tetap bekerja untuk LBH Jakarta. Ia juga sempat kerja magang di Amir Syamsuddin & Associates. Setelahnya, barulah ia bergabung dengan firma hukum ternama, Makarim & Taira S.

Melihat kinerjanya yang baik, atasannya, Nono Anwar Makarim, menyarankan Melli untuk mendaftar di Harvard Law School, Amerika Serikat. Biaya sekolah yang ada rencananya akan dibiayai sepenuhnya. Namun, janji itu menguap begitu saja. Padahal Melli kadung diterima di Harvard. Dilema besar ia hadapi. Apalagi anaknya kala itu masih bayi.

Sempat ragu, semangat Melli membubung kembali mendengar nasihat Charles Himawan, Guru Besar Ilmu Hukum UI. “Intinya dia bilang sama saya, ‘Kalau kamu sudah diterima di Harvard dan kamu tidak pergi, kamu bego banget.’ Kamu harus mencari uang untuk berangkat ke sana bagaimana pun caranya,” ujar Melli.

Menurut Charles, apa yang Melli lakukan adalah pengorbanan untuk keluarga. Dari situ, Melli perlahan bisa memantapkan pilihan. Ia tak lagi mengindahkan omongan banyak orang yang menyebutnya egois dan terlampau ambisius. Ia segera meminjam uang dari teman-teman serta kerabat dekat sebagai modalnya melanjutkan studi dan berangkat pada 1993.

“Tanpa mendengar omongan orang lain, saya juga sudah merasa tidak nyaman sendiri. Sebagai seorang ibu, punya anak masih kecil, itu rasanya sangat berat. Apalagi saya juga harus pinjam uang sana-sini, kesannya maksa banget,” kata Melli.

“Cuma dalam hidup ini, kita harus tahu saat mendapat kesempatan emas, kita tidak boleh menyia-nyiakan. Pada akhirnya saya malah merasa kejadian dulu adalah hal yang bagus. Karena saya tak pernah mendapat pendidikan secara cuma-cuma. Saya berjuang untuk itu.”

IMG_7778

Melli Darsa/Andrey Gromico

Dari sudut pandang psikologi, Rose juga mengamini. Menurutnya, ini adalah keputusan yang berat untuk Melli jalani.

“Orang-orang di sekeliling kita juga harus dipersiapkan sebelum ditinggal pergi. Kita harus melihat bahwa keputusan kita ini berimbas pada banyak orang. Kalau orang-orang terdekat mengatakan tidak apa-apa dan menerima dengan baik, itu tak akan jadi masalah,” jelas Rose.

Namun bila Melli terlalu memaksakan diri tanpa memedulikan sekitar, akan ada beban besar menemani dan menghambat perjalanan studinya. Untuk itu, Melli menitipkan anaknya pada sang ibu. Suami tetap bekerja sembari rutin menengok anak di tempat mertua.

Setahun berselang, Melli lulus dari Harvard. Setelahnya ia memboyong anak dan ibunya ke Amerika Serikat sembari bekerja untuk firma hukum Wilmer, Cutler & Pickering. Tak lama, ia kembali ke Tanah Air dan bergabung dengan Hadiputranto, Hadinoto & Partners. Melli sempat menjabat sebagai International Partner sebelum memutuskan keluar dari sana karena perbedaan prinsip.

Pada 2002, ia mendirikan firma hukumnya sendiri bernama Melli Darsa & Co. Sejak itu, kariernya kian melesat sebagai pengacara korporat. Kiprahnya mulai diperhitungkan setelah berhasil menangani klien-klien besar dalam sektor pasar modal, akuisisi maupun merger.

Kini Melli hampir berusia setengah abad. Kedua anak laki-lakinya mulai beranjak dewasa. Pradhana Abhimantra telah berusia 22 tahun, sementara adiknya, Andhika Abhiyantara berusia 14 tahun.

“Saya harus memahami anak-anak saya sebagai individu dengan sifatnya masing-masing. Saya juga merasa tidak benar kalau terlalu memaksakan sesuatu tanpa mereka menyadari sendiri untuk melakukannya,” kata Melli.

Melli menilai, memiliki anak merupakan anugerah dari Tuhan yang patut disyukuri. Selama ini, kehadiran mereka selalu mengingatkan Melli tentang pentingnya hidup. Karena itu, menurutnya membesarkan anak merupakan ibadah. “Mereka juga akan menjaga saya nantinya,” kata Melli.

Tak hanya anak, ia juga menganggap seluruh karyawan yang bekerja padanya merupakan titipan dari Tuhan. Untuk itu, ia berusaha menjaga serta terus mendorong mereka untuk berkarier setinggi mungkin.

Dalam dunia kerja, Melli melihat perempuan masih kerap terjebak stereotip yang melemahkan posisinya, entah dari diri sendiri maupun publik secara umum. Misal, ketika rapat direksi perempuan hanya dianggap pendamping yang tak berkontribusi signifikan.

Karena itu, Melli berpesan kepada karyawannya di kantor – terutama perempuan – agar senantiasa aktif ketika berada di forum umum. Bila tidak, potensi mereka akan tersia. Padahal, kebanyakan dari mereka berlatar belakang pendidikan tinggi. “Mereka punya masa depan yang amat cemerlang,” ujar Melli.

Namun, secara umum Melli melihat telah ada kesetaraan gender di dunia hukum Indonesia. Siapa pun bisa mengejar prestasi tinggi tanpa terkecuali. Ini berbeda dengan kondisi perempuan di luar, terutama pada kelas masyarakat menengah ke bawah. Kesenjangan untuk mendapat akses pendidikan ataupun kesehatan masih memprihatinkan.

Karena itu Melli merasa punya tanggung jawab untuk memberi kembali pada publik. Tak hanya soal memperjuangkan hak perempuan, tapi juga mendorong kehidupan lebih sejahtera pada mereka yang membutuhkan.

“Kalau memang ada peluang, saya ingin masuk ke bidang yang bisa memengaruhi keputusan. Saya lebih senang masuk ke bidang yang proses seleksinya terbuka sehingga kita bisa menunjukkan kapabilitas di situ,” ujar Melli.

Ini juga yang mendorong Melli untuk mengikuti seleksi calon anggota Komisi Pemberantasan Korupsi pada 2010. Ia berhasil jadi satu-satunya calon perempuan yang bertahan hingga tahap-tahap akhir. Kala itu, ia kalah oleh Bambang Widjojanto dan Busyro Muqoddas yang dipilih panitia seleksi untuk dikirim ke Dewan Perwakilan Rakyat.

MeliDharsa260810-1

Melli Darsa saat menjawab pertanyaan panitia seleksi calon pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi di Kementerian Hukum dan HAM (26/8/2010)/Antara Foto

Walau begitu, hasratnya tak surut begitu saja. Melli berharap suatu hari nanti bisa berkiprah sebagai hakim di Mahkamah Konstitusi maupun Mahkamah Agung. “Perkembangan karier seorang pengacara itu memang seharusnya dimulai dari hal praktis, lalu berakhir jadi hakim dengan kedewasaan yang telah ia dapat dari bekerja selama bertahun-tahun,” kata Melli.

Di sela kesibukannya, kini Melli masih gemar bermain piano. Ia merasa jadi pribadi yang berbeda saat musik telah merasuki jiwa. “Saat itulah saya merasa stres saya hilang. Bisa dikatakan, musik adalah cinta pertama saya,” katanya.

Dalam alunan nada yang ia mainkan, mungkin Melli bisa rehat sejenak dari padatnya aktivitas sehari-hari. Selama ini ia telah berusaha keras, tapi rasanya perjuangannya belum tuntas. Prinsipnya, ia selalu berusaha menjalani setiap hari semaksimal mungkin.

“Yang penting adalah, kita berusaha menjadikan setiap hari jadi bermanfaat, jadi hari yang lebih baik dari kemarin,” tegas Melli.

 

NB: Tulisan ini dibuat dengan bantuan Dika Irawan dan pertama kali terbit untuk media online GeoTimes.co.id pada 22 Oktober 2014.